Data yang dihimpun dari lima daerah menunjukkan sedikitnya 1.035 orang mengalami gangguan kesehatan dalam rentang 1–2 September 2026. Namun, angka nasional belum diumumkan pemerintah dan penyebab seluruh kejadian masih menunggu pemeriksaan laboratorium.
Dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis pada awal September 2026 tidak hanya terjadi di Sidoarjo.
Ketika ratusan santri dan siswa di Kabupaten Sidoarjo masih menjalani penanganan, laporan serupa muncul dari Kabupaten Agam, Nganjuk, Sleman, hingga Bener Meriah.
Data pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan yang dihimpun hingga Kamis pagi, 3 September 2026, menunjukkan sedikitnya 1.035 orang mengalami gangguan kesehatan dalam lima klaster di empat provinsi.
Jumlah itu berasal dari 592 korban di Sidoarjo, 334 orang di Agam, 64 siswa di Nganjuk, sedikitnya 29 orang di Sleman, dan 16 siswa di Bener Meriah.
Angka tersebut bukan rekapitulasi resmi nasional dari Badan Gizi Nasional. Jumlah 1.035 merupakan hasil penjumlahan laporan terbaru pemerintah daerah, dinas kesehatan, dinas pendidikan, kecamatan, dan fasilitas kesehatan di masing-masing wilayah.
Cakupan datanya juga tidak sepenuhnya seragam. Sebagian daerah menghitung seluruh orang yang melaporkan gejala, sedangkan daerah lain baru mencatat mereka yang datang atau dibawa ke fasilitas kesehatan.
Karena itu, angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai jumlah minimum orang terdampak, bukan jumlah pasien rawat inap ataupun jumlah kasus yang telah dipastikan secara medis sebagai keracunan akibat MBG.
Sidoarjo Menjadi Klaster Terbesar
Klaster terbesar terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo memperbarui jumlah korban menjadi 592 orang hingga Rabu malam, 2 September 2026. Mereka mengalami mual, sakit perut, muntah, diare, dan lemas setelah menyantap menu MBG yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Dari 592 pasien tersebut, sebanyak 79 orang masih menjalani rawat inap, 494 telah keluar dari rumah sakit, dan 19 lainnya masih diobservasi dalam pembaruan Dinas Kesehatan pada Rabu malam.
Jumlah itu meningkat bertahap dari laporan awal sebanyak 293 orang pada Selasa malam, kemudian 500 orang, 512 orang, 566 orang, hingga akhirnya mencapai 592 pasien.
Perubahan angka menunjukkan bahwa gejala tidak muncul serentak. Sebagian santri mulai mengeluhkan sakit setelah salat Asar pada Selasa, sedangkan korban lain baru mengalami mual, muntah, dan diare pada malam hari atau Rabu pagi.
Menu MBG tersebut diproduksi sejak tengah malam dan mulai dikirim sekitar pukul 11.00 WIB. Di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, makanan baru dibagikan sekitar pukul 13.00 WIB.
SPPG Kalitengah memproduksi sekitar 2.800 porsi per hari. Sebanyak 1.000 porsi dikirim ke Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, sedangkan sisanya didistribusikan ke lembaga pendidikan lain.
Pemerintah sebelumnya menyebut 19 lembaga menerima makanan dari SPPG yang sama. Pendataan Dinas Pendidikan Sidoarjo kemudian menemukan korban bergejala dari sedikitnya delapan lembaga, mulai kelompok bermain, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga pesantren.
BGN menjatuhkan sanksi penghentian sementara kategori berat selama 30 hari terhadap SPPG Kalitengah. Kepala SPPG tersebut juga diusulkan untuk dicopot.
Namun, penyebab medis kejadian belum dipastikan. Sampel makanan masih diperiksa Dinas Kesehatan, Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya, BPOM, dan Laboratorium Forensik Polri.
Sebanyak 334 Orang Terdampak di Agam
Pada saat penanganan korban di Sidoarjo berlangsung, pendataan di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menemukan 334 orang mengalami keluhan kesehatan.
Mereka terdiri atas 273 siswa sekolah dasar, 19 guru sekolah dasar, 40 siswa SMP Negeri 1 Palupuh, dan dua guru SMP.
Keluhan mulai dirasakan sebagian korban pada Selasa, 1 September 2026, kemudian meningkat pada Rabu. Gejala yang dilaporkan antara lain sakit kepala, pusing, demam, mual, muntah, sakit perut, dan diare.
Perubahan data di Agam juga terjadi secara bertahap. Dinas Kesehatan awalnya mencatat 146 orang yang mendapatkan pertolongan di puskesmas dan puskesmas pembantu. Jumlah itu kemudian naik menjadi 237 orang sebelum tim gabungan pemerintah kecamatan mencatat 334 orang terdampak.
Perbedaan tersebut muncul karena angka awal Dinas Kesehatan berfokus pada korban yang mendapatkan pelayanan medis. Sementara pendataan pemerintah kecamatan dilakukan dengan menelusuri sekolah dan wilayah penerima makanan.
Mayoritas korban mendapatkan penanganan di Puskesmas Palupuh, Puskesmas Koto Rantang, dan sejumlah puskesmas pembantu. Sedikitnya dua korban dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi.
Makanan diduga berasal dari SPPG Pasia Laweh di Kecamatan Palupuh. Pemerintah Kabupaten Agam menghentikan sementara operasional dapur tersebut, sedangkan Dinas Kesehatan dan BPOM memeriksa sampel makanan.
Penyebab gangguan kesehatan belum diumumkan.
Korban Nganjuk Bertambah Menjadi 64 Siswa
Klaster berikutnya muncul di SMAN 3 Nganjuk, Jawa Timur, pada Rabu, 2 September 2026.
Data awal Pemerintah Kabupaten Nganjuk mencatat 49 orang mengalami mual dan muntah. Angka itu kemudian naik menjadi 58 siswa dan kembali bertambah menjadi 64 siswa pada Rabu malam.
Pembaruan tersebut disampaikan Ketua Satuan Tugas MBG Jawa Timur sekaligus Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.
Dari 64 siswa, sebanyak 53 masih mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan dan 11 lainnya telah diperbolehkan pulang.
Sebanyak 22 siswa ditangani di RSUD Nganjuk, 24 di RS Bhayangkara, empat di RSI Nganjuk, serta tiga lainnya di Puskesmas Wilangan.
Mereka menyantap MBG sekitar pukul 10.00 WIB. Beberapa jam kemudian, para siswa mulai mengalami mual, pusing, dan muntah.
Menu yang disajikan terdiri atas nasi goreng, ayam suwir, telur dadar iris, tahu bulat, acar timun dan wortel, serta semangka. Makanan tersebut diproduksi SPPG Nganjuk Begadung 2.
Pemerintah belum memastikan bagian makanan yang diduga memicu gangguan kesehatan. Sekolah diminta berkoordinasi dengan SPPG, sedangkan BGN didorong mengevaluasi dapur penyedia makanan.
Klaster Sleman Berawal dari Makanan Sehari Sebelumnya
Di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sedikitnya 29 orang teridentifikasi mengalami gejala setelah mengonsumsi MBG.
Klaster ini memiliki rangkaian waktu yang berbeda. Makanan dikonsumsi pada Senin, 31 Agustus 2026, tetapi keluhan baru mulai muncul pada malam Selasa, 1 September 2026.
Kasus pertama diketahui setelah seorang siswa SD Negeri Nyaen 2 dibawa ke puskesmas untuk menjalani rawat jalan.
Dinas Kesehatan kemudian melakukan penelusuran menggunakan formulir daring. Hasilnya, 28 orang lainnya dilaporkan mengalami gejala ringan.
Mereka terdiri atas 25 siswa dan satu tenaga pendidik di SD Nyaen serta dua siswa TK Keluarga. Seluruhnya tetap mengikuti kegiatan sekolah karena gejala yang dialami tergolong ringan.
Penelusuran juga menemukan laporan siswa bergejala di SMAN 2 Sleman dan YPKK. Namun, jumlah dari kedua sekolah tersebut belum selesai ditabulasi.
Artinya, angka 29 orang di Sleman masih merupakan jumlah minimum dan berpotensi bertambah.
Operasional SPPG yang memasok makanan dihentikan sementara selama proses penelusuran berlangsung.
Enam Belas Siswa Dirawat di Bener Meriah
Kasus lain terjadi di Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Sebanyak 16 siswa sekolah dasar dibawa ke Puskesmas Lampahan setelah mengalami sakit perut, mual, pusing, muntah, dan gatal-gatal seusai menyantap MBG pada Rabu siang.
Kepala Dinas Kesehatan Bener Meriah Riswandika Putra mengatakan enam siswa telah diperbolehkan pulang, sedangkan 10 lainnya masih menjalani perawatan dalam pembaruan terakhir.
Seluruh korban dapat ditangani di puskesmas dan tidak ada yang dirujuk ke rumah sakit.
Puskesmas dan Dinas Kesehatan belum memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.

Mengapa Totalnya Menjadi 1.035 Orang?
Jumlah minimum 1.035 orang diperoleh dengan menjumlahkan data terbaru dari lima klaster: 592 korban di Sidoarjo, 334 di Agam, 64 di Nganjuk, 29 di Sleman, dan 16 di Bener Meriah.
Namun, terdapat batasan waktu yang perlu dijelaskan.
Sebanyak 29 orang dalam klaster Sleman mengonsumsi MBG pada 31 Agustus, tetapi mulai mengalami gejala pada 1 September. Jika penghitungan hanya memasukkan makanan yang dikonsumsi pada 1–2 September, jumlahnya menjadi sekurang-kurangnya 1.006 orang.
Klaster Sleman tetap relevan dimasukkan karena kejadian dan penelusuran medisnya berlangsung dalam periode 1–2 September.
Dua klaster terbesar, Sidoarjo dan Agam, mencakup 926 orang atau hampir 90 persen dari keseluruhan korban yang berhasil dihimpun.
Belum ada korban meninggal yang dilaporkan dari kelima klaster tersebut.
Data Pusat dan Daerah Belum Berjalan Bersamaan
Perubahan angka dalam hitungan jam memperlihatkan persoalan lain dalam penanganan insiden keamanan pangan MBG: belum adanya satu sistem data nasional terbuka yang memperbarui jumlah korban secara serentak.
BGN, misalnya, masih menggunakan angka 512 korban ketika Pemerintah Kabupaten Sidoarjo telah mencatat lebih dari 566 orang. Pada pembaruan berikutnya, Dinas Kesehatan Sidoarjo menaikkan angka kumulatif menjadi 592 pasien.
Perbedaan serupa terjadi di Agam. Dinas Kesehatan mencatat jumlah orang yang mendapatkan pelayanan medis, sedangkan pemerintah kecamatan menghitung lebih luas melalui penelusuran ke sekolah dan masyarakat.
Status korban juga kerap tercampur antara orang yang melaporkan gejala, pasien yang datang ke fasilitas kesehatan, pasien yang diobservasi, dan pasien yang harus menjalani rawat inap.
Karena itu, angka 1.035 tidak boleh dimaknai sebagai 1.035 orang dirawat di rumah sakit. Angka tersebut menggambarkan jumlah kumulatif orang yang dilaporkan mengalami gejala atau mendapatkan penanganan dalam lima klaster.
Yang dapat dipastikan sampai Kamis pagi adalah bahwa gangguan kesehatan muncul hampir bersamaan di lima kabupaten dan melibatkan lebih dari seribu penerima manfaat.
Yang belum dapat dipastikan adalah penyebab ilmiahnya.
Selama hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar, seluruh kejadian tersebut harus tetap disebut sebagai dugaan keracunan atau gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG. Kesamaan waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala merupakan dasar investigasi, tetapi belum menjadi bukti laboratorium mengenai sumber kontaminasi ataupun pihak yang bertanggung jawab.***