Politik

Panitia Muktamar NU Menepis Isu Intervensi di Tengah Kejanggalan Karantina Peserta

Panitia Muktamar NU Menepis Isu Intervensi di Tengah Kejanggalan Karantina Peserta
Ilustrasi penutupan akses jurnalis di Asrama Haji Sukolilo di tengah dugaan karantina peserta dan isu penculikan. - AI Generate

Ketua Panitia Pusat menepis tuduhan intervensi saat meninjau Tambakberas, namun penjagaan tertutup di Asrama Haji Sukolilo justru menyisakan teka-teki mengenai transparansi perhelatan. Keterangan resmi disandingkan dengan celah prosedural yang belum terjawab utuh.

Satu hari menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ribuan peserta memadati Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Namun, petugas membatasi akses peliputan bagi jurnalis secara ketat.

Pemuda berseragam batik dan berkopiah hitam melakukan pemeriksaan detail di pintu gerbang. Mereka menanyakan asal cabang setiap muktamirin sebelum mengizinkan rombongan memasuki area.

Tim jurnalis mendatangi area lobi untuk meliput situasi. Petugas keamanan lekas mendatangi awak media dan mengusir jurnalis dari lokasi transit tersebut.

Panitia bahkan menyembunyikan lembaran registrasi saat menyadari kehadiran wartawan. Seorang petugas menegaskan bahwa area tersebut disterilkan dari aktivitas peliputan.

Petugas itu mengarahkan wartawan untuk meliput langsung di lokasi utama keesokan harinya. Tindakan ini menyoroti kejanggalan dalam sistem kepanitiaan pusat.

Akses Peliputan Ditutup, Fasilitas Transit Disiapkan Mendadak

Pihak jurnalis mempertanyakan alasan di balik isolasi mendadak tersebut. Sebelumnya, panitia dilaporkan tidak menyediakan fasilitas transit maupun jasa penjemputan peserta menuju asrama.

Para peserta seharusnya mendatangi lokasi utama di Jombang secara langsung. Namun, panitia menyiapkan fasilitas akomodasi di Sukolilo secara mendadak.

Perubahan ini memunculkan dugaan mengenai proses karantina yang diinisiasi oleh salah satu calon Ketua Umum PBNU. Karantina tertutup ini diduga memicu penerapan penjagaan yang sangat represif.

Panitia tidak mengizinkan peserta menghubungi pihak luar mengenai agenda yang dibahas. Wartawan mencoba membongkar misteri di balik aktivitas yang ditutupi tersebut.

Dugaan Pengondisian Peserta dan Pengerahan Aparat

Publik juga menyoroti dugaan penculikan dan pengondisian peserta asal Bojonegoro dan Babat Lamongan yang melibatkan penguasa. Ketua Panitia Pusat Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, merespons rentetan tuduhan tersebut secara santai.

Gus Ipul menanggapi isu tersebut saat meninjau kesiapan lokasi di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas pada Selasa, 25 Agustus 2026. Ia menilai dinamika semacam itu lazim menyertai setiap perhelatan muktamar.

"Biasa-biasa saja, enggak ada yang istimewa. Setiap Muktamar juga ada isu-isu seperti itu," ungkap Gus Ipul.

Pernyataan ini disandingkan dengan temuan percakapan daring yang menyiratkan pengerahan oknum aparat. Gus Ipul meminta publik untuk tidak merumuskan spekulasi secara berlebihan.

"Ya itu bisa benar, bisa tidak benar. Tapi percayalah bahwa peserta Muktamar ini adalah pengurus-pengurus yang terlatih, pengurus yang paham, pengurus yang bisa memilah dan memilih mana yang benar mana yang enggak benar. Percayakan saja sama beliau," katanya.

Ia meyakini para delegasi memiliki kapasitas untuk membedakan informasi secara mandiri. Meskipun demikian, rincian mengenai aktor yang diduga menjemput paksa peserta itu masih belum diungkap ke publik.

Gus Ipul Pastikan Tidak Ada Intervensi

Gus Ipul juga menepis tuduhan yang menyebutkan adanya intervensi dari pihak-pihak tertentu yang mencoba memengaruhi jalannya forum. Ia menjamin perhelatan ini akan dijalankan secara independen.

"Tidak ada, saya pastikan tidak ada intervensi. Saya pastikan tidak ada intervensi," tegas sosok yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU tersebut.

Ia memaklumi tingginya atensi berbagai pihak karena NU merupakan organisasi berskala besar. Banyak pihak disebut menginginkan kesempatan untuk memberikan kontribusi.

"Tapi kita tahu NU ini adalah besar dan tentu banyak yang ingin terlibat, ingin berkontribusi. Tapi kita juga tahu bahwa NU selalu bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik," pungkasnya. Batas antara kontribusi dan intervensi ini patut dipertanyakan.

Dua Lokasi dan Keganjilan Jadwal Panitia

Pernyataan resmi itu justru menyingkap sebuah keganjilan prosedural dalam jadwal panitia pusat. Gus Ipul dikabarkan meninjau Tambakberas pada hari Selasa, namun informasi lain menyebutkan ia juga mengadakan pertemuan tertutup di Asrama Haji Sukolilo pada hari yang sama.

Kehadiran panitia di Sukolilo memperkuat wacana pemindahan lokasi secara sepihak. Padahal, pihak Tambakberas menegaskan bahwa persiapan arena resmi sudah dirampungkan hingga mencapai 100 persen.

PBNU belum memberikan penjelasan definitif mengenai status Sukolilo sebagai lokasi karantina atau lokasi pengganti. Absennya transparansi ini terus memicu tanda tanya di tengah klaim independensi panitia.

Gus Ipul sudah memastikan tidak ada intervensi dari pihak luar, yang belum dipastikan adalah alasan panitia internal menutup rapat akses informasi di asrama transit. Jika peserta dinilai sudah cukup terlatih untuk memilah kebenaran, mengapa mereka harus dikarantina dari pertanyaan publik?***