Klaim keterlibatan istana dalam bursa Ketua Umum PBNU memicu gelombang penolakan keras. Manuver Kiai Ma'ruf Amin yang merapat ke kubu Yahya Staquf menyingkap celah strategi kubu Saifullah Yusuf yang makin kehilangan jangkar kiai sepuh.
Arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, menyajikan pertarungan sengit antara Saifullah Yusuf dan Yahya Staquf. Klaim sepihak mengenai "paket istana" kini dipertanyakan setelah gelombang penolakan disuarakan oleh barisan kiai sepuh.
Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, memainkan narasi "paket istana". Narasi ini dirancang untuk menavigasi bursa pemilihan Ketua Umum dan Rais Aam.
Namun, skenario ini meninggalkan sejumlah kejanggalan. Publik NU menyoroti isu pembagian "uang tanda jadi" (down payment) dalam sebuah pertemuan di Palembang.
Praktik ini dipersoalkan karena dinilai mencoba menentukan komposisi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) secara transaksional. Langkah ini justru melahirkan resistensi luas.
Membongkar Manuver Kiai Sepuh dan Rekam Jejak KMA
Kubu Yahya tidak mendiamkan hal ini. Mereka meluncurkan serangan balik dengan menggandeng Kiai Ma'ruf Amin (KMA).
KMA memimpin barisan kiai sepuh untuk mempertanyakan manuver kubu Ipul. Tiga hal fundamental disorot tajam: martabat NU, kesucian forum AHWA, dan marwah organisasi.
Keterlibatan istana yang diseret oleh kubu Ipul dituding telah mengkhianati independensi NU. Kampanye terbuka untuk memilih kiai tertentu ke dalam jajaran Syuriah dinilai sebagai keganjilan prosedural.
Langkah ini dinilai mengkontaminasi tradisi ulama dengan kebiasaan partai politik.
Keterlibatan KMA di gelanggang ini tidak sekadar menambah dukungan. Sejarah mencatat pola sistemik yang serupa pada Muktamar PKB di Bali, Agustus 2024.
Saat itu, KMA memutuskan untuk memveto operasi pengambilalihan PKB oleh Dwi Tunggal (Ketua Umum PBNU dan Sekjen Ipul). Kubu Ipul diklaim mendapatkan mandat dari istana untuk mengeksekusi rencana tersebut.
Pola penyelamatan ini mengisyaratkan fakta spesifik. KMA selalu ditempatkan sebagai jangkar saat marwah lembaga dipertaruhkan.
Menelusuri Celah Dukungan dan Hilangnya Kiai Miftahul Akhyar
Sementara itu, celah di kubu Ipul semakin dilebarkan. Nama Kiai Miftahul Akhyar tidak lagi disertakan dalam rancangan "paket istana".
Kekayaan Kiai Miftahul Akhyar yang melonjak tajam sempat dipersoalkan oleh sejumlah pihak. Pertanyaan tentang mengapa istana tidak menggunakan jasa Kiai Miftahul Akhyar belum dijawab secara transparan.
Ipul kemudian mengarahkan strategi dengan mendekati Gus Kikin. Namun, klaim bahwa Presiden Prabowo menyodorkan Gus Kikin hanya dibaca sebagai analisis sepihak.
Belum ditemukan bukti yang mengungkap kebenaran dukungan langsung dari istana. Klaim ini justru membebani elektabilitas Gus Kikin karena tingginya resistensi publik terhadap Ipul.
Mempertanyakan Motif dan Transparansi Elit
Fauzi Thalib dari tim pemenangan Gus Kikin menganalisis manuver ini secara skeptis. Manuver KMA dibaca sebagai serangan balasan politik.
Thalib mempertanyakan motif di balik pertarungan ini. Ia menyoroti posisi elit PKB dan NU yang sudah mendapatkan kursi pemerintahan hingga hak pengelolaan tambang.
Klaim demi klaim terus dilontarkan setiap hari. Tetapi kebenaran tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali istana belum diungkap penuh ke ruang publik.
Jika klaim dukungan istana hanya direkayasa untuk menutupi kelemahan elektoral, lantas siapa yang sedang membohongi siapa di arena Tambakberas? Gus Kikin mungkin dijajakan sebagai wajah baru, tetapi satu hal krusial belum dijawab: mungkinkah Kramat Raya benar-benar dibiarkan untuk dikendalikan oleh bayang-bayang Garuda, atau ini sekadar gertakan kosong yang menanti untuk dibongkar? ***