Sebuah pertunjukan tentang menunggu justru tidak mau menunggu lama-lama untuk melangkah lebih jauh. Lima hari setelah dipentaskan di Ngaos Art, Tasikmalaya, pada 21 Agustus 2026, Cara Menjadi Sederhana akan naik ke panggung Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta, 26–28 Agustus—membawa serta kisah sederhana tentang sendok yang tak kunjung datang, dan pertanyaan besar tentang mengapa manusia modern begitu takut bertindak tanpa izin.
Sebuah panggung kecil di Tasikmalaya menjadi titik tolak bagi perjalanan yang lebih besar. Pada 21 Agustus 2026, pertunjukan Cara Menjadi Sederhana dipentaskan dalam agenda apresiasi di Ngaos Art, sebelum lima hari kemudian dibawa ke panggung yang jauh lebih luas: Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta, yang berlangsung pada 26–28 Agustus.
Berangkat dari Cerita Sederhana
Kisah yang diangkat dalam pertunjukan ini sebenarnya sederhana: tiga tokoh, Mimi, Kido, dan Miqdam, terjebak dalam situasi absurd saat hendak makan namun tak kunjung menemukan sendok. Dari premis yang tampak remeh itu, pertunjukan membangun kritik tentang manusia modern yang kehilangan kemampuan melakukan hal-hal paling elementer karena terlalu lama tunduk pada prosedur dan kebutuhan akan kepastian.
Justru dari kesederhanaan itulah karya ini mendapatkan kekuatannya. Sebelum melangkah ke Yogyakarta, pertunjukan ini terlebih dahulu diuji lewat forum apresiasi di kota asalnya sendiri, dihadiri oleh sejumlah pengamat dan praktisi teater yang memberikan beragam catatan dan pembacaan.
Ruang Pembacaan Sebelum Melangkah Lebih Jauh
Pementasan di Ngaos Art bukan sekadar uji coba panggung, melainkan juga ruang dialog intelektual. Dr. Rahman Sabur, Arif, S.Pd., M.Sn., Wit Jabo, Moa Aziz, dan Aris Sehat Tentrem hadir memberikan tanggapan dari berbagai perspektif—mulai dari epistemologi tubuh, problem eksistensial sehari-hari, dramaturgi ketidakhadiran objek, refleksi tentang kebiasaan menunda hidup, hingga dimensi etika kebangsaan.
Keberagaman pembacaan ini menjadi bekal berharga. Sebelum dipentaskan di hadapan juri dan penonton festival nasional, karya ini telah melalui proses pematangan wacana di kota asalnya sendiri—sebuah tahapan yang tidak selalu dimiliki oleh karya-karya lain yang langsung melompat ke panggung besar tanpa singgah dulu di ruang-ruang apresiasi lokal.
Menuju Festival Teater Dosen Indonesia 2026
Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta menjadi panggung berikutnya bagi Cara Menjadi Sederhana, berlangsung selama tiga hari, 26–28 Agustus. Festival semacam ini biasanya mempertemukan berbagai karya dari kalangan akademisi teater se-Indonesia, menjadikannya ajang penting untuk menguji karya di hadapan komunitas teater yang lebih luas dan beragam latar belakang keilmuan.
Bagi karya yang berangkat dari kota seperti Tasikmalaya, kesempatan tampil di forum sebesar ini bukan hal kecil. Ia membuka ruang bagi karya lokal untuk didengar, dibicarakan, dan dibandingkan dengan karya-karya lain dari berbagai daerah—sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa nama kota asal ke percakapan yang lebih luas.
Tasikmalaya sebagai Pengalaman Artistik yang Dibawa Pergi
Perjalanan pertunjukan ini menariknya tidak menjadikan Tasikmalaya sekadar catatan kaki asal-usul semata. Kota ini turut dibawa sebagai pengalaman artistik menuju ruang festival nasional—sebuah proses kreatif yang lahir dari konteks lokal, namun berbicara tentang persoalan yang jauh lebih universal: absurditas, prosedur, dan kebebasan manusia.
Perjalanan dari Ngaos Art ke ISI Yogyakarta pada akhirnya bukan sekadar catatan tentang jarak geografis yang ditempuh sebuah pertunjukan. Ia juga menjadi catatan tentang bagaimana sebuah karya kecil, yang lahir dari premis sesederhana menunggu sendok, mampu menemukan jalannya sendiri menuju panggung yang jauh lebih besar—membawa serta pertanyaan filosofis yang sama sederhananya, namun tak pernah benar-benar kehilangan relevansi: mengapa manusia terus menunggu sesuatu di luar dirinya sebelum berani menjalani hidup?