Politik

Berani Injak Dapil Neraka, Kaesang Kebagian Solo Saja

Berani Injak Dapil Neraka, Kaesang Kebagian Solo Saja
Kaesang Pangarep resmi maju dari Dapil V Jawa Tengah untuk Pileg 2029. Di atas kertas, ia menantang kandang elektoral PDIP. Di lapangan, Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo sudah dibagi ke kader PSI lain. (Ilustrasi Forensik Narasi)

Kaesang Pangarep mendaftar ke "Dapil Neraka" Jawa Tengah, kandang elektoral Puan Maharani. Tapi wilayah tempurnya ternyata cuma satu kota: Solo.

Sabtu malam, 25 Juli 2026, di Rakorda PSI Solo, Kaesang Pangarep akhirnya mengumumkan pencalonannya sebagai caleg DPR RI 2029 dari Dapil V Jawa Tengah.

Dapil ini dijuluki "Dapil Neraka" bukan tanpa sebab. Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani meraup 297.366 suara di sana pada 2024 — lebih dari dua kali lipat suara pesaing terdekatnya.

Runner-up saat itu, kader Gerindra Adik Sasongko, hanya mengantongi 142.405 suara. Total pemilih di dapil ini mencapai 2.556.296 orang, diperebutkan bersama Wakil Ketua Komisi II DPR Aria Bima.

Namun euforia "berani menantang kandang banteng" itu mengempis begitu Kaesang membuka rincian teritorinya sendiri: "Saya cuma kedapatan Solo." Boyolali, Sukoharjo, dan Klaten sudah dijatah ke kader PSI lain.

Solid Dulu ke Dalam, Baru Berani ke Luar

Kepada kader PSI, Kaesang berpesan agar tidak saling berebut suara demi menjaga soliditas menuju 2029. Instruksi ini terdengar wajar untuk partai mana pun menjelang kontestasi.

Tapi ironinya cukup telanjang: partai yang belum genap sedekade usianya ini harus mewanti-wanti soal perpecahan internal, di saat lawan yang dihadapi di luar sudah jauh lebih mapan dan solid duluan.

Kalau menjaga barisan sendiri saja perlu instruksi khusus dari ketua umum, publik boleh menakar seberapa realistis target "menang besar 2029" yang disebut Kaesang tanpa embel-embel apa pun itu.

Kandang Banteng Menjawab Santai

Ketua DPP PDIP Ganjar Pranowo tak butuh waktu lama untuk merespons. "Saya masih yakin Kandang Banteng," katanya singkat di kantor PDIP, Minggu (26/7).

Ganjar bahkan mengingatkan hal paling dasar: Kaesang bukan kader PDIP, jadi soal maju-tidaknya bukan perkara yang perlu dipusingkan partainya. Semua orang, katanya, punya hak yang sama untuk ikut pemilu.

Respons datar ini justru menegaskan skala pertarungan sesungguhnya: Kaesang menyiapkan medan tempur besar, sementara pihak yang ditantang hanya perlu satu kalimat untuk menutup topik.

Dinasti Mencari Jalan Baru Lewat Kursi Legislatif

Jika Gibran menembus jalur eksekutif nasional lewat kursi wakil presiden, Kaesang tampaknya memilih rute yang lebih berliku: kursi legislatif di jantung kekuatan PDIP sendiri.

Solo adalah kota yang sama-sama diklaim dua kubu sebagai "rumah" — bagi Jokowi karena di situ karier politiknya dimulai, bagi PDIP karena di situ soliditas struktural mereka dibangun bertahun-tahun.

Tiga tahun ke depan akan menjadi ukuran paling jujur: apakah nama besar cukup untuk menembus tembok loyalitas partai lawan, atau justru berhenti sebagai catatan kaki ambisi yang mendahului kalkulasi.***