Muktamar Ke-35 NU di Jombang memunculkan tujuh poros kekuatan dan figur alternatif. Tingginya ketidakpuasan akar rumput menjadi tantangan berat bagi petahana dalam mempertahankan kepemimpinannya.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dipastikan menghadapi kontestasi ketat pada Muktamar Ke-35 NU. Ajang ini dijadwalkan berlangsung di Jombang pada 27–31 Agustus 2026. Persaingan kian dinamis dengan munculnya sejumlah figur alternatif penantang petahana.
Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merekam pergeseran dukungan yang signifikan di tingkat akar rumput. Survei pada awal 2026 ini melibatkan 5.900 responden struktural dan kultural. "Terdapat angka ketidakpuasan publik sebesar 80 persen terhadap kepemimpinan PBNU saat ini," urai rilis resmi Insantara.
Kondisi ini mendorong naiknya elektabilitas tokoh muda pesantren KH Imam Jazuli di posisi puncak dengan 26,1 persen. Posisi kedua disusul mantan Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuqi Mustamar sebesar 22,6 persen, dan KH Yusuf Chudlori dengan 17 persen. Petahana justru tertinggal di posisi keempat dengan kisaran 9 persen.
Manuver Tujuh Poros Kekuatan
Sebelumnya, peta kontestasi telah terbelah ke dalam berbagai manuver kelompok strategis. Poros petahana terus bermanuver memperkokoh legitimasi dan mencari pasangan Rais Aam yang tepat. Di sisi lain, poros Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Sekretaris Jenderal mulai menyeleksi kandidat penantang.
Selain itu, poros pemerintah santer menjagokan Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar. Terdapat pula poros PWNU Jawa Timur yang menjadi kekuatan besar di daerah. Mereka secara resmi telah mengusung KH Abdul Hakim Mahfudh atau Gus Kikin untuk mengisi kursi ketua umum.
Poros Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bersama jaringan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sepakat mengusung KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam. Dukungan serupa datang secara terbuka dari poros KH Marzuqi Mustamar. Kekuatan gabungan ini berpotensi mengamankan sekitar 400 suara mayoritas jika berkoalisi dengan poros kementerian.
Sebagai kekuatan penyeimbang, muncul poros Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa dengan elektabilitas 4,6 persen. Ia membawa narasi spesifik mengenai kebangkitan tradisi menulis kitab di kalangan ulama. Pergerakannya menjadi variabel penting dalam merebut suara pemilih mengambang.
Sistem AHWA dan Arah Global
Guna meredam tensi kompetisi yang destruktif, mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdy (AHWA) kembali disuarakan secara luas. PWNU Jawa Timur mencatat telah menjaring 16 nama ulama sepuh untuk menetapkan Rais Aam. Pemilihan ketua umum diusulkan berbasis musyawarah kolaborasi dengan persetujuan tim AHWA.
Muktamar ini juga menjadi arena perumusan arah baru organisasi di abad kedua, mulai dari isu kemanusiaan global hingga etika kecerdasan buatan. Sosok kiai aktivis yang mumpuni secara keilmuan pesantren dan sosial-politik menjadi kriteria ideal. Sintesis antara pelestarian tradisi dan modernisasi akan menjadi kunci kepemimpinan mendatang.
Hasil akhir suksesi kelak sangat bergantung pada kemampuan figur dalam menjembatani berbagai kepentingan tersebut. "Kandidat yang mampu menggabungkan dukungan kiai, jaringan struktural, dan visi masa depan NU akan memiliki peluang terbesar memenangkan kontestasi," pungkas kesimpulan laporan Insantara.***