Politik

Penyebar Foto Hoaks Ratna Sarumpaet Kini Pimpin Komunikasi MBG

Penyebar Foto Hoaks Ratna Sarumpaet Kini Pimpin Komunikasi MBG

Nanik S. Deyang adalah orang pertama yang membawa narasi penganiayaan Ratna ke hadapan Prabowo, lalu mengunggahnya ke Facebook. Kini ia kepala BGN. Siapa yang menjamin data MBG tidak bernasib sama?

 Presiden Prabowo Subianto menunjuk Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2 Juni 2026, menggantikan Dadan Hindayana yang dicopot setelah evaluasi 1,5 tahun.

Penunjukan itu terasa wajar di permukaan: Nanik adalah Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, dikenal rajin sidak, dan sudah menangguhkan lebih dari 8.000 dapur SPPG yang melanggar standar.

Tapi ada satu bagian dari rekam jejaknya yang luput dari sorotan pengumuman resmi itu.

nanik-s-deyang.png (767 KB)
Nanik Sudarwati Deyang. (Dokumentasi BGN)

 

Peran Nanik dalam Hoaks Ratna Sarumpaet

Pada Oktober 2018, saat Indonesia tengah panas oleh kampanye Pilpres, sebuah narasi menyebar: aktivis Ratna Sarumpaet dianiaya orang tak dikenal di Bandung.

Nanik adalah tokoh kunci di balik persebaran narasi itu. Dalam persidangan Ratna di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (April 2019), jaksa mengungkap bahwa Nanik adalah orang yang menceritakan kronologi "penganiayaan" Ratna kepada Prabowo, Amien Rais, Said Iqbal, dan Fadli Zon dalam pertemuan di kawasan Polo, Bogor.

Tak hanya itu. Nanik juga memfoto wajah lebam Ratna dan mengunggahnya ke akun Facebook pribadinya, disertai narasi penganiayaan. Kabid Humas Polda Metro Jaya saat itu, Kombes Argo Yuwono, menyebut Nanik sebagai orang pertama yang memberitahukan kabar penganiayaan itu kepada Prabowo.

Belakangan, penganiayaan itu terbukti bohong. Lebam di wajah Ratna bukan akibat dihajar orang, melainkan efek operasi pengangkatan lemak pipi. Ratna divonis bersalah. Setelah hoaks terbongkar, Nanik menghapus unggahan Facebooknya.

Nanik diperiksa dua kali oleh penyidik Polda Metro Jaya dan bersaksi di persidangan. Ia tidak pernah berstatus terdakwa — hanya saksi. Dalam posisinya sebagai saksi, ia menyatakan merasa "sangat dibohongi" oleh Ratna.

Jabatan Baru, Logika Lama?

Yang membuat pengangkatan Nanik patut dicermati bukan sekadar masa lalunya. Melainkan jenis jabatan yang ia emban.

Nanik bukan ahli gizi. Ia bukan dokter, bukan epidemiolog, bukan ahli ketahanan pangan. Ia adalah jurnalis senior yang seluruh karier pemerintahannya dibangun di atas kedekatan dengan Prabowo — dari Wakil Ketua BPN 2019, ke BP Taskin 2024, ke Komisaris Pertamina Juni 2025, ke Wakil Kepala BGN September 2025, hingga puncak BGN Juni 2026.

Jabatan terakhirnya sebelum naik ke pucuk pimpinan adalah Wakil Kepala Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi — persis bidang yang bertanggung jawab membingkai narasi MBG ke publik. Program dengan anggaran ratusan triliun rupiah dan 85 juta calon penerima manfaat itu kini berada di tangan seseorang yang pola kerjanya di 2018 adalah meneruskan informasi yang belum diverifikasi karena kepercayaan kepada sumbernya.

Pertanyaan yang wajar diajukan publik: jika data keracunan MBG kembali melonjak, jika angka SPPG bermasalah kembali mengkhawatirkan — apakah Nanik akan melaporkan kondisi sesungguhnya, atau akan terlebih dahulu mempertimbangkan dampaknya terhadap citra program andalan presiden yang ia layani sejak 2019?

Dalam kasus Ratna, Nanik tidak berbohong dengan sengaja — ia meneruskan informasi yang ia percaya benar, tanpa verifikasi, karena ia percaya kepada sumbernya. Itulah tepatnya yang menjadi masalah struktural ketika ia kini memimpin lembaga yang seharusnya menjadi sumber primer data gizi nasional.***