Pengamat politik menilai rekomendasi Ijtima Ulama PKB yang dibacakan di hadapan Presiden Prabowo Subianto merupakan bentuk kritik terhadap situasi PBNU saat ini.
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai rekomendasi Ijtima Ulama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) merupakan cara mengkritisi situasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Rekomendasi tersebut sebelumnya dibacakan secara langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
"Ijtima ulama ini semakin memperkuat pernyataan Muhaimin Iskandar beberapa waktu lalu yang mengkritisi dan berharap ada perbaikan di Nahdlatul Ulama," kata Adi pada Jumat, 24 Juli 2026.
Adi menjelaskan bahwa rekomendasi Ijtima Ulama memiliki posisi politik yang sangat kuat. Hal ini mengingat peran ulama yang tergolong cukup vital di kalangan akar rumput Nahdliyin.
"Ini bisa juga dibaca sebagai bentuk kepedulian PKB terkait situasi PBNU yang belakangan dipenuhi gonjang-ganjing dan bahkan konflik politik," ujarnya.
Ihwal posisi PKB, Adi menyebut partai yang lahir dari rahim NU itu merasa punya tanggung jawab moral. PKB dinilai ingin ikut serta secara langsung untuk memperbaiki kondisi struktural NU saat ini.
"NU perlu berbenah dan perlu ganti kepemimpinan dengan yang jauh lebih menjanjikan. Kan itu selaras dengan pernyataan Cak Imin beberapa waktu lalu," tuturnya.
Penataan Nahdlatul Ulama
Sebelumnya, hasil rumusan Forum Ijtima Ulama Indonesia dibacakan saat Peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, pada Kamis malam, 23 Juli 2026. Dokumen rumusan tersebut lalu diserahkan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syifaa Simpang Sumedang, KH Muhyiddin Al-Manafi, membacakan hasil tersebut disaksikan jajaran elite politik. Salah satu poin utama rumusan tersebut adalah mendorong penataan NU agar semakin solid, mandiri, dan produktif.
"Kami meyakini bahwa Nahdlatul Ulama yang sehat, kuat dan produktif merupakan modal strategis bangsa," kata Muhyiddin.
Selain itu, Muhyiddin menegaskan bahwa Ijtima Ulama berkomitmen untuk terus menjalankan amanah amar makruf nahi mungkar. Ulama juga siap memberikan koreksi konstruktif agar penyelenggaraan negara tetap berada dalam koridor konstitusi.
"Kami meyakini semakin sehat dan kuat Nahdlatul Ulama, semakin besar kontribusinya bagi umat, semakin kokoh persatuan bangsa dan semakin efektif negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat," ujarnya.***