Kementerian Kesehatan Irak memperketat pemantauan epidemiologis setelah kasus CCHF terus ditemukan. Penyakit yang terutama ditularkan melalui kutu dan ternak tersebut memiliki tingkat fatalitas 10–40 persen.
Irak mencatat 313 kasus terkonfirmasi Crimean-Congo Haemorrhagic Fever (CCHF) atau demam berdarah Krimea-Kongo sepanjang 2026.
Sebanyak 24 orang meninggal dunia.
Kementerian Kesehatan Irak mengumumkan perkembangan tersebut melalui rekapitulasi mingguan yang diberitakan pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Dhi Qar menjadi provinsi paling terdampak. Wilayah di Irak selatan itu mencatat 119 kasus dan sembilan kematian.
Kasus juga terdeteksi di Nineveh, Irak utara. Kementerian Kesehatan Irak mencatat 14 kasus terkonfirmasi dan satu kematian di provinsi tersebut.
Angka-angka itu memperlihatkan satu titik yang patut disorot.
Sebanyak 24 kematian dari 313 kasus menghasilkan angka kematian kasar sekitar 7,7 persen. Namun, angka tersebut belum dapat diperlakukan sebagai case fatality rate final.
Jumlah kasus dan kematian masih dapat berubah selama wabah berlangsung.
Pemerintah Irak Memperketat Pemantauan
Juru bicara Kementerian Kesehatan Irak, Saif al-Badr, mengatakan pemerintah meningkatkan pemantauan epidemiologis setiap hari di seluruh provinsi.
Otoritas kesehatan juga memperkuat koordinasi dengan lembaga veteriner dan regulator. Kampanye kesadaran serta prosedur deteksi dini turut diperluas.
Langkah lintas sektor itu menjadi penting karena CCHF berkaitan erat dengan kutu dan hewan ternak.
Penyakit tersebut bukan fenomena baru di Irak. Kasus CCHF telah dilaporkan di negara itu sejak 1979.
Pada 2023, Irak mencatat wabah terbesar dalam beberapa dekade. WHO mencatat 587 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 83 kematian.
Angka tersebut menghasilkan case fatality ratio sebesar 14 persen.
Mengenali CCHF
CCHF merupakan demam berdarah virus yang terutama ditularkan melalui gigitan kutu. Penularan juga dapat berlangsung melalui kontak dengan darah atau jaringan hewan yang terinfeksi.
Peternak, pekerja rumah potong hewan, dan dokter hewan menghadapi potensi paparan lebih besar karena pekerjaan mereka bersinggungan dengan ternak.
Namun, CCHF tidak sama dengan demam berdarah dengue yang umum dikenal di Indonesia.
Nyamuk Aedes tidak menjadi vektor utama CCHF. WHO mengidentifikasi kutu dari genus Hyalomma sebagai vektor utamanya.
WHO menyebut CCHF sebagai penyakit endemik di sejumlah wilayah Afrika, Balkan, Timur Tengah, dan Asia. Tingkat fatalitas dalam wabah berkisar 10–40 persen.
Gejala awal dapat mencakup demam, nyeri otot, pusing, sakit kepala, serta nyeri dan kekakuan leher. Pada kasus berat, pasien dapat mengalami perdarahan dan gangguan organ.
Penularan Antarmanusia Dapat Terjadi
CCHF tidak hanya ditularkan melalui kutu dan ternak.
Virus dapat berpindah antarmanusia melalui kontak dekat dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh penderita.
Penularan di fasilitas kesehatan juga dapat terjadi ketika prosedur pengendalian infeksi tidak diterapkan secara memadai. Peralatan medis yang terkontaminasi maupun pemakaian ulang jarum dapat membuka celah penularan.
WHO menyatakan vaksin CCHF yang aman dan efektif belum tersedia secara luas untuk manusia. Vaksin untuk hewan juga belum tersedia.
Pencegahan karena itu bertumpu pada pengurangan paparan terhadap kutu dan hewan terinfeksi. Prosedur pengendalian infeksi juga perlu diterapkan secara ketat.
Belum Terdeteksi Kaitan dengan Indonesia
Perkembangan di Irak belum menunjukkan penyebaran yang berkaitan dengan Indonesia.
Karena itu, laporan tersebut tidak dapat langsung diposisikan sebagai ancaman wabah di Indonesia. Data yang tersedia masih menggambarkan perkembangan epidemiologis di Irak.
Namun, CCHF tetap patut dipantau sebagai penyakit zoonotik internasional. Penyakit tersebut memiliki tingkat fatalitas tinggi dan dapat memicu penularan di fasilitas kesehatan.
Sejumlah pertanyaan masih belum terjawab.
WHO belum mengumumkan peningkatan penilaian risiko regional berdasarkan angka terbaru tersebut. Perkembangan laporan mingguan berikutnya juga masih ditunggu.
Apakah temuan kasus di Irak akan terus meningkat, atau pemantauan yang diperketat mulai memperlihatkan batas penyebarannya?***