CHMI memperkirakan puncak gelombang panas Eropa baru tiba pada 5 Juli, sementara korban tewas sudah tembus 1.300 jiwa dan layanan darurat di sejumlah negara kewalahan.
Lembaga meteorologi Republik Ceko CHMI memperkirakan gelombang panas ekstrem di Eropa justru baru mencapai puncaknya pada Minggu, 5 Juli 2026, dengan badai diperkirakan melanda wilayah barat sehari setelahnya.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni akibat suhu tinggi, dengan stres panas disebut sebagai "pembunuh senyap" karena bangunan Eropa tak dirancang menahan panas ekstrem.
Rekor Suhu dan Beban Layanan Darurat
WMO mencatat Jerman memecahkan rekor tiga hari berturut-turut dengan suhu 41,7 derajat Celsius di Coschen, disusul Ceko 41,1 derajat Celsius, Polandia 40,5 derajat Celsius, dan Hungaria 40,7 derajat Celsius.
Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan armada ambulans merespons lebih dari 122 ribu panggilan darurat selama puncak gelombang panas, sementara sedikitnya 74 orang tewas tenggelam akibat nekat berenang tanpa pengawasan untuk mendinginkan diri.
Tekanan krisis memaksa kebijakan darurat: Belanda membatalkan festival musim panas, sedangkan Paris melarang konsumsi alkohol di ruang publik untuk menekan risiko dehidrasi massal.
Ilmuwan menjelaskan fenomena ini dipicu kubah panas (heat dome) yang diperkuat pola blokade omega, mengunci udara panas di satu wilayah selama berhari-hari. Studi World Weather Attribution menyimpulkan peluang kejadian seperti ini kini 200 kali lebih besar dibanding dua dekade lalu akibat perubahan iklim.
Kerentanan Eropa diperparah faktor demografi: hanya 19 persen rumah dilengkapi pendingin ruangan, sementara 22 persen populasi Uni Eropa berusia di atas 65 tahun — kelompok paling berisiko mengalami sengatan panas fatal.
Ahli BMKG Mudayu Ekaning Prastiwi menegaskan gelombang panas secara teknis tak terjadi di Indonesia karena posisi ekuatorial, namun kelembapan tinggi tetap bisa memperbesar risiko sengatan panas meski suhu tak setinggi Eropa.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari otoritas kesehatan Eropa mengenai proyeksi korban jika prediksi puncak 5 Juli terbukti.***