Daerah

Kebakaran Bromo Meluas 20 Kali Lipat dalam Sepekan, TNBTS Tutup Total Semua Akses Wisata

Kebakaran Bromo Meluas 20 Kali Lipat dalam Sepekan, TNBTS Tutup Total Semua Akses Wisata
Tangkapan layar sebuah video amatir yang merekam kebakaran hebat melanda Gunung Bromo.

Area terdampak melonjak dari sekitar 7,9 hektare pada awal penanganan menjadi 176 hektare. Api menjalar di sekitar Jalur Lingkar Kaldera Tengger, sementara wisatawan yang sudah membeli tiket diberi opsi reschedule atau refund.

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, meluas hingga sekitar 176 hektare. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup seluruh akses wisata sejak Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 22.00 WIB — hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Penutupan dilakukan setelah kobaran api di kawasan Kaldera Bromo terus meluas. Angin kencang mempercepat penjalaran api dan mempersulit proses pemadaman.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan penutupan ditempuh demi efektivitas pemadaman sekaligus melindungi pengunjung.

"Dalam rangka efektivitas upaya pemadaman kebakaran, kunjungan ke Bromo dari semua pintu masuk ditutup untuk kunjungan wisata," kata Rudijanta dalam keterangan resmi yang diterima Sabtu malam.

Penutupan berlaku di lima akses wisata yang tersebar di empat kabupaten: Cemorolawang (Probolinggo), Wonokitri (Pasuruan), Jemplang dan Coban Trisula (Malang), serta Senduro (Lumajang).

Sebelumnya, penutupan hanya diberlakukan pada sebagian jalur. Wisatawan masih diizinkan masuk lewat Cemorolawang dan Wonokitri, dibatasi sampai kawasan Lautan Pasir. Meluasnya kebakaran memaksa TNBTS menutup seluruh pintu masuk tanpa kecuali.

Area Terbakar Melonjak 20 Kali Lipat dalam Sepekan

Kebakaran dilaporkan mulai terjadi pada Senin, 3 Agustus 2026. Api bergerak dari Blok Bantengan, lalu menjalar ke sejumlah kawasan lain di dalam TNBTS.

Perkembangan luas area terdampak menunjukkan lonjakan yang patut disorot. Pada awal kejadian, luas kawasan terbakar diperkirakan sekitar 7,9 hektare saja.

Angka itu kemudian membengkak: 44 hektare, lalu 51 hektare, hingga mencapai sekitar 176 hektare pada Jumat malam, 7 Agustus 2026.

Dengan demikian, luas area terdampak meningkat lebih dari 20 kali dibandingkan estimasi awal — sebuah eskalasi yang mempertanyakan kecepatan respons di fase-fase pertama penanganan.

Sebagian besar kawasan yang terbakar berada di wilayah Kabupaten Probolinggo.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan perkembangan terbaru menunjukkan api menjalar di kawasan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) menuju Blok Jantur, tepat ketika kawasan itu dilanda embusan angin kencang.

Tim gabungan sempat diminta mundur dan berkumpul di lokasi aman di sekitar JLKT — kondisi yang dinilai membahayakan personel pemadam.

Setelah kecepatan angin berkurang, petugas kembali bergerak menuju Jemplang lewat jalur lama. Upaya berikutnya diarahkan untuk memutus penjalaran api agar tidak menyeberang ke bagian utara Watangan.

Petugas masih disiagakan mengantisipasi perubahan arah maupun peningkatan kecepatan angin yang bisa kembali memperluas api.

Api Merambah ke Arah Gunung Kursi, Medan Tebing Persulit Pemadaman

Perkembangan di lapangan menegaskan kebakaran ini tidak lagi terkonsentrasi pada titik awal.

Berdasarkan dokumentasi yang dipublikasikan Balai Besar TNBTS, kobaran api terlihat di area tebing dekat Jalur Lingkar Kaldera Tengger. Petugas di lapangan turut melaporkan api merambah ke arah Gunung Kursi, yang masih berada di dalam kawasan taman nasional.

Medan tebing dan angin kencang menjadi dua kendala utama yang belum terpecahkan sejak awal operasi.

Sejak fase awal kebakaran, pemadaman dijalankan lewat berbagai metode. Petugas darat mengandalkan alat manual seperti gepyok dan backpack sprayer, sementara BPBD Jawa Timur mengerahkan drone water spray berkapasitas sekitar 150 liter untuk menjangkau area yang sulit diakses.

Truk tangki dan kendaraan pemadam turut dikerahkan untuk mendukung pasokan air.

Wisatawan Bisa Reschedule atau Refund Tiket

Penutupan total berlaku sampai kondisi dinilai memungkinkan untuk membuka kembali aktivitas wisata. TNBTS belum menetapkan tanggal pembukaan — jangka waktu yang masih menggantung tanpa kepastian.

Wisatawan yang telah membeli tiket lewat sistem pemesanan daring untuk jadwal kunjungan selama masa penutupan tidak otomatis kehilangan haknya.

Pengelola menyediakan dua opsi: menjadwalkan ulang kunjungan atau mengajukan pengembalian dana. Pengajuan dilakukan lewat formulir yang disediakan di sistem pemesanan daring TNBTS.

TNBTS turut meminta masyarakat dan pelaku usaha jasa wisata menghentikan sementara seluruh aktivitas wisata di dalam kawasan selama penutupan berlangsung.

Penyebab Masih Didalami, Dugaan Aktivitas Manusia Belum Jadi Kesimpulan

Penyebab kebakaran belum ditetapkan secara final.

Pada fase awal penanganan, Balai Besar TNBTS menyatakan penyebab kebakaran masih diselidiki. Dalam perkembangan berikutnya, otoritas menduga kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia — namun dugaan ini belum setara dengan kesimpulan resmi hasil penyelidikan, dan pihak yang bertanggung jawab pun belum ditetapkan.

Faktor cuaca kemudian memperburuk situasi. Angin kencang membuat api yang sempat tertekan kembali menjalar ke kawasan lain.

Sampai Minggu pagi, 9 Agustus 2026, operasi pemadaman dan pemantauan masih berlangsung. Fokus petugas: mencegah api menyeberangi jalur pengendalian dan meluas ke blok-blok lain di kawasan TNBTS.

Angka 7,9 hektare di hari pertama sudah bicara jujur soal betapa kecil api ini semula. Yang belum bicara jujur adalah mengapa dalam sepekan angka itu melonjak dua puluh kali lipat, dan siapa yang mestinya bertanggung jawab atas jeda itu.***