Speedboat Arupadhatu 1 diperkirakan kembali Senin petang, tetapi Basarnas baru menerima laporan Selasa siang. Kapal hanya mengandalkan telepon seluler, sementara dokumen kelaiklautan dan mekanisme pemantauan perjalanan belum dibuka.
Kapal Cepat Arupadhatu 1 seharusnya telah kembali ke Carita pada Senin petang, 7 September 2026. Namun, sampai matahari terbit keesokan harinya, kapal sepanjang sekitar tujuh meter itu belum terlihat dan belum ada alarm yang sampai ke lembaga pencarian.
Basarnas Banten baru menerima laporan pada Selasa pukul 13.55 WIB—hampir 20 jam setelah kabar terakhir dari rombongan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Kapal membawa delapan orang: lima jurnalis, seorang nakhoda, seorang anak buah kapal, dan seorang pemandu. Mereka bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin sekitar pukul 14.00 WIB untuk memotret aktivitas Anak Krakatau.
Pemilik kapal, Sandi Wiyasa, memperkirakan rombongan seharusnya sudah kembali sekitar pukul 17.00 hingga 18.00 WIB. Perjalanan itu hanya untuk mengambil gambar, bukan wisata yang disertai kegiatan seperti trekking atau snorkeling.
Namun, ketika batas waktu tersebut terlewati, belum diketahui siapa yang bertanggung jawab memastikan keberadaan kapal maupun mengaktifkan prosedur pelaporan keadaan darurat.
Basarnas menerima informasi kehilangan bukan dari pemilik atau pengelola kapal, melainkan dari seorang jurnalis ANTARA Banten bernama Bayu pada Selasa siang.
Hampir 20 Jam Setelah Pesan Terakhir
Kronologi komunikasi yang diumumkan kepada publik belum sepenuhnya konsisten.
Laporan awal Basarnas menyebut M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto ANTARA, mengirimkan lokasi kepada seorang jurnalis di Lampung pada Senin pukul 14.42 WIB. Komunikasi kemudian disebut terputus pada pukul 15.04 WIB di sekitar koordinat 6°14’40.52” Lintang Selatan dan 105°40’49.48” Bujur Timur.
Namun, keterangan lain menunjukkan komunikasi tidak sepenuhnya berakhir pada waktu tersebut.
Sandi mengatakan pemandu kapal sempat mengirim foto Gunung Anak Krakatau kepada istrinya sekitar empat jam setelah keberangkatan. Keterangan Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad yang dikutip Associated Press juga menempatkan pesan terakhir pada pukul 18.13 WIB.
Pesan tersebut mengabarkan bahwa rombongan telah berada di perairan sekitar Anak Krakatau, sekitar 18,5 kilometer dari pantai. Sandi menyebut posisi kapal ketika foto dikirim berada lebih dari tiga kilometer dari kawah.
Artinya, terdapat sekurangnya dua jejak komunikasi yang perlu direkonsiliasi: share location pukul 14.42 WIB yang diikuti kegagalan kontak pukul 15.04 WIB, serta pesan atau foto dari sekitar Anak Krakatau pada pukul 18.13 WIB.
Jika pukul 18.13 WIB dipakai sebagai komunikasi terakhir, terdapat selang 19 jam 42 menit sebelum laporan diterima Basarnas pada Selasa pukul 13.55 WIB.
Jika dihitung dari kegagalan komunikasi pukul 15.04 WIB, selangnya mencapai 22 jam 51 menit.
Belum ada penjelasan resmi mengenai siapa yang menerima pesan terakhir, kapan pihak redaksi masing-masing mengetahui rombongan tidak kembali, dan langkah apa yang diambil sebelum laporan sampai ke Basarnas.
Kapal Tanpa Radio
Di tengah celah waktu tersebut, pemilik Arupadhatu 1 mengungkapkan kapal tidak memiliki perangkat radio komunikasi.
Kapal hanya mengandalkan telepon seluler. Padahal, jaringan telepon di tengah laut tidak dapat diasumsikan tersedia secara stabil, terutama dalam perjalanan menuju perairan sekitar pulau vulkanik.
Arupadhatu 1 disebut memiliki panjang sekitar tujuh meter dan lebar 2,2 meter. Kapal menggunakan dua mesin, membawa jaket pelampung, serta memiliki perangkat GPS portabel.
Namun, Sandi mengaku tidak mengetahui apakah GPS tersebut dapat digunakan untuk melacak kapal dari darat. GPS portabel pada umumnya hanya membantu pengguna mengetahui posisi dan bernavigasi. Perangkat itu tidak otomatis mengirimkan lokasi kepada pusat pemantauan.
Ketiadaan radio juga berarti tidak tersedia saluran komunikasi marabahaya yang dapat dipakai nakhoda untuk menghubungi kapal lain atau stasiun pantai apabila jaringan telepon hilang.
Sandi menyatakan kapal tersebut layak beroperasi, membawa penumpang sesuai kapasitas, serta memiliki surat-surat perizinan. Menurut dia, kapal juga menjalani pemeriksaan tahunan oleh syahbandar.
Namun, hingga Rabu sore (9/9), dokumen yang dimaksud belum diperlihatkan kepada publik. Belum diketahui pula apakah Arupadhatu 1 mengantongi Surat Persetujuan Berlayar khusus untuk perjalanan pada 7 September 2026.
Klaim Kelaikan Belum Cukup
Pernyataan pemilik bahwa kapal mempunyai dua mesin tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh standar keselamatan telah dipenuhi.
Kelaiklautan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mesin. Pemeriksaan juga mencakup konstruksi dan stabilitas kapal, perlengkapan keselamatan, alat navigasi, perangkat komunikasi, pengawakan, daerah pelayaran, kapasitas penumpang, serta dokumen keberangkatan.
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 12 Tahun 2022 tentang Kelaiklautan Kapal Kecepatan Tinggi Berbendera Indonesia memasukkan perangkat komunikasi radio yang disesuaikan dengan ukuran kapal dan daerah pelayaran sebagai salah satu perlengkapan.
Namun, belum dapat disimpulkan bahwa Arupadhatu 1 melanggar ketentuan tersebut. Otoritas belum membuka klasifikasi kapal, gross tonnage, daerah pelayaran yang diizinkan, maupun sertifikat keselamatannya.
Status dokumen itu menentukan aturan teknis mana yang berlaku terhadap kapal.
Karena itu, pengakuan bahwa kapal tidak memiliki radio seharusnya diikuti pemeriksaan oleh syahbandar: apakah ketiadaan perangkat tersebut dibenarkan oleh sertifikat kapal atau justru menunjukkan celah dalam pemeriksaan kelaiklautan.
Pemilik Baru Mengetahui dari Polisi
Celah pengawasan juga terlihat dari keterangan pemilik kapal.
Sandi mengaku baru mengetahui Arupadhatu 1 hilang kontak pada Selasa siang setelah dihubungi Kapolsek Carita. Ia tidak memperoleh laporan langsung dari nakhoda maupun pemandu kapal.
Setelah menerima informasi tersebut, Sandi mendatangi posko dan menghubungi warga serta nelayan di sekitar Pulau Sebesi, Lampung. Akan tetapi, belum ada penjelasan mengapa keterlambatan kapal sejak Senin petang tidak lebih dahulu terdeteksi oleh pemilik atau pengelola perjalanan.
Belum diketahui apakah keberangkatan tersebut memiliki daftar perjalanan, petugas pemantau dari darat, jadwal wajib melapor, nomor kontak darurat, serta prosedur ketika kapal tidak kembali sesuai waktu yang ditentukan.
Pertanyaan serupa berlaku bagi perusahaan media yang menugaskan para jurnalis. Sampai Rabu, belum dijelaskan apakah setiap redaksi memiliki penilaian risiko, rencana komunikasi, batas waktu pelaporan, maupun petugas yang memantau tim ketika meliput gunung api aktif dari laut.
Kelimanya adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni, jurnalis lepas.
Tiga orang lainnya ialah Warta, 55 tahun, sebagai nakhoda; Surakman, 60 tahun, sebagai ABK; serta Heriyanto, 49 tahun, sebagai pemandu.
Pencarian Dimulai Keesokan Hari
Unit Siaga SAR Pandeglang mulai menindaklanjuti laporan sekitar pukul 14.15 WIB pada Selasa. Sebuah rigid inflatable boat dikerahkan untuk menyisir rute menuju Anak Krakatau.
KN SAR Tetuka baru diberangkatkan pada pukul 17.25 WIB. Penyisiran di sekitar Pulau Rakata dan Pulau Panjang hingga pukul 18.15 WIB belum menemukan kapal maupun delapan orang di dalamnya. Operasi laut dilanjutkan sampai sekitar pukul 22.31 WIB sebelum dievaluasi.
Pencarian hari kedua dimulai Rabu pukul 07.00 WIB. Tim gabungan membagi operasi ke dalam empat Search and Rescue Unit.
KN SAR Tetuka 247 direncanakan menyisir jalur sepanjang 68,3 mil laut. KAL Anyer mendapat jalur 69,5 mil laut, sedangkan RIB 01 Lampung menyisir sekitar 67 mil laut. RIB 02 Banten diarahkan ke sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Dua drone termal disiapkan untuk membantu pemantauan. Penggunaan pesawat atau helikopter masih mempertimbangkan sebaran abu vulkanik dan keselamatan penerbangan.
TNI Angkatan Laut kemudian menambah kekuatan dengan mengerahkan KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861. Kapal dari Lanal Banten dan Lanal Lampung juga dilibatkan dalam penyisiran sektor yang telah ditentukan.
Arus Mengarah ke Samudra Hindia
Data BMKG menunjukkan arus permukaan Selat Sunda pada 7 September dominan bergerak ke arah barat daya menuju Samudra Hindia dengan kecepatan 0,4 sampai 0,9 knot. Gelombang ketika itu berada pada kisaran 0,3 hingga 1,2 meter.
Dalam pencarian berikutnya, petugas melaporkan gelombang dapat mencapai dua meter, disertai angin sekitar 10 knot, jarak pandang terbatas, dan abu vulkanik.
Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan nelayan dilarang mendekati kawah dalam radius tiga kilometer.
Belum ada bukti publik yang memastikan Arupadhatu 1 tenggelam, mengalami kerusakan mesin, kehabisan bahan bakar, terseret arus, atau terdampak langsung erupsi. Sampai Rabu, 9 September 2026 sore, kapal dan seluruh penumpangnya masih dalam pencarian.
Yang sudah terlihat justru sebuah rantai keselamatan dengan sejumlah mata penghubung yang belum dijelaskan: kapal tanpa radio, GPS yang tidak dapat dipastikan bisa dilacak, ketiadaan pemantauan waktu kembali, kronologi komunikasi yang berbeda, serta laporan kepada Basarnas yang baru masuk hampir 20 jam setelah pesan terakhir.
Pencarian sekarang dikerjakan oleh kapal-kapal SAR dan kapal perang. Namun, pertanyaan mengenai mengapa alarm tidak berbunyi sejak Senin petang masih tertinggal di darat.***