Nasional

Jejak E. Coli di MBG Jayapura-Semarang: Dapur Mulai Masak Semalam Sebelumnya

Jejak E. Coli di MBG Jayapura-Semarang: Dapur Mulai Masak Semalam Sebelumnya
Ilustrasi: Jejak E. coli mengungkap celah keamanan pangan MBG: dapur memulai proses memasak sejak malam, berjam-jam sebelum makanan menjangkau siswa.

Pemerintah menemukan bakteri E. coli pada sejumlah makanan dalam kasus keracunan MBG di Jayapura dan Semarang. BGN menyoroti proses memasak yang dimulai terlalu dini.

Pemerintah mengonfirmasi temuan bakteri Escherichia coli pada sejumlah makanan yang dikonsumsi siswa dalam kasus keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jayapura dan Semarang.

Dugaan awal sempat mengarah pada buah semangka. Hasil laboratorium membongkar fakta yang lebih luas.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bakteri itu terdeteksi pada beberapa jenis makanan, bukan hanya satu item seperti yang beredar di publik.

“Laporannya sudah ada, hasil laboratoriumnya juga sudah ada. Jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E. coli-nya,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.

Pemeriksaan sampel dilakukan setelah kasus gangguan kesehatan mencuat di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, dan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 6 Semarang, Jawa Tengah.

Dari hasil evaluasi, pemerintah mengidentifikasi sejumlah titik dalam rantai pengolahan makanan yang berpotensi menjadi sumber kontaminasi. Temuan ini diserahkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperbaiki tata kelola dapur MBG.

“Yang terpenting sekarang bagaimana mencegah kejadian seperti ini agar tidak terjadi lagi,” ujar Budi.

Memasak Sejak Malam Sebelumnya

Kepala BGN Sudaryono membeberkan pelanggaran standar operasional prosedur di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kejanggalan utama: proses memasak dimulai jauh sebelum waktu distribusi.

Log dapur di Depapre menjadi bukti kunci. Catatan itu menunjukkan proses memasak dimulai sekitar pukul 19.00 hingga 19.30 pada malam sebelumnya, sementara makanan baru dikirim ke penerima sekitar pukul 11.00 keesokan harinya.

“Kita lihat dari log dapurnya. Dia memulai masaknya kecepatan, sekitar jam 7 atau setengah 8 malam sebelumnya untuk dikirim keesokan harinya sekitar jam 11. Itu sudah melanggar,” kata Sudaryono.

Pola serupa disorot di Semarang. Dapur terkait, menurut Sudaryono, mulai memasak sekitar pukul 21.00, semalam penuh sebelum makanan sampai ke tangan siswa.

Semakin lama makanan tersimpan sebelum dikonsumsi, semakin besar celah kontaminasi terbuka. Sudaryono menyebut persoalan ini bermuara pada kedisiplinan pengelola dalam menjalankan prosedur keamanan pangan — bukan sekadar insiden teknis.

Korban Semarang Mencapai 707 Orang

Angka di Semarang tidak kecil. Sebanyak 707 orang mengalami gejala gangguan kesehatan setelah menyantap MBG pada Jumat, 31 Juli 2026, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru.

Sebagian besar, 698 orang, ditangani langsung di lokasi. Sembilan lainnya dirujuk ke puskesmas dan rumah sakit untuk observasi lebih lanjut.

Di Distrik Depapre, sekitar 80 siswa mengalami mual, pusing, dan lemas usai menyantap MBG. Pemerintah Kabupaten Jayapura bersama instansi terkait langsung menyelidiki dan mengambil sampel makanan sebagai barang bukti.

BGN menghentikan sementara operasional dapur setiap kali dugaan keracunan muncul. Sampel diperiksa oleh Kementerian Kesehatan dan dinas kesehatan setempat, sebelum BGN memutuskan sanksi terhadap pengelola.

Lima dapur SPPG di Jawa Tengah turut disuspensi dalam proses evaluasi ini. Pemeriksaan tidak berhenti pada kasus keracunan saja — persyaratan infrastruktur dan sanitasi, termasuk instalasi pengolahan air limbah, juga dipersoalkan.

Dapur yang tidak mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, kata Sudaryono, terancam ditutup permanen. BGN bahkan membuka kemungkinan melimpahkan kasus ke aparat penegak hukum, apabila penyelidikan menemukan unsur kesengajaan atau tindak pidana.

“Keracunan ini kami perlakukan sebagai hal yang fatal. Ini menyangkut nyawa, kesehatan, dan keamanan anak-anak,” ujar Sudaryono.

Hasil evaluasi menyeluruh dan penentuan sanksi terhadap dapur-dapur yang melanggar masih belum diungkap ke publik. Yang sudah jelas: log dapur tidak berbohong soal jam berapa makanan mulai dimasak — pertanyaannya, siapa yang mengizinkan jadwal itu berjalan bertahun-tahun tanpa pengawasan ketat?***