Nasional

Prabowo Jawab Kritik Media Asing Soal MBG dan Ekonomi

Prabowo Jawab Kritik Media Asing Soal MBG dan Ekonomi

Presiden Prabowo Subianto merespons kritik media asing terhadap program Makan Bergizi Gratis dan pertumbuhan ekonomi. Ia tegaskan MBG berjalan transparan dan pertumbuhan 5,17 persen bukan rekayasa.

Presiden Prabowo Subianto angkat bicara menanggapi kritik media asing yang menyoroti program Makan Bergizi Gratis dan capaian pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menegaskan seluruh program berjalan transparan dan terukur.

"Ada media asing yang menulis, katanya program MBG ini tidak transparan. Saya jawab, silakan datang ke Indonesia, lihat sendiri. Kami tidak punya yang disembunyikan," ujar Prabowo dalam acara Sarasehan Ekonomi di Jakarta, Minggu (15/6/2026).

Prabowo menekankan, program MBG kini telah menjangkau lebih dari 35 juta penerima manfaat yang tersebar di seluruh provinsi. Anggaran yang digelontorkan mencapai lebih dari Rp170 triliun per tahun.

Terkait pertumbuhan ekonomi, Prabowo menolak anggapan bahwa angka 5,17 persen pada triwulan I 2026 direkayasa. Ia menyebut kritik itu tidak berdasar.

"Mereka bilang pertumbuhan ekonomi kami tidak riil. Saya katakan, lihat data kami. Semua terpublikasi, bisa dicek oleh siapa pun," tegasnya.

Singgung Standar Ganda

Prabowo juga menyinggung apa yang disebutnya sebagai standar ganda media internasional. Menurutnya, saat negara maju menjalankan program serupa, mereka dipuji. Namun saat Indonesia melakukannya, malah dicurigai.

"Di negara lain program makan gratis di sekolah dipuji. Giliran Indonesia yang lakukan, dibilang boros, tidak tepat sasaran, dan sebagainya," ujarnya.

Prabowo meminta semua pihak tidak ragu terhadap komitmen pemerintah dalam membangun sumber daya manusia. Ia mencontohkan, program serupa di Jepang dan Brasil justru menjadi fondasi kemajuan bangsa.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Perekonomian menyatakan pemerintah terus memperkuat tata kelola MBG melalui audit berkala dan evaluasi di setiap titik distribusi. Hal ini dilakukan untuk memastikan tepat sasaran dan akuntabel.

Prabowo menutup dengan optimisme bahwa Indonesia mampu menjadi negara maju pada 2045 jika seluruh elemen bangsa bersatu dan percaya pada kekuatan sendiri.***