Dokumen tulisan tangan Soekeni, beslit kolonial, dan formulir ITB menunjuk Ploso, Jombang sebagai titik kelahiran Sukarno. Tapi narasi resmi terus bergeser mengikuti rezim.
Hari ini, 6 Juni, banyak orang merayakan hari lahir Sukarno. Tapi lahir di mana, dan pada tahun berapa — dua pertanyaan paling dasar itu ternyata belum benar-benar terjawab.
Selama puluhan tahun, sejarah arus utama Indonesia bergerak dari satu versi ke versi lain. Surabaya. Lalu Blitar. Lalu Surabaya lagi. Sebuah prasasti dipasang, dibiarkan berdiri, lalu mulai digugat oleh dokumen-dokumen yang tidak pernah dibuka secara resmi.
Di balik perdebatan yang terasa membosankan itu, ada pertanyaan yang jauh lebih dalam: mengapa sejarah seorang presiden pertama bisa berubah-ubah tergantung rezim yang berkuasa?
Dokumen yang Mengusik Narasi Resmi
Salah satu buku yang paling serius menelusuri akar ini adalah Ida Ayu Nyoman Rai: Ibu Bangsa, ditulis secara kolektif oleh delapan akademisi dan diterbitkan Kemang Studio Aksara pada 2012. Di antaranya Prof. Dr. Tadjoer Rizal Baiduri dari Universitas Darul Ulum Jombang, bersama Prof. Dr. Aminudin Kasdi dan Prof. Dr. Fabiola D. Kurnia.
Bab IV buku itu memuat sesuatu yang sederhana namun mengguncang: dokumen tulisan tangan Raden Soekeni — ayah kandung Sukarno — yang mencatat kelahiran putranya, Kusno, pada 6 Juni 1902.
Bukan 1901 seperti yang tertulis di prasasti Peneleh, Surabaya.
Satu tahun selisih. Tapi angka itu mengubah segalanya.
Di Mana Soekeni Berada pada 1902?
Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal logika geografis yang tidak bisa dibantah.
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Hindia Belanda No. 16232 tertanggal 28 Desember 1901, Soekeni resmi diangkat sebagai Mantri Guru — kepala sekolah — di Sekolah Ongko Loro Ploso. Sejak itu hingga 1907, Ploso adalah tempat tugasnya.
Artinya: pada tahun 1902, Soekeni bukan di Surabaya. Dia di Ploso — kawasan yang kini masuk wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, istri Soekeni, selalu mengikuti ke mana pun suaminya ditugaskan. Sejarawan Peter Apolonius Rohi dari Sumba dan Nyoman Suka dari Bali secara konsisten menyebut bahwa setelah enam bulan di Peneleh Surabaya, keluarga itu pindah ke Ploso — kemudian ke Mojokerto.
Jika Sukarno lahir tahun 1902, maka mustahil ia lahir di Surabaya.
Ploso Bukan Sembarang Tempat
Pada era penjajahan, Ploso bukan desa biasa. Ia adalah ibu kota Kawedanan yang masuk dalam Residensi Surabaya — itulah mengapa dalam formulir pendaftaran Sukarno ke Technische Hooge School (THS) Bandung — yang kelak menjadi ITB — tertulis tempat lahir “Soerabaia”. Ploso adalah bagian administratif dari residensi tersebut.
Kabupaten Jombang sendiri baru resmi berdiri pada tahun 1910. Sebelumnya, Ploso berada di bawah administrasi yang melingkupi wilayah Surabaya.
Ini bukan kejanggalan. Ini penjelasan.
Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, KH. Muchtar Mu’thi, dalam tasyakuran kemerdekaan 19 Agustus 2020, juga menegaskan hal yang sama: Bung Karno lahir di Ploso, tepatnya di Desa Rejoagung. Pernyataan itu bukan tanpa pijakan — ayahnya, KH. Abdul Mu’thi, adalah tokoh yang secara langsung berinteraksi dengan keluarga Soekeni semasa di Ploso.
Kusno yang Nyantri, dan Sejarah yang Melupakannya
Narasi resmi selama ini menyebut Sukarno baru mendalami Islam ketika bertemu A. Hassan di Bandung — dan kemudian meneruskannya lewat surat-menyurat selama pengasingan di Ende.
Tapi ada lubang besar dalam narasi itu.
Di Ploso, Soekeni menjalin hubungan erat dengan KH. Abdul Mu’thi — pengasuh Pesantren Kedung Turi sekaligus tokoh sentral Sarekat Islam setempat. Hubungan itu terjalin atas rekomendasi langsung HOS Tjokroaminoto. Menurut berbagai sumber yang dikumpulkan dalam Ida Ayu Nyoman Rai: Ibu Bangsa, Sukarno kecil pernah nyantri dan belajar dasar-dasar keislaman, fasholatan, dan baca tulis Al-Quran kepada KH. Abdul Mu’thi.
Bukan di Bandung. Bukan di Ende. Di Ploso — saat usianya masih sangat belia.
Fakta ini bukan sekadar trivia sejarah. Ini menyentuh pertanyaan tentang bagaimana kedalaman spiritual dan intelektual seorang proklamator terbentuk — sebuah proses yang dimulai jauh sebelum panggung nasional menemuinya.
Nama Baru dari Ndalem Pojok
Ada babak lain yang juga luput dari perhatian: pergantian nama.
Menurut Kushartono, pengurus Yayasan Persada Sukarno Ndalem Pojok, Kusno pernah jatuh sakit keras sewaktu tinggal di Ploso — hingga sempat mati suri. Dari sinilah dia diperkenalkan dengan Raden Soerati Soemosewojo, yang ternyata sepupu Soekeni sendiri. Kusno dibawa ke Kediri untuk diobati, ke sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Ndalem Pojok.
Di sanalah, nama Kusno diganti menjadi Sukarno.
Bukan di Surabaya. Bukan di Blitar. Di sebuah rumah di Kediri, yang menjadi tujuan kunjungan kenegaraan pertama Sukarno di Jawa Timur pada 1946.
Selama bertahun-tahun sesudahnya, Sukarno kecil bolak-balik antara Ploso dan Kediri. Ia berakar di tanah yang tidak pernah benar-benar diakui oleh sejarah resmi.
Buku Induk yang Raib
Satu detail kecil yang bisa membuat bulu kuduk berdiri: di SDN Ploso 1, Jombang — yang diperkirakan berdiri sejak 1900 — ditemukan buku induk kedua yang mencatat murid dari nomor urut 586 hingga 1145.
Buku induk pertama, yang memuat nomor urut 01 sampai 585 — dan di dalamnya disebut-sebut terdapat nama Kusno — hilang. Dipinjam seseorang, tidak pernah dikembalikan.
Moch. Arifin, salah satu guru SDN Ploso 1, yang menceritakan fakta ini, tidak tahu ke mana buku itu pergi.
Dokumen paling kritis justru yang paling mudah lenyap.
Sejarah Ditulis oleh Pemenang — dan Direvisi oleh Rezim
Menurut sejarawan Peter Kasenda, sebelum 1965 Sukarno disebut lahir di Surabaya. Setelah 1965 — setelah rezim berganti — tiba-tiba versi resminya berubah: Blitar. Kemudian pada 2011, prasasti kembali dipasang di Surabaya.
Pemkab Jombang pada 2024 menyerahkan temuan Tim Ahli Cagar Budaya kepada Universitas Bung Karno dan Yayasan Pendidikan Soekarno di Jakarta, meminta mediasi dengan Pemkot Surabaya untuk mendiskusikan ulang bukti-bukti sejarah.
Diskusi itu belum selesai. Dan mungkin tidak akan mudah diselesaikan — karena ada kepentingan politik daerah, warisan narasi nasionalisme, dan agenda identitas yang ikut bermain di dalamnya.
Tapi yang lebih mengganggu bukan persaingan antardaerah itu.
Yang mengganggu adalah pertanyaan: mengapa dokumen tulisan tangan Soekeni, beslit kolonial, dan formulir registrasi THS Bandung — semua menunjuk ke arah yang sama — tidak pernah menjadi bagian dari narasi resmi?
Yang Dipertaruhkan Bukan Hanya Kota Kelahiran
Perdebatan tentang di mana Sukarno lahir mungkin terdengar seperti urusan akademis yang tidak berdampak langsung pada kehidupan hari ini.
Tapi sebenarnya ini tentang sesuatu yang lebih besar: siapa yang berhak mendefinisikan ulang sejarah, dan berdasarkan apa?
Ketika buku induk pertama SDN Ploso 1 raib tanpa jejak, ketika dokumen tulisan tangan Soekeni tidak masuk ke dalam kanon resmi, ketika narasi bergeser tergantung rezim yang sedang berkuasa — kita sedang berbicara tentang sejarah yang dikelola, bukan sejarah yang ditemukan.
Ploso, Jombang, mungkin hanya sebuah kota kecil di tepi Brantas. Tapi dari sanalah — jika bukti-bukti itu dibaca secara jujur — seorang anak bernama Kusno pertama kali mengenal dunia, belajar mengaji, berpindah nama, dan mulai membentuk jiwa yang kelak akan memproklamasikan kemerdekaan sebuah bangsa.
Sejarah yang tidak diceritakan utuh bukan sekadar sejarah yang tertinggal. Ia adalah sejarah yang pernah ada, lalu dipilih untuk dilupakan. Dan pertanyaannya selalu sama: oleh siapa, dan untuk kepentingan apa?[*]
