Menkomdigi Meutya Hafid membalas wacana pemutusan kabel internet oleh politikus Singapura. Data pemerintah sendiri menunjukkan 90 persen trafik internet RI melintasi negara itu.
Mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng, mengunggah infografis di X pada Minggu (25/10/2026) dengan pertanyaan singkat, “Cut?” (Potong?).
Infografis itu berjudul Indonesia’s Internet Dependence on Singapore dan mengklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melintasi Singapura.
Cheng lalu menegaskan Singapura tidak akan memotong kabel itu. “Kami adalah masyarakat beradab yang taat hukum,” demikian pernyataannya.
Hingga Rabu (28/10) pagi, unggahan itu dilihat sekitar 686 ribu kali, menurut laporan sejumlah media.
Dipicu sengketa gas
Unggahan itu muncul di tengah polemik pemangkasan ekspor gas Indonesia ke Singapura. Cheng juga mengkritik pemerintah Indonesia soal penghormatan terhadap perjanjian pasokan gas.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyatakan pemangkasan dimulai Sabtu (24/10/2026).
Volumenya 31 miliar British thermal unit per hari (BBTUD): 15 BBTUD dari Natuna dan 16 BBTUD dari Sumatera. Pasokan itu dialihkan demi listrik di Batam, Bintan, dan Sumatera.
Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) menyebut pengurangan itu kurang dari 2 persen kebutuhan gas harian yang melampaui 1.000 BBTUD.
Berdasarkan keterangan importir, EMA menilai pengurangan sesungguhnya mencapai 17 BBTUD selama 18 hari, berbeda dengan angka 31 BBTUD dari SKK Migas.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Minggu (25/10), menyatakan para importir gas akan menempuh semua langkah untuk melindungi hak kontraktual mereka.
“Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia”
Meutya merespons lewat Instagram pada Selasa (27/10/2026) dan mengimbau masyarakat agar tidak cemas.
Menurut dia, sebagian besar kabel laut yang mendarat di Singapura melintasi perairan Indonesia. Jika terputus, 80 persen kapasitas konektivitas Singapura terancam lumpuh.
Meutya menambahkan, infrastruktur digital perlu dijaga bersama demi kepentingan kedua negara dan konektivitas global.
Sejumlah laporan menyebut ia juga menyinggung risiko kerugian investasi di Singapura jika konektivitas terganggu.
Hingga Rabu (28/10) sore, penelusuran belum menemukan tanggapan resmi pemerintah Singapura atas pernyataan Meutya.
Angka 90 persen itu bukan temuan Cheng. Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi, Denny Setiawan, telah menyampaikannya pada Juni 2026.
Denny menyebut ketergantungan itu seperti “Selat Hormuz di Selat Malaka”, dan mendorong diversifikasi jalur kabel laut maupun kabel darat.
Menurut platform pemetaan kabel GeoCables, Indonesia memiliki 72 kabel bawah laut: 42 domestik dan 30 internasional. Ke-30 kabel internasional itu terhubung ke Singapura.
Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif Angga menyebut bencana alam di koridor laut Singapura dapat mengganggu internet Indonesia.
Kabel baru Nongsa-Changi sepanjang 50 kilometer, yang mendarat di Batam pada 20 Juli 2026, juga menghubungkan Indonesia dengan Singapura.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kabel itu memperkuat posisi Batam sebagai gerbang digital Indonesia.***