Perang Badr menciptakan dua angle pemahaman para sahabat Nabi terhadap Islam. Mereka yang memeluk Islam sejak awal perjuangan Rasul—sejak dakwah di Darul Arkham—percaya bahwa Islam bermakna “mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Sementara mereka yang memeluk Islam pasca-Perang Badr, terutama tokoh-tokoh besar yang tampil di atas panggung sejarah, menganut kepercayaan bahwa “Islam adalah kekuasaan”. Yang mereka lihat ialah keperkasaan fisikal Islam. Mereka merasa mendapatkan keamanan duniawi jika “beragama Islam”.
Beda orientasi dalam memandang Islam itu tergambar dalam dialog al-Abbas dengan Ali ibn Abi Thalib, saat Rasulullah Saw. sakit menjelang wafat. Prof. Husain Mu’nis dalam Dirasat fi al-Sirah al-Nabawiyah (Kairo, 1988) menulis: ”Perhatikan informasi berikut, yang diriwayatkan dari banyak sumber sirah: Ketika Ali ibn Abi Thalib keluar dari menjenguk Rasulullah Saw., orang-orang bertanya kepadanya bagaimana keadaan beliau. Ali menjawab, ’Alhamdulillâh membaik’. Abbas langsung menarik lengan Ali dan berkata kepadanya, ’Wahai Ali, engkau menganggap biasa. Demi Allah, aku melihat tanda-tanda kematian pada wajah Rasulullah Saw., sebagaimana aku melihatnya pada wajah-wajah keturunan Abdul Muththalib. Mari kita menghadap beliau, menanyakan apakah soal (penerus beliau) berada di tangan kita, atau jika harus dengan orang lain, kita meminta supaya beliau mewasiatkan kepada kita’. Ali berkata, ’Tidak. Demi Allah, jika kita memintanya sekarang, orang tidak akan memberikannya kepada kita sesudah beliau pergi’.” (Al-Baladzari, 1/565).
Dari beda perspektif antara Abbas dan Ali, dan keputusan yang diambil Ali, terpercik pelajaran bahwa jalan terbaik untuk merawat kesatuan umat adalah menampik bujukan untuk menguasai tongkat komando. Seandainya Ali mengikuti saran al-Abbas, bisa jadi sejarah Islam langsung auto-berdarah-darah begitu Nabi wafat. Untungnya bagi Ali waktu itu Islam bukanlah soal politik. Friksi internal umat pun teredam, hingga tiba masa Ustman ibn Affan, di mana Islam mulai mencatatkan sejarah yang berdarah-darah.
Rakus pada kekuasaan membikin umat yang wahidah terpecah-pecah. Mahabah musnah. Sejarah Islam mencatat semua itu dengan pilu.
Bukankah seperti itu yang terjadi sekarang? Sayang sekali. (Forensik Narasi)
