Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) sepertinya makin panas luar-dalam. Ketika isu aliran “uang koordinasi” dari pemain tambang ilegal kepada Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Agus Andrianto makin kencang dan panas, gedung Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) terbakar. Memang tak bisa secara sembarangan mengaitkan kedua peristiwa itu, tetapi bisa saja ini merupakan bahasa simbol, bukan?
Apalagi, menurut sumber Forensik Narasi, perang bintang di tubuh Polri kali ini sudah masuk ke stadium sangat lanjut dan akut. “Perang bintang ini nanti bisa jadi sampai tembak-tembakan fisik,” kata sumber tadi, menggambarkan betapa “gentingnya” suasana korps Tribrata.
Tensi isu semakin naik setelah setelah mantan Kepala Biro Pengamanan Internal (Karo Paminal) Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri Hendra Kurniawan membenarkan bahwa ada Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Propam Polri yang berisi hasil penelusuran Ropaminal mengenai kasus tambang ilegal yang uangnya mengalir ke Kabareskrim. LHP yang dimaksud Hendra itu itu bernomor R/ND-137/III/WAS.2.4./2022/Ropaminal tertanggal 18 Maret 2022.
LHP tersebut melengkapi berkas LHP yang ditandatangani Ferdy Sambo ketika masih menjabat sebagai Kadiv Propam, dan sudah diserahkan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pada Selasa, 22 November 2022 lalu, usai sidang pembunuhan Brigadir Yoshua, Sambo mengiyakan bahwa dia pernah menandatangani surat LHP Propam Mabes Polri tentang tambang ilegal di Kaltim yang menyeret nama Kabareskrim. Dokumen itu adalah LHP Propam Mabes Polri Nomor R/1253/IV/WAS/2.4./2022/Divpropam tertanggal 7 April 2022. “Ya, sudah benar, itu suratnya,” kata Sambo.
Dua orang bekas petinggi Divisi Propram sudah bersuara. Dokumen LHP juga sudah ada. Lalu, kapan tindak lanjutnya? Sayangnya Kepala Divisi Propam yang baru, Irjen Syahar Diantono, belum bersuara sama sekali. Sulit sekali menyitir pernyataan komandan dari polisinya polisi itu. Ketika Forensik Narasi mencoba sambang ke Mabes Polri, di bilangan Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, medio pekan ini, suasananya begitu mencekam. Semua orang di sana langsung bungkam ketika ada yang menanyakan perihal isu ini. Sangat sensitif dan “panas”.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit mengklaim sudah memerintahkan untuk menangkap Ismail Bolong, ketika diwawancara Tempo pada 18 November 2022—tepat sepekan sebelum posting ini diunggah. Namun, sepekan berlalu, tindak lanjut perintah itu masih membisu. Ngomong-ngomong, di mana Ismail Bolong sekarang? Apa sudah “dibolongin” duluan?
Ketika semua masih padas, saling diam sembari menggenggam bara dalam sekam, Jumat, 25 November 2022, Kabareskrim Komjen Agus Andrianto mulai berani buka suara, merespons isu tuduhan terhadapnya. Dia malah mengaku heran, kenapa Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan ketika masih menjabat malah melepas Ismail Bolong, bila kasus tambang ilegal di Kaltim itu benar? "Kenapa kok dilepas sama mereka (Sambo dan Hendra) kalau (hasil penyelidikan Ismail Bolong) waktu itu benar,” kata Agus Andrianto kepada wartawan, sebagaimana dikutip Era.id, Jumat (25/11/2022).
Namun, Agus tak menjawab apakah dia benar menerima uang dari Ismail Bolong atau tidak. Dia hanya mengatakan jika keterangan satu orang tidak cukup untuk membuktikan suatu perkara. “Keterangan saja tidak cukup, apalagi sudah diklarifikasi (Ismail Bolong) karena dipaksa (Hendra untuk membuat testimoni),” ucap Agus.
Agus menganggap Ferdy Sambo dan Hendra sedang memainkan isu. “Jangan-jangan mereka yang terima (uang) dengan tidak teruskan masalah (tambang ilegal di Kaltim). Lempar batu untuk alihkan isu,” tambahnya.
Nah, kan, bola panas dilempar balik: dari umpan lambung pernyataan Sambo-Hendra, diumpan balik jadi isu pengalihan isu. Mana yang benar?
Publik semakin bingung, tentu saja. Kebiasaan main umpan-umpan panjang ala bulutangkis seperti ini, bila tak segera disudahi, niscaya semakin menggerus kepercayaan publik terhadap Polri. Bagaimana bisa presisi melayani, mengayomi, dan melindungi masyarakat jika membenahi dalamannya sendiri keteteran?
Apa harus menunggu “prediksi” sumber Forensik Narasi itu jadi kenyataan: dari perang bintang, jadi tembak-tembakan beneran? Atau bakar-bakaran beneran? Kalau memang harus begitu, siapa yang bakal terbakar duluan?
Sudahlah, segera sudahi semuanya. Publik sudah lelah, benar-benar merindukan Polri yang benar-benar presisi!*
#ForensikNarasi.
