Dua botol “sampo” dari Malaysia berbobot 2,2 kilogram itu ternyata cairan narkotika. Bea Cukai membiarkannya sampai ke rumah tujuan — dan menemukan pabrik rumahan siap produksi massal.
Kejelian petugas di Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta berawal dari hal sepele: sebuah paket kiriman dari Malaysia yang beratnya terasa janggal untuk isian sampo biasa.
Setelah dibuka, isinya bukan sampo. Dua botol cairan etomidate, dengan berat bruto sekitar 2.200 gram, disamarkan dalam kemasan produk perawatan rambut itu.
“Tapi dia disamarkan dalam kemasan sampo. Jumlahnya sekitar 2.200 gram bruto,” kata Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Soekarno-Hatta Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang, Jumat, 17 Juli 2026.
Alih-alih langsung menyita paket itu, Bea Cukai memilih membiarkannya jalan terus. Metode ini disebut control delivery — paket tetap dikirim, tapi diawasi ketat sampai tiba di alamat tujuan.
Jejak itu berujung di sebuah rumah mewah di klaster perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Di sanalah petugas gabungan Bea Cukai dan Polresta Bandara Soekarno-Hatta menemukan yang mereka duga sebagai laboratorium gelap rumahan.
Ribuan cartridge kosong berjajar bersama peralatan pengisian. Semuanya siap dirakit menjadi produk jadi.
Rumah Kosong Jadi Titik Rakit
Modus ini rupanya berbeda dari kasus-kasus sebelumnya. Biasanya, cartridge berisi etomidate dibawa langsung oleh penumpang dari luar negeri dalam satu paket utuh.
Kali ini, jaringan itu memecah rantainya. Cairan etomidate datang lewat jasa titipan dari Malaysia, sementara cartridge kosong didatangkan lewat jalur terpisah — dan baru dirakit setelah sampai di Indonesia.
“Jadi kalau biasanya modusnya kita dapat di bandara penumpang dari luar membawa cartridge yang berisi etomidate, ini dia terpisah. Dia masukkan etomidate sendiri, nanti dari tempat lain ada masuk cartridge-nya, dan dia rakit di sini,” jelas Hengky.
Dari rumah itu pula polisi mengamankan LHM alias Hyden, pria 34 tahun berkewarganegaraan Singapura yang diduga berperan sebagai peracik atau “koki” produk.
Kepala Polresta Bandara Soekarno-Hatta Komisaris Besar Wisnu Wardana menyebut ribuan barang bukti ikut disita bersama penangkapan itu.
“Untuk tersangka sementara kita amankan satu orang warga negara asing, yaitu dari Singapura, dengan ribuan barang bukti,” kata Wisnu.
Dari dua liter bahan baku yang disita, polisi memperkirakan jaringan ini bisa menghasilkan hampir 2.000 cartridge siap edar. Pengisian cairan ke dalam cartridge sendiri baru mulai berjalan pada Kamis, 16 Juli 2026 — sehari sebelum penggerebekan.
Artinya, operasi ini kemungkinan baru seumur jagung. Berapa lama sebenarnya rumah itu sudah beroperasi, dan berapa banyak produk yang sempat beredar ke pasar, masih jadi pekerjaan rumah penyidik.
Wisnu mengatakan penyidik masih mendalami durasi aktivitas perakitan tersebut, termasuk sejauh mana jaringan yang terlibat.
“Dari hasil pengembangan, kami menemukan ribuan cartridge yang telah dipersiapkan untuk produksi massal. Saat ini penyidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap jaringan yang terlibat serta peran masing-masing pelaku,” ujar Wisnu.
Etomidate sendiri adalah obat anestesi (bius) yang biasa digunakan dalam tindakan medis di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Sejak masuk Narkotika Golongan II lewat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025, penyalahgunaannya di luar kepentingan medis berstatus ilegal.
Penyidik belum mengumumkan pasal yang dikenakan kepada LHM maupun nilai total barang bukti. Yang jelas, dari satu paket “sampo” yang salah kirim, terbongkarlah rantai pasok yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan.***