Hukum

Atensi Khusus Prabowo: Di Balik Penggeledahan 12 Lokasi yang Bongkar 74 Kg Emas hingga Rumah Diduga Milik Jampidsus

Atensi Khusus Prabowo: Di Balik Penggeledahan 12 Lokasi yang Bongkar 74 Kg Emas hingga Rumah Diduga Milik Jampidsus
Kolase Istimewa — Polri menyatakan, penggeledahan di Cipete dan Sentul terkait tiga kasus besar merupakan atensi Presiden Prabowo Subianto. (Kolase Istimewa)

Presiden Prabowo Subianto disebut memberi atensi khusus pada tiga kasus korupsi ini. Hasilnya, 12 lokasi digeledah dalam semalam, dari kafe di Cipete hingga rumah diduga milik Jampidsus di Sentul, dengan 74 kg emas jadi barang bukti.

Presiden Prabowo Subianto punya perhatian khusus pada tiga perkara korupsi ini. Hasilnya baru terlihat di lapangan.

Tim gabungan Kortas Tipidkor Polri dan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menggeledah 12 lokasi di Jabodetabek dalam waktu kurang dari 24 jam.

Mulai dari kafe di Cipete hingga rumah mewah di Sentul City yang diduga kuat milik Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan ini bukan operasi rutin.

Penyidikan korupsi, suap, gratifikasi, dan pencucian uang terkait tiga perkara besar ini menjadi atensi khusus Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan itu diulang dua kali oleh pejabat berbeda dalam dua hari terakhir. Sinyal bahwa tekanan dari istana turut mendorong percepatan kasus.

Ketika “atensi presiden” jadi kata kunci penggeledahan

Frasa “atensi Bapak Presiden” muncul berulang dalam keterangan resmi Polri sepekan ini.

Kepala Kortas Tipidkor Polri Irjen Totok Suharyanto, saat turun ke lokasi penggeledahan Cipete, menegaskan hal serupa.

Polri terus melaksanakan penegakan hukum terhadap perkara yang menjadi atensi Presiden Republik Indonesia, katanya.

Penyidikan dilakukan lewat skema joint investigation dengan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

Mencakup tiga proses penanganan hukum: PLN batu bara, Asabri periode 2020–2025, serta utang PT CBS ke PT KNI pada periode sama.

Ada pola yang layak dicermati: penyebutan eksplisit “atensi presiden” biasanya mengiringi kasus yang butuh percepatan atau rawan secara politik.

Pertanyaannya, apakah label ini murni dorongan antikorupsi, atau juga melindungi penyidik dari intervensi pihak berkepentingan?

Sebab perkara ini menyentuh sosok setingkat Jampidsus. Ini titik yang pantas terus dikawal media dan publik.

Operasi meluas jadi 12 lokasi dalam semalam

Penggeledahan bermula dari Kafe de’Clan Signature dan Point Money Changer di Cipete, Rabu (8/7/2026) siang.

Menjelang tengah malam, operasi meluas jadi 12 lokasi total. Berikut daftarnya:

  1. PT CBS, Cengkareng Timur, Jakarta Barat
  2. Kantor Pusat PT CBS, Penjaringan, Jakarta Utara
  3. PT KNI, Petojo Selatan, Jakarta Pusat
  4. Rumah berinisial MN, Serpong Utara, Tangerang Selatan
  5. Rumah berinisial TK, Mega Kuningan, Jakarta Selatan
  6. Kantor/Grup DMG/CP, Kuningan, Jakarta Selatan
  7. PT PML, Karet Kuningan, Jakarta Selatan
  8. Rumah berinisial DR, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan
  9. Rumah berinisial MILDK, Apartemen Pacific Place, Jakarta Selatan
  10. Rumah di Sentul, Bogor — diduga kediaman Jampidsus Febrie Adriansyah
  11. Kafe de’Clan Signature, Cipete, Jakarta Selatan
  12. Point Money Changer, Cipete, Jakarta Selatan

Di Cipete, penyidik menemukan brankas tersembunyi di balik lemari lantai dua kafe.

Isinya uang tunai rupiah dan valuta asing sekitar Rp60 miliar, ditambah Rp7,2 miliar dari money changer di sebelahnya.

Namun temuan paling mengejutkan datang dari Sentul: brankas besi tersembunyi di balik dinding kayu bermotif.

Isinya 74 kilogram emas batangan yang diikat lakban cokelat, puluhan gepok dolar AS dan Singapura, serta dustbag Hermes dan Louis Vuitton.

Nilai totalnya ditaksir ratusan miliar rupiah.

Irjen Totok Suharyanto membenarkan temuan brankas Sentul saat dikonfirmasi Rabu malam.

Ia belum merinci isi lengkapnya karena inventarisasi masih berjalan. Kepemilikan rumah masih didalami penyidik, kata Budi Hermanto.

Suara.com melaporkan dugaan kuat rumah itu adalah kediaman Febrie Adriansyah.

Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Kejaksaan Agung maupun Polri soal status kepemilikan tersebut.

Tiga perkara yang sama-sama “besar” bagi presiden

Kenapa tiga kasus ini yang dapat atensi presiden, bukan perkara korupsi lain yang jumlahnya ratusan tiap tahun?

Jawabannya kemungkinan ada pada skala dan dampak publiknya.

PLN batu bara menyentuh langsung kehidupan warga. Dugaan manipulasi kualitas dan kuantitas pasokan batu bara PLTU berlangsung sejak 2018–2026.

Polri menyebut praktik ini berkontribusi pada blackout yang melanda Sumatera, sebagian Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga sebagian Jabodetabek akhir Mei 2026.

Brigjen Pol Robertus Yohanes De Deo menyebut kerugian negara dan perekonomian diindikasikan mencapai sekitar Rp5 triliun.

Angka itu masih menunggu audit investigatif Badan Pemeriksa Keuangan. Ketika listrik padam massal jadi berita nasional, kasus ini otomatis jadi prioritas politik.

Asabri membawa beban sejarah kelam. Kasus lama pengelolaan dana investasi 2012–2019 sudah mencatat kerugian negara Rp22,78 triliun menurut BPK.

Sejumlah mantan direksi divonis 20 tahun penjara dalam kasus itu.

Perkara baru yang kini disidik justru menyoroti dugaan penyimpangan dalam proses penanganan hukum kasus tersebut pada 2020–2025.

Bukan korupsi awal, melainkan dugaan permainan di sekitar proses hukumnya sendiri. Ini menyentuh kredibilitas sistem peradilan korupsi secara langsung.

Krakatau Steel, tepatnya penyelesaian utang PT CBS ke PT KNI (anak usaha Krakatau Steel) 2020–2025, melibatkan BUMN strategis sektor baja nasional.

Bayang-bayang penguntitan Jampidsus, dua tahun sebelum atensi ini

Ironisnya, sosok yang rumahnya diduga digeledah dalam operasi beratensi presiden ini pernah jadi korban pengintaian aparat sendiri.

Pada Minggu, 19 Mei 2024, Febrie Adriansyah makan malam di restoran Prancis di Cipete — dekat titik penggeledahan kafe hari ini.

Dua pria tak dikenal, belakangan diketahui anggota Densus 88, mengarahkan alat diduga perekam ke ruang VIP tempat Febrie makan.

Salah satunya, Iqbal Mustofa, diamankan Polisi Militer TNI yang mengawal Febrie.

Kapuspenkum Kejagung saat itu, Ketut Sumedana, membenarkan insiden ini. Ditemukan profil dan foto Febrie di ponsel anggota Densus tersebut.

Polri kemudian menyatakan kasus ini selesai tanpa sanksi bagi pelakunya.

Insiden itu terjadi ketika Febrie menangani kasus-kasus besar, termasuk perkara tata niaga timah senilai ratusan triliun rupiah.

Sepanjang kariernya sebagai Direktur Penyidikan Jampidsus, ia juga pernah menangani kasus Jiwasraya dan Asabri.

Dua nama yang kini kembali muncul, dalam penyidikan gabungan Polri yang menyasar rumah yang diduga miliknya sendiri.

Ketegangan lama Kejaksaan Agung dan Polri ini penting sebagai latar. Ketika presiden beri atensi pada perkara yang menyentuh institusi Kejaksaan, publik berhak bertanya.

Sejauh mana ini murni penegakan hukum, dan sejauh mana mencerminkan dinamika relasi kuasa antarlembaga sejak 2024?

Yang masih perlu dikawal

Hingga berita ini disusun, belum ada satu pun tersangka ditetapkan dalam ketiga perkara ini.

Status kepemilikan rumah Sentul dan kaitannya dengan Febrie Adriansyah masih sebatas dugaan, belum dikonfirmasi resmi.

Prinsip praduga tak bersalah tetap berlaku bagi semua pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.

Polri menyatakan akan terus berkoordinasi dengan BPK dan PPATK memastikan angka kerugian negara final serta melacak aliran dana TPPU.

Atensi presiden pada kasus sebesar ini menempatkan tekanan publik tinggi pada penyidik.

Untuk membuktikan penegakan hukum berjalan tanpa pandang bulu — termasuk jika hasilnya mengarah ke lingkaran pejabat penegak hukum sendiri.***