Bank Indonesia menyebut volume transaksi QRIS tumbuh 100,12 persen dan nilainya meningkat 89,52 persen secara tahunan. Namun, perbandingan dengan publikasi resmi semester I 2025 menghasilkan persentase yang berbeda.
Volume transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS mencapai 12,55 miliar sepanjang semester I 2026.
Nilai transaksi yang diproses hingga akhir Juni tercatat sebesar Rp600,69 triliun.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menyebut volume transaksi tersebut tumbuh 100,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilainya disebut meningkat 89,52 persen secara tahunan.
“QRIS sebagai gerbang ekonomi digital sekaligus pengubah keadaan bagi ekonomi dan keuangan digital nasional,” kata Filianingsih dalam Prima Executive Gathering 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis, 6 Agustus 2026.
Ekspansi itu ditopang oleh bertambahnya pengguna dan pedagang yang menerima pembayaran QRIS.
Hingga akhir Juni, jumlah penggunanya mencapai sekitar 66 juta orang. Sementara jumlah gerai atau merchant mencapai 44,86 juta.
Bank sentral menargetkan QRIS digunakan oleh 70 juta orang dan diterima 47 juta merchant hingga akhir 2026. Target volume transaksi sepanjang tahun dipatok sebanyak 17 miliar.
Realisasi 12,55 miliar transaksi pada enam bulan pertama telah mencapai sekitar 73,8 persen dari target tahunan.
Ekosistem QRIS melibatkan 96 bank, 60 lembaga nonbank, dan empat lembaga switching yang memproses data pembayaran.
Basis Pertumbuhan Menyisakan Kejanggalan
Pertumbuhan QRIS memang menunjukkan ekspansi pembayaran digital. Namun, pemeriksaan terhadap data pembanding justru menyingkap celah yang belum dijelaskan.
Dalam siaran pers resmi pada 4 Agustus 2025, BI mencatat transaksi QRIS sepanjang semester I 2025 mencapai 6,05 miliar transaksi. Nilainya sebesar Rp579 triliun. Publikasi resmi Bank Indonesia juga mencatat 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant pada periode tersebut.
Jika dibandingkan langsung, volume transaksi meningkat dari 6,05 miliar menjadi 12,55 miliar. Kenaikannya mencapai sekitar 107,4 persen, bukan 100,12 persen.
Keganjilan yang lebih besar terlihat pada nilai transaksi.
Kenaikan dari Rp579 triliun menjadi Rp600,69 triliun hanya sekitar 3,75 persen. Angka itu berbeda jauh dari pertumbuhan 89,52 persen yang disampaikan untuk semester I 2026.
Perhitungan terbalik juga memperlihatkan basis yang berlainan.
Pertumbuhan volume sebesar 100,12 persen mengindikasikan angka pembanding sekitar 6,27 miliar transaksi. Sementara pertumbuhan nilai sebesar 89,52 persen mengindikasikan basis sekitar Rp316,95 triliun.
Selisih tersebut belum membuktikan bahwa data BI keliru.
Perbedaan dapat dipengaruhi pembaruan data, koreksi statistik, periode pencatatan, atau cakupan transaksi yang tidak sama. Namun, BI belum mengungkap faktor mana yang digunakan dalam perhitungan tersebut.
Transparansi mengenai basis data menjadi penting. Tanpa penjelasan itu, publik menghadapi dua gambaran pertumbuhan yang berbeda untuk periode yang seharusnya dapat dibandingkan.
Perlindungan Konsumen Ikut Disorot
Di tengah lonjakan transaksi, BI menyoroti literasi dan perlindungan konsumen sebagai tantangan yang harus diperkuat.
Ancaman yang dipetakan meliputi penipuan digital, penggantian kode QR milik pedagang, transaksi tidak sah, kebocoran data, serta penyelesaian pengaduan ketika pembayaran gagal.
Risiko tersebut patut disorot karena pembayaran digital banyak digunakan kelompok muda.
Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus 2025, sekitar 68,98 persen penduduk Indonesia berasal dari generasi Z, milenial, dan kelompok setelah generasi Z.
Karena itu, pertumbuhan pengguna dan transaksi belum cukup digunakan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Kualitas perlindungan konsumen, kecepatan pengembalian dana, keamanan sistem, biaya yang ditanggung pedagang, dan pemerataan penggunaan di luar kota besar juga perlu ditelusuri.
Bank Indonesia menyatakan penguatan sistem pembayaran hingga 2030 akan bertumpu pada lima inisiatif. Kelimanya meliputi infrastruktur, industri, inovasi, internasionalisasi, dan Rupiah Digital.
QRIS telah mencatat pertumbuhan besar. Namun, selama basis perhitungannya belum dibuka, angka pertumbuhan itu masih menyisakan pertanyaan: data mana yang sebenarnya sedang dibandingkan?***