Laju ekonomi turun 0,32 poin persentase dari kuartal sebelumnya. Industri pengolahan, pertanian, dan konstruksi masih tumbuh, tetapi pertambangan terkontraksi.
Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Angka yang diumumkan Badan Pusat Statistik pada Rabu, 5 Agustus 2026, itu melampaui perkiraan ekonom meski melambat dari kuartal sebelumnya.
Pada kuartal I 2026, produk domestik bruto tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Dengan demikian, pertumbuhan periode April–Juni melambat 0,32 poin persentase dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini.
Realisasi tersebut lebih tinggi daripada median perkiraan 28 ekonom dalam jajak pendapat Reuters. Mereka sebelumnya memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,10 persen pada kuartal II.
Dibandingkan kuartal I 2026, perekonomian tumbuh 3,73 persen. Angka pertumbuhan kuartalan itu tidak disesuaikan dengan faktor musiman.
Tambang Terkontraksi
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan, pertanian, dan konstruksi masih mencatatkan pertumbuhan. Ketiga sektor tersebut menjadi bagian dari penopang kegiatan ekonomi selama April–Juni 2026.
Sebaliknya, sektor pertambangan mengalami kontraksi. Pelemahan sektor ini terjadi di tengah kebijakan pembatasan kuota produksi sejumlah komoditas tambang.
Pertumbuhan kuartal II juga lebih lambat karena Ramadan dan Idulfitri pada 2026 berlangsung pada kuartal pertama. Periode hari raya biasanya meningkatkan konsumsi, mobilitas masyarakat, dan belanja pemerintah.
Data BPS sebelumnya memperlihatkan pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen secara tahunan pada kuartal I. Konsumsi rumah tangga ketika itu juga menguat seiring dengan momentum Ramadan, Idulfitri, dan kegiatan mudik.
Pertumbuhan 5,29 persen membuat perekonomian Indonesia tetap berada di atas 5 persen. Namun, angkanya masih terpaut 2,71 poin persentase dari sasaran pertumbuhan 8 persen yang ingin dicapai Presiden Prabowo Subianto sebelum akhir dekade.
Kenaikan Bunga Menjadi Risiko
Pertumbuhan pada paruh kedua 2026 menghadapi tekanan dari kebijakan moneter yang lebih ketat. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin pada Mei dan 25 basis poin pada Juni.
Total kenaikan dalam dua bulan tersebut mencapai 75 basis poin, bukan 100 basis poin. BI-Rate menjadi 5,75 persen setelah Rapat Dewan Gubernur pada 17–18 Juni 2026.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17–18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen,” demikian keterangan resmi Bank Indonesia.
Kenaikan suku bunga ditempuh untuk menarik aliran modal dan menjaga nilai tukar rupiah. Namun, kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman rumah tangga dan dunia usaha serta menahan konsumsi, kredit, dan investasi.
Tekanan eksternal berasal dari kenaikan harga energi akibat konflik Iran. Pemerintah meningkatkan belanja subsidi bahan bakar untuk menahan dampaknya terhadap masyarakat, sementara rupiah masih diperdagangkan mendekati titik terendah terhadap USD.
Perincian komponen pengeluaran BPS akan menentukan kualitas pertumbuhan tersebut, terutama kontribusi konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor neto.***