Ekonomi & Bisnis

Pemasangan Pagar Tinggi di Mal Picu Polemik, Polisi Tegaskan Situasi Kondusif

Pemasangan Pagar Tinggi di Mal Picu Polemik, Polisi Tegaskan Situasi Kondusif
Penampakan pagar Mal Kota Kasablanka di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, yang baru dipasang beberapa hari lalu menjadi perhatian warganet, Jumat (31/7/2026). (Istimewa)

​Pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal memicu polemik. Pemerintah dan kepolisian membantah isu keamanan, sementara pakar menilai pengusaha sedang dicengkeram kecemasan.

​Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi Komisaris Jenderal Fadil Imran menegaskan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat saat ini sangat kondusif. Pernyataan ini merespons polemik pemasangan pagar setinggi 2,5 meter di sejumlah pusat perbelanjaan Jakarta dan Surabaya.

​"Sampai hari ini berdasarkan data Sistem Pelaporan Operasi Harian, tidak ada hal yang menonjol," kata Fadil menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta Timur, Sabtu (1/8/2026).

​Fadil meminta masyarakat tidak termakan spekulasi gangguan ketertiban terkait pengamanan fisik mal. Menurutnya, kepolisian selalu siaga setiap hari tanpa memerlukan antisipasi khusus terhadap momentum Agustus.

​Kecemasan Pelaku Usaha

​Berbeda dengan kepolisian, pakar kebijakan publik Trubus Rahardiansyah menilai fenomena ini secara tegas mencerminkan kecemasan pelaku usaha. Ketakutan terhadap potensi gejolak keamanan tersebut dipicu oleh memori kericuhan pada masa lalu.

​"Kalau itu seperti Pakuwon Mall di Jakarta maupun Surabaya, karena kekhawatiran terjadi seperti (kerusuhan) 1998," kata Trubus saat dihubungi, Sabtu (1/8/2026).

​Trubus memandang pemasangan perlindungan fisik yang eksklusif tersebut sangat berlebihan. Ia mendesak pemerintah daerah mengambil langkah nyata, bukan sekadar memberikan imbauan kepada pengelola.

​"Pak Pramono Anung harus bertindak keras, dibongkar. Kalau cuma mengimbau doang, dicuekin," tandasnya.

​Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti maraknya pemasangan pagar yang menjulang itu. Ia berencana segera mengoordinasikan penertiban karena bangunan tersebut membangun kesan Jakarta sedang tidak aman.

​Bantahan Pengelola

​Ihwal kekhawatiran yang telanjur menyebar, Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi membantah pemagaran terkait antisipasi kerusuhan. Pemasangan di batas properti mereka diklaim murni demi menghindari kecelakaan lalu lintas.

​"Kalau semua orang menyeberang dan masuk sembarangan, ini bahaya buat penyeberang. Kita bukan peramal, ekonomi baik-baik saja," ungkap Sutandi.

​Menteri Perdagangan Budi Santoso turut memastikan ketiadaan isu keamanan. Budi mengeklaim telah berkoordinasi langsung dengan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia dan mendapati situasi niaga aman terkendali.

​Senada dengan hal itu, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi meminta masyarakat menahan diri dari penyebaran rumor.

​"Kita doakan bangsa kita aman. Berita-berita yang menebar ketakutan itu sebaiknya diklarifikasi juga, teman-teman wartawan bisa cek sendiri di lapangan," kata Hasan.***