Ekonomi & Bisnis

IHSG Naik, Rakyat Belum Tentu Ikut Senang

IHSG Naik, Rakyat Belum Tentu Ikut Senang

Jutaan orang merayakan rekor IHSG, padahal lebih dari separuh angkatan kerja Indonesia hidup di sektor informal yang tak punya saham selembar pun. Siapa sebenarnya yang bermain di bursa?

 Setiap kali IHSG mencetak rekor, redaksi bisnis bersorak. Analis pasar modal angkat jempol. Pejabat mengutip angka itu sebagai bukti kepercayaan investor terhadap Indonesia. Tapi di warung pinggir jalan, di bengkel tambal ban, di lapak sayur yang buka sebelum matahari terbit—hidup berjalan tanpa peduli apakah indeks hari ini hijau atau merah.

Ini bukan soal pesimisme. Ini soal membaca peta dengan jujur.

IHSG adalah cermin. Tapi cermin itu hanya memantulkan wajah sebagian kecil dari wajah Indonesia yang sesungguhnya.

Siapa yang Bermain di Bursa?

Per Desember 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia melampaui 20 juta single investor identification (SID), meningkat 34,8 persen dibandingkan posisi akhir 2024. Angka ini terkesan masif. Namun letakkan angka itu di sebelah total penduduk Indonesia—sekitar 280 juta jiwa—dan gambaran yang muncul jauh lebih sederhana: baru sekitar tujuh persen warga negara ini yang terdaftar sebagai investor di pasar modal.

Bahkan dari tujuh persen itu, sebagian besar hanya sesekali aktif. Per Juni 2025, dari hampir 17 juta investor ritel domestik yang terdaftar, hanya sekitar 179 ribu yang aktif bertransaksi setiap hari.

Jadi ketika IHSG bergejolak, siapa sebenarnya yang menggigil atau bersyukur? Bukan pedagang ayam di Pasar Senen. Bukan buruh jahit di Tangerang. Bukan petani sawit di Riau.

Ekonomi Nyata Ada di Luar Bursa

Inilah yang sering luput dari pemberitaan: ekonomi Indonesia justru berjalan paling keras di tempat yang tidak tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Sepanjang 2024, konsumsi rumah tangga berkontribusi 54,04 persen terhadap total PDB Indonesia. Ini bukan konsumsi orang-orang yang sibuk memantau grafik saham. Ini adalah belanja harian ratusan juta orang: beli beras, bayar listrik, jajan di warung.

Di sisi tenaga kerja, gambarannya lebih telak lagi. Pada Februari 2024, pekerja sektor informal di Indonesia mencapai 84,13 juta orang, atau 59,17 persen dari total penduduk yang bekerja. Mereka ini—pedagang kaki lima, ojek daring, buruh harian lepas, petani gurem—adalah tulang punggung denyut ekonomi sehari-hari. Dan mereka nyaris tak punya hubungan langsung dengan naik-turunnya IHSG.

Ditambah lagi, UMKM berkontribusi sekitar 60,5 persen terhadap PDB nasional—unit-unit usaha kecil yang hidup dari perputaran modal harian, bukan dari sentimen investor institusi di Wall Street atau Singapura.

Kenapa IHSG Bisa Turun Saat Ekonomi Tumbuh?

Jawaban singkatnya: karena IHSG adalah barometer ekspektasi, bukan realitas.

Ketika investor memperkirakan laba perusahaan akan meningkat, mereka membeli saham—indeks naik. Ketika ketidakpastian datang, mereka menjual—indeks turun. Pergerakan itu bisa terjadi dalam hitungan jam, jauh mendahului perubahan nyata di sektor riil.

Contoh paling gamblang terjadi pada April 2025. IHSG sempat anjlok dari 7.079 di akhir 2024 menjadi 5.967 pada 9 April 2025, sebelum kembali menguat ke 7.175 pada 28 Mei 2025. Penyebabnya: kebijakan tarif impor Amerika Serikat di bawah Trump yang memicu kepanikan pasar global. Ekonomi domestik Indonesia tidak berubah drastis dalam rentang waktu itu, tapi IHSG sempat terjun bebas—dan media ramai-ramai melaporkannya seolah Indonesia sedang menuju jurang.

Inilah risiko membaca IHSG sebagai satu-satunya termometer ekonomi: kita bisa salah diagnosis, dan kebijakan publik yang lahir dari diagnosis keliru bisa berdampak pada jutaan orang yang bahkan tidak tahu IHSG adalah apa.

Pengaruh Asing yang Sering Diabaikan

Satu lagi faktor yang kerap terlewat dalam pemberitaan: seberapa besar tangan investor asing menggerakkan IHSG.

Hingga akhir Juni 2025, kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia tercatat sebesar 45,91 persen—turun dari 63,79 persen pada 2015 dan 51,85 persen pada 2019. Meskipun kepemilikan asing terus menyusut seiring tumbuhnya investor domestik, angka hampir 46 persen itu tetap bukan bilangan kecil.

Artinya: ketika Federal Reserve Amerika menaikkan suku bunga, ketika konflik geopolitik meletus di belahan dunia lain, ketika dana asing tiba-tiba bergerak pulang ke negara asalnya—IHSG ikut terguncang. Bukan karena ada yang salah dengan perusahaan-perusahaan Indonesia. Bukan karena daya beli masyarakat tiba-tiba ambruk. Tapi karena posisi investor asing yang masif itu membuat bursa kita sensitif terhadap guncangan eksternal.

Saat IHSG menyentuh level terendah empat tahun pada 8 April 2025, investor asing melakukan penjualan bersih hingga Rp3,8 triliun dalam sehari. Investor domestik—ritel maupun institusi—yang kemudian menjadi penyangga. Ini paradoks menarik: publik yang sering dikatakan belum melek investasi justru menjadi penyelamat stabilitas bursa di tengah badai.

Membaca IHSG dengan Lebih Jujur

Bukan berarti IHSG tidak penting. Indeks ini tetap sinyal yang berguna—untuk membaca kepercayaan investor, untuk menangkap ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan, untuk memantau apakah modal asing sedang masuk atau keluar.

Tapi menjadikannya satu-satunya ukuran kesehatan ekonomi adalah seperti menilai kesehatan seseorang hanya dari tekanan darahnya, tanpa memeriksa kadar gula, fungsi ginjal, atau kondisi jiwanya.

Indikator ekonomi yang lebih relevan bagi mayoritas rakyat Indonesia justru adalah yang jarang jadi headline: tingkat inflasi bahan pokok, daya beli upah minimum, tingkat pengangguran terbuka, harga sembako di pasar tradisional, dan akses kredit bagi pelaku UMKM.

Ketika angka-angka itu membaik, jutaan orang merasakannya langsung—bahkan mereka yang belum pernah sekalipun membuka aplikasi investasi. Ketika angka-angka itu memburuk, IHSG pun bisa saja sedang berwarna hijau.

Dua Layar yang Berbeda

Indonesia menjalankan dua perekonomian secara bersamaan: satu yang terlihat di layar monitor trading—penuh grafik, candlestick, dan angka real-time; satu lagi yang terasa di punggung jutaan pekerja informal, di meja makan keluarga kelas menengah bawah, di antrean pembeli LPG 3 kilogram.

Dua layar itu kadang bergerak searah. Tapi lebih sering tidak.

Literasi ekonomi yang sejati bukan hanya soal memahami cara beli saham. Ia juga soal memahami bahwa ada lebih dari 84 juta sesama warga negara yang ekonominya tidak ditentukan oleh IHSG—melainkan oleh harga cabai, upah harian, dan ada-tidaknya pembeli yang datang hari ini.

Selama kita belum bisa membaca dua layar itu sekaligus, kita akan terus salah mendiagnosis kondisi bangsa.***