Ekonomi & Bisnis

IHSG Melesat 1,86 Persen, Rupiah Masih Tertekan

IHSG Melesat 1,86 Persen, Rupiah Masih Tertekan

Indeks saham sentuh level tertinggi Juni di 6.377, sementara rupiah bertahan di Rp17.741 per dolar AS di tengah ancaman tarif AS dan jelang pengumuman hasil RDG Bank Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan menguat tajam pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Sempat menyentuh level tertinggi Juni di 6.377, indeks ditutup menguat 1,86 persen ke posisi 6.370,2 pada awal sesi.

Data RTI menunjukkan 472 saham menguat, 117 saham melemah, dan 368 saham stagnan. Penguatan ini kontras dengan nilai tukar rupiah yang masih bergerak di zona merah.

Rupiah dibuka melemah 13 poin atau 0,07 persen ke Rp17.738 per dolar AS. Hingga pagi, mata uang Garuda bertahan di kisaran Rp17.741 per dolar AS.

Sentimen Damai Timur Tengah Jadi Katalis

Sentimen positif terutama datang dari perkembangan geopolitik global. Rencana penandatanganan kesepakatan damai AS-Iran di Jenewa pada Jumat (19/6) memicu ekspektasi meredanya ketegangan dan normalisasi jalur pelayaran Selat Hormuz.

Harga minyak mentah dunia terkoreksi signifikan. West Texas Intermediate turun lebih dari empat persen ke kisaran USD80 per barel, sementara Brent melemah ke sekitar USD83 per barel.

Dari dalam negeri, pasar mencermati dimulainya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini. RDG ini diprakirakan mengevaluasi dampak kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin yang dilakukan di luar jadwal pada 9 Juni lalu, sehingga BI Rate kini di level 5,50 persen. Hasil rapat diumumkan Kamis (18/6) pukul 14.00 WIB.

Tekanan terhadap rupiah sendiri masih dibayangi ancaman tarif impor tambahan AS. Pemerintah memperkirakan tarif untuk produk nasional dapat meningkat hingga 18 persen setelah investigasi Section 301 selesai, dengan batas waktu tarif sementara 10 persen yang berakhir pada 24 Juli 2026.

Analis Phintraco Sekuritas menilai prospek IHSG dalam jangka pendek masih positif secara teknikal. Indikator MACD masih menunjukkan histogram positif yang terus meningkat, menandakan momentum penguatan belum sepenuhnya berakhir.***