Penandatanganan perjanjian gencatan senjata AS-Iran dijadwalkan di Jenewa, Jumat (19/6). Namun penolakan Israel menarik mundur pasukan dari Lebanon membuat perdamaian penuh belum terjamin.
Amerika Serikat dan Iran akan menandatangani kesepakatan gencatan senjata di Jenewa, Swiss, pada Jumat (19/6). Penandatanganan dilakukan dua hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan perjanjian itu rampung.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua!" tulis Trump di Truth Social, Minggu (14/6).
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, mediator kunci bersama Qatar, memastikan upacara digelar di Swiss. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi teks nota kesepahaman telah final. "Penghentian perang secara permanen dan segera telah dideklarasikan di semua lini," ujarnya.
Kesepakatan itu mencakup gencatan senjata 60 hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz begitu perjanjian ditandatangani. AS mencabut blokade angkatan lautnya. Selat Hormuz, jalur yang biasa dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, ditutup Iran tak lama setelah serangan AS-Israel pada 28 Februari memicu perang.
Nuklir Masih Menggantung
Dokumen kesepakatan resmi belum dirilis. Namun laporan Channel 12 Israel yang dikutip Axios menyebut ada 12 poin utama dalam kerangka perjanjian. Poin kritis adalah nasib program nuklir Iran yang belum tuntas dan akan dibahas dalam negosiasi lanjutan.
Trump sebelumnya menyatakan kepada The New York Times bahwa Iran akan diizinkan melakukan pengayaan uranium tingkat rendah — pergeseran signifikan dari posisi awal AS yang menuntut penghentian total program nuklir.
Pasukan Israel Bertahan di Lebanon
Ganjalan terbesar datang dari Israel. Menteri Pertahanan Israel menegaskan pasukannya tidak akan mundur dari Lebanon. Sebaliknya, Iran menegaskan perjanjian harus mencakup penghentian pertempuran di Lebanon. Israel bukan pihak dalam kesepakatan ini.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan meminta bertemu Trump untuk membahas isi perjanjian.
Pasar global bereaksi positif. Harga minyak dunia turun lebih dari empat USD per barel, sementara bursa Asia menguat dengan Nikkei naik 4,99 persen dan KOSPI 5,20 persen.***
