Daerah

707 Siswa-Guru SMKN 6 Semarang Diduga Keracunan MBG

707 Siswa-Guru SMKN 6 Semarang Diduga Keracunan MBG
Ratusan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan seusai menyantap menu MBG. Penyebabnya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Ratusan orang mengalami pusing, diare, mual, hingga muntah setelah menyantap menu MBG. Sembilan korban dirujuk untuk menjalani observasi.

Sebanyak 707 siswa dan guru SMKN 6 Semarang mengalami gejala dugaan keracunan setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Distribusi makanan dari dapur penyelenggara dihentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam mengatakan jumlah tersebut terdiri atas 693 siswa dan 14 guru. Mereka mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan pada Kamis, 30 Juli 2026.

“Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru,” kata Hakam dalam keterangannya, Jumat, 31 Juli 2026.

Keluhan mulai dirasakan sebagian siswa pada Kamis malam. Kepala SMKN 6 Semarang Berti Sagendra menyebut gejala yang dilaporkan antara lain pusing, lemas, diare, dan muntah.

Dinas Kesehatan menerima laporan kejadian tersebut sekitar pukul 10.30 WIB pada Jumat. Petugas kesehatan kemudian mendatangi sekolah untuk memeriksa dan menangani para siswa serta guru yang mengalami keluhan.

Sebanyak 698 orang mendapat penanganan langsung di lingkungan sekolah. Sembilan lainnya dirujuk ke Puskesmas Halmahera, Puskesmas Bangetayu, Rumah Sakit Umum Daerah KRMT Wongsonegoro, dan Rumah Sakit Tentara Bhakti Wira Tamtama.

“Fokus kami saat ini memastikan seluruh siswa maupun guru yang mengalami gejala memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya,” ujar Hakam.

Sampel Makanan Diperiksa

Dinas Kesehatan mengaktifkan Tim Gerak Cepat untuk melakukan penyelidikan epidemiologi. Petugas mengambil sampel makanan, sisa pangan, dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium.

“Secara bersamaan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi serta pengambilan sampel makanan dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium sebagai bagian dari penelusuran penyebab kejadian,” kata Hakam.

Sejumlah siswa mengatakan menu MBG yang mereka santap berupa ayam rendang dan sayur daun singkong. Seorang siswa mengaku menemukan bagian ayam yang diduga belum matang sempurna, tetapi keterangan tersebut belum menjadi kesimpulan penyelidikan.

Dinas Kesehatan belum memastikan bahan pangan ataupun tahapan pengolahan yang menyebabkan munculnya keluhan. Sumber kejadian baru akan ditentukan setelah penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai.

Distribusi MBG Dihentikan

Pemerintah Kota Semarang berkoordinasi dengan SMKN 6 Semarang, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kota Semarang Timur atau Karangturi, Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri, serta fasilitas kesehatan terkait.

Distribusi makanan dari SPPG tersebut dihentikan sementara sebagai langkah kehati-hatian. Penghentian berlaku selama proses penyelidikan dan pemeriksaan sampel masih berlangsung.

“Kami belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan laboratorium selesai. Karena itu, kami mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan,” ujar Hakam.***