Setelah sepekan menyelidiki, polisi memastikan ledakan di MAN 3 Padang tak berkaitan jaringan teror—akar masalahnya ternyata jauh lebih personal dan menahun.
Polda Sumatera Barat memastikan ledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang tidak berkaitan dengan jaringan terorisme mana pun. Fokus penyidikan kini bergeser sepenuhnya ke pemulihan psikologis pelaku.
Ledakan terjadi Selasa, 14 Juli 2026, di dekat ruang kelas XII IPS 7. Siswa berinisial R (17) diketahui menyiapkan empat bom rakitan dari rumah dan membawanya dalam tas sekolah.
Menurut Kapolresta Padang Kombes Apri Wibowo, R menyalakan sumbu satu bom saat jam istirahat sekitar pukul 10.15 WIB. "Bom itu dipantik menggunakan mancis saat jam istirahat," katanya.
Ledakan berdaya rendah itu hanya meninggalkan bekas gosong pada meja dan dinding kelas. Tiga bom lainnya berhasil diamankan dari dalam tas pelaku sebelum sempat meledak. Tidak ada korban jiwa maupun luka.
Dendam yang Dipendam Sejak Kelas Dua
Penyelidikan lanjutan mengungkap akar masalah yang jauh lebih lama dari dugaan awal. Kepala Bidang Humas Polda Sumbar Kombes Susmelawati Rosya menyebut R sudah menjadi sasaran perundungan sejak duduk di kelas dua.
"Sejak pertama duduk di kelas dua, dia sudah di-bully sama teman-temannya," kata Susmelawati, Kamis (16/7/2026). Tekanan itu, katanya, menumpuk menjadi beban psikologis mendalam sebelum akhirnya meledak jadi aksi nekat.
Kasat Reskrim Polresta Padang Kompol M. Yasin menguatkan temuan itu. "Dari pemeriksaan awal, kami menemukan bahwa motif pelaku R adalah korban risak," ujarnya.
Bukan Radikalisme, tapi Luka Lama
Sempat muncul kekhawatiran soal keterkaitan kasus ini dengan kelompok radikal, mengingat R mengaku belajar merakit bahan peledak secara otodidak lewat internet dan terinspirasi kasus serupa di SMA Negeri 72 Jakarta pada 2025. Polisi menegaskan dugaan itu tak terbukti.
"Kejadian ini tidak ada hubungannya dengan jaringan-jaringan terorisme," kata Susmelawati. Status hukum R sebagai anak yang berhadapan dengan hukum pun belum ditetapkan karena pemeriksaan masih berjalan.
Polisi kini memprioritaskan pendampingan bagi R sekaligus trauma healing bagi siswa lain di sekolah. Sekolah menyebut R sebagai siswa pendiam yang tak pernah melaporkan perundungan yang dialaminya—hingga bom itu meledak dan membongkar semuanya.***