Draf kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran bocor ke publik. Isinya dinilai sangat menguntungkan Teheran hingga membuat Donald Trump murka.
Sebuah draf memorandum kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan kecamuk perang di Timur Tengah dilaporkan bocor ke ruang publik.
Dokumen rahasia tersebut diungkap oleh sejumlah sumber diplomatik dari negara Barat, Pakistan, dan internal Iran pada Jumat malam (12/6/2026). Isinya langsung memicu polemik besar karena dinilai cenderung menguntungkan pihak Teheran.
Kabar ini langsung mendapat respons konfrontatif dari Presiden AS Donald Trump. Melalui akun media sosial pribadinya, Trump dengan tegas membantah keabsahan isi dokumen yang beredar luas tersebut.
"Persyaratan yang dibocorkan Iran ke Berita Palsu TIDAK ada hubungannya dengan persyaratan yang telah disepakati secara tertulis. Orang-orang [Iran] sangat tidak terhormat untuk diajak berurusan," tulis Donald Trump, Sabtu (13/6/2026).
AS Berikan Konsesi Besar?
Berdasarkan salinan draf yang ditinjau oleh Reuters, Washington dilaporkan siap memberikan konsesi besar. AS akan segera mencairkan aset Iran senilai miliaran dolar yang selama ini dibekukan.
Selain itu, AS juga bakal mencabut sanksi embargo atas ekspor minyak bumi Iran. Sebagai imbalan, Teheran wajib membuka kembali blokade total di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi logistik maritim dunia.
Anehnya, tuntutan utama AS agar Iran menyerahkan persediaan uranium yang sangat diperkaya (highly enriched uranium) justru tidak tercantum dalam naskah kesepakatan tersebut. Pembahasan program nuklir justru ditunda selama 60 hari.
Terbukanya peluang ganti rugi perang hingga ratusan miliar dolar untuk Teheran menjadi poin krusial yang membuat draf ini dinilai sangat berpihak pada kepentingan Iran.
Israel Menolak Ikut Campur
Sejumlah sumber menekankan bahwa dokumen ini belum bersifat final. Isu penarikan militer dan penghentian konflik bersenjata di Lebanon bersama milisi Hizbullah masih menjadi batu sandungan utama.
Jika poin bahasa hukum berhasil disepakati, memorandum damai ini rencananya akan ditandatangani di Jenewa, Swiss, pada Minggu (14/6/2026) oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammed Baqer Qalibaf.
Di sisi lain, sekutu utama AS, Israel, justru dikabarkan absen dari meja perundingan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya menolak tunduk pada isi memorandum tersebut.
Netanyahu bahkan terlibat friksi tajam dengan Trump dalam beberapa pekan terakhir akibat tekanan Washington yang meminta Israel membatasi agresi militer di Lebanon demi memuluskan kesepakatan dengan Iran.***
