Program makan bergizi untuk anak-anak Indonesia ternyata lebih dulu mengenyangkan perut para pejabatnya sendiri. Inilah potret paling jujur dari apa yang kita sebut “pemerintahan.”
Ada sebuah teori linguistik yang tidak diajarkan di bangku mana pun — karena memang tidak ada yang berani mengajarkannya. Teori ini menyatakan bahwa kata “government” sesungguhnya tidak berasal dari bahasa Latin “gubernare”, melainkan dari nama seorang karakter bernama Goofy.
Goofy adalah kata tunggal. Dan ketika menjadi jamak, dia berubah menjadi government.
Goofy, bagi yang belum kenal, adalah anjing berkaki dua ciptaan Walt Disney. Ia selalu tampak sibuk, selalu tampak bersemangat, dan hampir selalu gagal menyelesaikan apa pun yang ia mulai.
Ia tidak jahat. Ia tidak licik. Ia hanya… tidak kompeten secara struktural — sebuah kondisi yang tampaknya diwariskan secara turun-temurun kepada seluruh keturunan institusionalnya.
Menurut teori ini, para pendiri negara-negara modern suatu hari berkumpul dan bertanya: Lembaga seperti apa yang harus kita bentuk untuk mengurus rakyat? Seseorang mengusulkan “sekumpulan Goofy” — a government of Goofies — dengan alasan bahwa Goofy setidaknya tidak berbahaya.
Usulan itu diterima bulat-bulat, lalu huruf-hurufnya disingkat, dilatinkan, dan dipoles hingga terdengar berwibawa.
Tentu saja ini bukan fakta sejarah. Ini hanya satire.
Tapi kadang satire lebih jujur dari siaran pers.
Sebab begitulah kenyataannya: Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola MBG tahun anggaran 2025–2026.
Bersamanya, dua mantan Wakil Kepala BGN ikut terseret: Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung. Ketiganya melenggang keluar Gedung Bundar dengan rompi kuning — seragam paling jujur yang pernah mereka kenakan.
Spesifikasi Teknis Seekor Goofy
Sebelum melanjutkan, perlu kita tetapkan dulu standar ilmiahnya. Seorang Goofy institusional dapat diidentifikasi melalui tiga ciri utama:
Pertama, ia selalu terlihat bekerja keras. Ada rapat, ada presentasi, ada foto di depan spanduk dengan angka-angka besar. Semua terlihat seperti kerja. Tidak ada yang benar-benar selesai, tapi prosesnya sangat meyakinkan.
Kedua, ia tidak pernah bertanggung jawab atas kerusakan yang ditinggalkannya. Dalam setiap episode kartun, Goofy menabrak sesuatu lalu berjalan pergi sambil bersiul. Di dunia nyata, ia menulis surat pengunduran diri dan menyebut dirinya “sudah berkontribusi maksimal.”
Ketiga — dan ini yang paling berbahaya — ia tidak sendirian. Goofy selalu hadir dalam kawanan. Dan kawanan Goofy yang diberi anggaran triliunan rupiah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih merusak dari sekadar kekonyolan kartun.
Tulang yang Diperebutkan
Terjadi mark-up dalam pengadaan barang berupa motor listrik, sepatu, dan televisi — di dalam program yang seharusnya memastikan anak-anak Indonesia tidak kekurangan gizi.
Motor listrik. Sepatu. Televisi.
Seseorang duduk di kursi jabatan, menandatangani dokumen, dan memutuskan bahwa sepatu adalah bagian dari upaya menurunkan angka stunting nasional. Entah logika apa yang digunakan. Mungkin memang tidak ada logika.
Inilah yang para ahli sebut sebagai Goofy Reasoning — sebuah proses berpikir yang dimulai dari kesimpulan (saya ingin untung) lalu berjalan mundur mencari justifikasi yang cukup masuk akal untuk ditandatangani atasan.
Anggaran program MBG tercatat Rp85,20 triliun di tahun 2025 dan Rp268 triliun di tahun 2026, bersumber dari APBN. Angka sebesar itu dikelola oleh orang-orang yang ternyata lebih sibuk memikirkan bagaimana caranya menjadi yang paling kenyang di antara semua orang yang mestinya mereka layani.
Anggaran program MBG selama ini dikelola oleh yayasan yang terafiliasi dengan Dadan dkk. Uang negara diputar di dalam kandang sendiri. Rakyat di luar pagar, menatap.
Konflik Kepentingan yang Diakui dengan Bangga
Yang lebih menggelikan — sekaligus menjijikkan — adalah betapa terang-terangannya semua ini berlangsung. Keterlibatan pejabat BGN dalam pengadaan MBG diakui secara terbuka. Salah satunya beralasan bahwa dengan memiliki dapur MBG, ia akan lebih mengetahui berbagai persoalan yang terjadi.
Konflik kepentingan dijual sebagai kearifan manajerial. Perampok yang berdalih ia merampok supaya tahu rasanya dirampok.
Inilah keistimewaan Goofy dibanding penjahat biasa: ia tidak merasa bersalah karena ia benar-benar tidak mengerti bahwa yang dilakukannya salah. Ini bukan kebodohan yang dibuat-buat. Ini adalah kebodohan yang telah dilembagakan, distrukturkan, dan diberi tunjangan jabatan.
Transparency International Indonesia mencatat MBG membuka ruang bagi korupsi sistemik akibat lemahnya tata kelola, berkelindannya konflik kepentingan, serta praktik pengadaan yang tidak akuntabel.
Laporan itu terbit Juni 2025 — satu tahun penuh sebelum rompi kuning itu akhirnya dipakai. Satu tahun anggaran yang habis sambil semua Goofy pura-pura tidak membaca laporan tersebut.
Janji di Atas Piring Kosong
Wakil Presiden Gibran Rakabuming menegaskan pemerintah berkomitmen penuh melakukan perbaikan menyeluruh pada tata kelola MBG, demi memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Setiap rupiah.” Kalimat itu terdengar sangat tulus jika dibaca tanpa mengetahui bahwa rupiah-rupiah itu sudah terlanjur berubah menjadi televisi dan sepatu di gudang yang tidak ada hubungannya dengan gizi siapa pun.
Sony Sonjaya menyatakan siap menjadi justice collaborator dan berjanji membeberkan nama-nama oknum di lembaga eksekutif maupun legislatif yang diduga ikut menikmati “bancaan” anggaran dapur MBG.
Bancaan. Kata yang tepat. Selamatan yang hanya dihadiri tamu undangan tertentu, sementara anak-anak yang seharusnya menjadi alasan program ini berdiri, menunggu di luar dengan piring kosong.
Maka kembalilah kita ke teori tadi. Mungkin government memang bukan dari gubernare. Mungkin ia benar-benar dari Goofy — dari tradisi panjang orang-orang yang diberi kemudi tapi tidak pernah belajar menyetir, yang diberi amanah tapi tidak pernah mengerti beratnya, yang diberi piring penuh lalu memakannya sendiri sambil bersiul.
Bedanya dengan Goofy sungguhan: yang satu hidup di kartun, dan tidak ada anak yang ditipu dengan jargon Makan Bergizi Gratis.***