Ingat, kan, awal tahun ini Wali Kota Medan Bobby Nasution—menantu Presiden @jokowi—melontarkan pernyataan bahwa Medan menolak perilaku lesbian, gay, biseksual, transgender atau LGBT? “Enggak ada, ya. Kota Medan enggak ada LGBT. Kita anti-LGBT," tegas Bobby Senin, 2 Januari 2023.
Mungkin, sekilas, pernyataan Bobby ‘hanyalah’ bentuk tanggung jawabnya sebagai walikota yang harus menjaga keutuhan moral di wilayah yang dia pimpin. Namun, jangan salah, bisa jadi pernyataan itu adalah ungkapan keresahan Bobby terhadap fenomena LGBT yang semakin marak di Indonesia.
Menurut hasil penelusuran sementara Forensik Narasi, fenomena seksual menyimpang ini bahkan sudah mulai ‘melembaga’ di kalangan elite poltik Tanah Air.
“Saat ini ada 14 pejabat tinggi negara ini yang terindikasi sebagai gay dan biseksual. Beberapa sudah mengakuinya,” kata sumber Forensik Narasi, mantan orang dalam lingkungan kementerian yang pernah berinteraksi langsung dengan para pejabat “AC/DC” itu. “Biasanya mereka selalu memamerkan kemesraan dengan pasangan lawan jenis di media sosial untuk menutupi perilaku seksual mereka yang sebenarnya menyimpang,” jelas si sumber.
“Selain punya pasangan lawan jenis,” lanjut sumber tadi, “mereka juga punya pasangan sejenis. Ada yang berpasangan dengan pesohor Indonesia, ada juga yang punya ‘pacar’ pria di luar negeri.” Dia lalu menyebutkan beberapa nama “orang penting dan terkenal” yang membuat Forensik Narasi “terhenyak”. Benar-benar tak disangka…
Bobby memang ‘hanya’ walikota. Tapi, sebagai menantu presiden, tentu dia punya akses ke lingkaran elite. Tentunya dia tahu ada fenomena apa di sana. Bisa jadi dia tahu bahwa fenomena yang disampaikan oleh sumber tadi benar-benar ada, dan pernyataan sikapnya sebagai Walikota Medan adalah “kode” untuk menyampaikan apa yang sedang terjadi di “kalangan atas”. Siapa tahu, kan?
Lalu, bagaimana fenomena LGBT bisa merasuk ke tataran elite? Apakah Presiden tahu? Forensik Narasi akan coba menelusurinya dan mengumpulkan data-data yang valid. Jika fenomena elite itu akhirnya terkonfirmasi, maka tak heran kenapa negara ini cenderung permisif terhadap fenomena LGBT.
Lha wong elitenya sendiri juga begitu.(Forensik Narasi/bersambung)
