Kehadiran fisik tanpa perhatian utuh dari orang tua akibat gawai melukai batin anak. Pembatasan layar menjadi kunci menyelamatkan kelekatan emosional keluarga.
Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Kurniawan menjadikan peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Kepulauan Riau pada Kamis, 23 Juli 2026, sebagai momentum mengampanyekan pembatasan gawai.
Pemenuhan hak anak tidak hanya sebatas materi, melainkan juga kehadiran nyata orang dewasa di sekitarnya. "Pemenuhan hak dan perlindungan anak tidak dapat dilakukan sendirian. Diperlukan kerja sama lintas sektor agar setiap anak terlindungi," kata Kurniawan.
Bahaya Laten Pengabaian Digital
Ihwal bahaya gawai, kebiasaan orang tua yang terlalu asyik memegang ponsel pintar ternyata membawa dampak luka batin yang serius. Jurnal Frontiers in Psychology edisi Juni 2026 mengungkap fenomena phubbing atau pengabaian demi layar memicu kecemasan pada remaja.
Ketika orang tua terus-menerus menatap layar saat bermain atau makan bersama, anak merasa bahwa ponsel tersebut jauh lebih penting dari diri mereka. Penolakan halus yang terjadi berulang kali ini menanamkan rasa takut ditinggalkan saat anak tumbuh dewasa.
Penelitian menunjukkan bahwa menurunkan tingkat responsivitas orang tua selama 10 menit saja sudah cukup mengubah interaksi. Anak yang mulanya ceria seketika berhenti bercerita, merasa keberadaannya tidak dihargai oleh orang terdekatnya.
Renggangnya Ikatan Emosional Keluarga
Selain itu, studi dalam jurnal Psikohumaniora (2025) menemukan bahwa perilaku abai orang tua meningkatkan risiko kecanduan gawai pada remaja. Kelekatan emosional keluarga perlahan melemah karena anak merasa tidak didengar.
Kehilangan sosok tempat bersandar, para remaja ini menarik diri secara emosional. Mereka lantas mencari pelarian melalui penggunaan ponsel pintar yang tidak terkendali untuk sekadar mengisi kekosongan kasih sayang di rumah.
Padahal, tatapan mata, sentuhan, dan percakapan langsung sangat dibutuhkan otak anak untuk membangun sistem emosi yang stabil. Kualitas interaksi pada akhirnya terbukti lebih penting ketimbang durasi kebersamaan tanpa kehadiran jiwa.
Ancaman Perkembangan Otak dan Kosakata
Pengabaian ini diperparah bila anak juga diberikan akses gawai yang tidak terbatas sebagai jalan pintas pengasuhan agar mereka tenang. Mengutip laporan BBC, riset Children of the 2020s menemukan anak dengan paparan layar lima jam sehari memiliki kosakata yang jauh lebih rendah.
Ketua Tim Penelitian dari UCL Prof Pasco Fearon menyebut keseimbangan adalah kunci utama agar teknologi tidak menjadi bumerang. "Screen time dalam durasi singkat atau moderat, khususnya bagi anak di atas dua tahun, tampaknya tidak berbahaya," ujar Fearon.
Paparan visual bertempo cepat merangsang otak anak masuk ke mode siaga. Akibatnya, detak jantung memacu lebih cepat dan membuat anak-anak rentan gelisah serta sangat sulit menenangkan diri saat menghadapi tekanan.
Mengembalikan Ruang Interaksi Nyata
Sebelumnya, pemerintah telah merespons krisis interaksi ini dengan menerbitkan Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026. Kebijakan ini membatasi penggunaan gawai di lingkungan sekolah demi mengembalikan kemampuan sosialisasi anak secara langsung.
Kementerian juga merancang Main Raya Anak Nusantara, sebuah ruang bermain tradisional seperti gasing dan bakiak. Tujuannya adalah mengembalikan senyum dan kegembiraan interaksi antarsesama yang selama ini perlahan terenggut oleh layar digital.
Pada akhirnya, anak-anak membutuhkan sosok yang utuh, bukan orang tua yang raganya ada di ruang tamu namun pikirannya tersesat di dunia maya. "Mari bergandengan tangan. Pastikan setiap anak tumbuh setara, berkembang seutuhnya, dan riang bersama menuju masa depan yang gemilang," kata Kurniawan.
Daftar Pustaka
BBC. (2026). Laporan mengenai Riset Children of the 2020s dan Dampak Screen Time pada Kemampuan Kognitif Anak. Disarikan dari wawancara dengan Prof. Pasco Fearon (UCL).
Departemen Pendidikan Inggris. (2026). Rekomendasi Batasan Penggunaan Layar (Screen Time) pada Anak Usia Dini. London: Departemen Pendidikan Inggris.
Fearon, P., dkk. (2026). Children of the 2020s: Studi Longitudinal terhadap Perkembangan Anak dan Penggunaan Gawai. London: University College London (UCL).
Frontiers in Psychology. (Juni 2026). Dampak Phubbing Orang Tua terhadap Risiko Kecemasan dan Masalah Kelekatan (Attachment) pada Remaja. Disarikan melalui laporan Gizmodo.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2026). Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Lingkungan Satuan Pendidikan. Jakarta: Kemendikdasmen RI.
Marini, L., Hendriani, W., Wulandari, P. Y., & Larsari, V. N. (2025). Pengaruh Parental Phubbing terhadap Risiko Problematic Smartphone Use pada Remaja. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi.
Wass, S. (2026). Overstimulasi Visual dan Respons Fight-or-Flight pada Otak Anak Akibat Konten Digital Bertempo Cepat. London: University of East London.