IHSG naik 0,61 persen pada pembukaan perdagangan Senin. Namun, kenaikan minyak dunia dan ketidakpastian di Selat Hormuz membuat investor tetap berhati-hati.
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menguat 35,90 poin atau 0,61 persen ke level 5.932,03 pada pembukaan perdagangan Senin, 29 Juni 2026. Penguatan itu terjadi ketika pasar domestik masih mencermati risiko kenaikan harga minyak dan keamanan jalur energi di Selat Hormuz.
Indeks LQ45, yang berisi 45 saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia, turut naik 0,17 persen menjadi 584,70. Kenaikan pada awal perdagangan belum sepenuhnya mengubah sikap hati-hati investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi domestik dan global pekan ini.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi. “Pelaku pasar mencermati kemampuan IHSG bertahan di area support 5.882 atau 5.688 atau 5.520,” kata Liza dalam kajiannya, Senin.
Menurut dia, resistance terdekat berada pada rentang 5.996 hingga 6.013. Pasar juga akan menunggu data Indeks Manajer Pembelian atau PMI manufaktur Indonesia, inflasi Juni, dan neraca perdagangan sebagai petunjuk kekuatan ekonomi domestik serta arah kebijakan Bank Indonesia.
Minyak Menguat di Tengah Risiko Hormuz
Dari pasar global, harga minyak mentah kembali naik setelah serangkaian serangan balasan Amerika Serikat dan Iran menghambat pelayaran energi melalui Selat Hormuz.
Kontrak Brent naik 0,8 persen menjadi USD72,57 per barel pada Senin pagi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI juga menguat 1,3 persen menjadi USD70,11 per barel.
Kenaikan itu terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian serangan terbaru serta rencana melanjutkan pembicaraan mengenai perselisihan di Selat Hormuz. Namun, pasar belum sepenuhnya mempercayai bahwa gangguan pasokan akan pulih cepat.
Analis ING menilai risiko di pasar minyak masih besar bila pemulihan pasokan berlangsung lebih lambat dari perkiraan. Mereka menilai pasar terlalu mengandalkan asumsi bahwa arus minyak dari Teluk Persia segera kembali normal.
Pelayaran di selat tersebut kembali melambat setelah serangan terhadap kapal-kapal di kawasan itu sejak pekan lalu. Analis ANZ menilai pemulihan pasokan dapat tertahan oleh antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, dan penghentian produksi di sejumlah titik.
Rupiah dan Inflasi Jadi Perhatian
Bagi Indonesia, kenaikan minyak dunia berpotensi menambah perhatian pasar terhadap nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi. Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah maupun produk bahan bakar minyak.
Bank Indonesia mencatat kurs transaksi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran Rp18.051,81 untuk kurs jual dan Rp17.872,19 untuk kurs beli pada Senin. Kurs tersebut menjadi salah satu referensi transaksi spot dolar-rupiah antarbank.
Di pasar global, indeks dolar AS bertahan dekat level tertinggi dalam satu tahun. Penguatan dolar dipicu ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih berpeluang mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan menaikkan suku bunga setidaknya sekali pada tahun ini.
Kombinasi dolar yang kuat dan minyak yang naik dapat membuat investor lebih sensitif terhadap aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Meski demikian, dampak pasar tetap akan ditentukan oleh durasi gangguan pasokan dan perkembangan diplomasi di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak dunia juga belum dapat langsung diterjemahkan sebagai kenaikan harga bahan bakar minyak di dalam negeri. Penetapan harga eceran BBM masih bergantung pada kebijakan pemerintah, nilai tukar, formula harga, serta besaran subsidi dan kompensasi energi.
Pasar kini menunggu dua arah sentimen: data ekonomi domestik yang menunjukkan daya tahan aktivitas usaha, serta perkembangan pembicaraan AS–Iran yang akan menentukan stabilitas jalur energi di Selat Hormuz.***