Ekonomi & Bisnis

Solar Nonsubsidi Turun, Sopir Truk Justru Antre Berjam-jam

Solar Nonsubsidi Turun, Sopir Truk Justru Antre Berjam-jam
Ilustrasi: Antrean solar subsidi memanjang di berbagai daerah saat harga diesel nonsubsidi justru turun. Sopir truk mengeluhkan kuota yang menyusut dan waktu tunggu berjam-jam yang mengganggu distribusi logistik.

 

Pertamina memangkas harga Pertamina Dex Rp3.100 per liter dalam penyesuaian kedua Juni ini. Di lapangan, solar subsidi justru makin langka karena kuota BPH Migas dipotong hingga 14 persen.

PT Pertamina (Persero) kembali menurunkan harga bahan bakar diesel nonsubsidi per Minggu, 28 Juni 2026, namun di lapangan, Bio Solar subsidi justru makin sulit ditemukan.

Pertamina Dex turun dari Rp27.900 menjadi Rp24.800 per liter, sementara Dexlite turun dari Rp26.000 menjadi Rp23.000 per liter. Pertamax Turbo justru naik, dari Rp19.900 menjadi Rp20.750 per liter.

Penyesuaian ini hanya menyentuh produk nonsubsidi. Harga Pertalite tetap Rp10.000 dan Bio Solar subsidi tidak berubah di Rp6.800 per liter.

Kelangkaan Bio Solar melanda Jawa Timur sejak Rabu, 24 Juni 2026. Antrean truk mengular hingga satu kilometer di sejumlah SPBU, mengganggu rantai distribusi logistik.

Sopir Antre Semalaman, Jadwal Berantakan

Di Lumajang, sopir truk pasir Abdul Rohim mengaku menunggu sejak pukul 03.00 WIB dan belum mendapat solar hingga pukul 10.00 WIB — tujuh jam terbuang sebelum muatan bisa bergerak.

Di Surabaya, SPBU Margomulyo dan kawasan MERR dipadati truk hingga memicu kemacetan panjang.

Sopir Bus Neo Berlian rute Trenggalek–Banyuwangi, Roni Ahmad, hanya diizinkan membeli solar senilai Rp200.000 per armada — jauh dari kebutuhan normal Rp1,3 juta per pengisian penuh.

Di Makassar, kondisi serupa sudah terjadi lebih awal. Sebuah SPBU di Jalan Gunung Bawakaraeng mencatat pasokan solar harian dari Pertamina turun separuh, dari 16 ton menjadi 8 ton per hari.

Kuota Dipangkas, Pertamina Bantah Langka

Pertamina Patra Niaga menyatakan distribusi tetap berjalan dan tidak ada kelangkaan. Menurut perusahaan, peningkatan antrean dipicu lonjakan konsumsi, bukan berkurangnya pasokan.

Ketua DPD Organda Jawa Timur Firmansyah Mustafa membantah klaim itu. Ia menyebut kuota Bio Solar dari BPH Migas yang disalurkan ke SPBU turun 12–14 persen dibanding Mei 2026.

Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Timur Sundoro merinci, pemangkasan itu setara 1,2 persen dari total alokasi nasional sebesar 18 juta kiloliter.

Hingga berita ini ditulis, BPH Migas belum memberikan tanggapan atas keluhan kuota yang disampaikan Organda Jawa Timur.

“Masalah kelangkaan solar hari ini adalah soal kuota,” kata Firmansyah kepada media, Jumat (26/6/2026).***