Ekonomi & Bisnis

Geopolitik Iran Tekan IHSG ke 6.099

Geopolitik Iran Tekan IHSG ke 6.099

Ketegangan baru di sekitar Selat Hormuz kembali mengingatkan pasar bahwa jalur menuju damai Iran-AS masih rapuh. IHSG pun turun 1,25 persen pada sesi I, di tengah penantian putusan MSCI.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah 77,21 poin atau 1,25 persen ke level 6.099 pada penutupan sesi I perdagangan Senin, 22 Juni 2026.

Pelemahan itu terjadi ketika investor kembali mengukur risiko geopolitik di Timur Tengah. Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Bürgenstock, Swiss, memang menghasilkan peta jalan menuju kesepakatan dalam 60 hari.

Namun, jalan diplomasi itu belum menghapus ketidakpastian. Iran kembali menyatakan penutupan Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump tetap melontarkan ancaman tindakan militer baru bila komitmen Teheran tidak dijalankan.

Selat Hormuz menjadi titik rawan karena merupakan salah satu jalur penting perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan itu dapat memperbesar risiko kenaikan harga minyak, mengerek inflasi, dan mendorong investor mengurangi aset berisiko di pasar negara berkembang.

Tekanan jual mendominasi perdagangan domestik. Sebanyak 476 saham melemah, 200 saham menguat, dan 135 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp7,61 triliun, dengan volume 13,42 miliar saham.

IHSG sempat jatuh hingga 6.063 pada pertengahan sesi, sebelum memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan. Sektor properti menjadi satu-satunya indeks sektoral yang masih bertahan di zona hijau, meski hanya naik 0,02 persen.

Rupiah juga bergerak melemah. Mata uang domestik berada di kisaran Rp17.827 per dolar AS pada perdagangan siang, mencerminkan sikap hati-hati pasar terhadap penguatan dolar dan risiko global.

Damai Belum Menutup Risiko

Pasar global sebenarnya sempat merespons positif kabar adanya kemajuan dalam perundingan AS-Iran. Harga minyak Brent turun di bawah USD80 per barel, sementara sejumlah bursa Asia menguat.

Namun, sentimen itu belum cukup menghapus kekhawatiran. Perundingan baru memasuki tahap awal, sedangkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi persoalan utama yang belum tuntas.

Bagi pasar Indonesia, gejolak energi global berisiko menambah tekanan terhadap rupiah, inflasi impor, dan arus modal. Investor cenderung lebih sensitif ketika ketegangan geopolitik datang bersamaan dengan ketidakpastian domestik.

Putusan MSCI Menambah Beban

Tekanan global itu beriringan dengan penantian hasil Tinjauan Klasifikasi Pasar Tahunan MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu dini hari, 24 Juni WIB.

Keputusan tersebut akan menentukan status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI. Pasar menunggu apakah Indonesia tetap berada dalam kelompok pasar berkembang atau menghadapi perubahan penilaian di tengah sorotan terhadap aksesibilitas dan transparansi pasar.

Dengan demikian, pelemahan IHSG pada awal pekan bukan hanya cerminan aksi ambil untung. Bursa menghadapi dua lapis kecemasan sekaligus: risiko baru dari Timur Tengah dan keputusan MSCI yang dapat memengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia.***