Teknologi

Satelit NASA Pantau Fenomena Laut Susu, Ilmuwan Teliti Penyebabnya

Satelit NASA Pantau Fenomena Laut Susu, Ilmuwan Teliti Penyebabnya
Satelit NASA Berhasil Deteksi Misteri Milky Seas di Laut Lepas. (The Daily Galaxy)

​Fenomena laut susu atau milky seas yang memancarkan cahaya di samudra kini terpantau satelit NASA. Meski pelakunya bakteri, alasan mereka berkumpul masif masih menjadi teka-teki.

​Steven Miller, profesor atmosfer di Colorado State University, mengidentifikasi 12 fenomena laut bercahaya dari data satelit kurun 2012 hingga 2021. Salah satu kejadian terbesar meluas setara Islandia dan menyala 40 malam berturut-turut pada 2019.

​Fenomena langka ini memancarkan cahaya merata di permukaan laut lepas hingga puluhan ribu kilometer persegi. “Di mana posisi fenomena ini dalam alam? Apa yang bisa diajarkan tentang kehidupan di lautan?” kata Miller dalam pernyataan resmi NASA.

​Ia menjelaskan bahwa bakteri penghasil pendaran atau bioluminesensi merupakan bentuk kehidupan yang sangat sederhana. Menurut Miller, mempelajari fenomena tersebut dapat membantu pencarian bentuk kehidupan serupa di alam semesta.

​Sebelumnya, misteri laut susu hanya mengandalkan laporan pandangan mata para pelaut selama empat abad terakhir. Kapten kapal Moozuffer, saat melintasi Laut Arab pada 1849, mencatat perairan saat itu menyerupai hamparan salju tanpa batas.

​Kemajuan teknologi kini memungkinkan ilmuwan memantau pendaran laut dari luar angkasa. Pemantauan dilakukan memakai sensor Visible Infrared Imaging Radiometer Suite pada satelit milik lembaga antariksa NASA dan NOAA.

​Misteri Konsentrasi Bakteri

​Ihwal organisme pemicu cahaya, ilmuwan telah menemukan populasi bakteri Vibrio harveyi di Laut Arab pada 1985. Namun, alasan bakteri ini berkumpul masif hingga pendarannya menembus luar angkasa masih menjadi teka-teki ilmiah.

​Mahasiswa doktoral di Colorado State University, Justin Hudson, menyebut laut susu bisa menjadi indikator lingkungan perairan. Ia mencatat sebagian besar peristiwa ini terjadi di kawasan Laut Arab dan Asia Tenggara.

​Para peneliti menduga konsentrasi bakteri berkaitan erat dengan fluktuasi iklim global. Fenomena itu diperkirakan terpengaruh oleh sistem Indian Ocean Dipole serta El Niño Southern Oscillation (ENSO).

​Selain itu, pemetaan laut susu akan membantu ilmuwan memahami peran bakteri dalam ekosistem Bumi. “Fenomena ini bisa menjadi tanda ekosistem yang sangat sehat, atau justru sebaliknya. Sampai sekarang kami belum mengetahuinya," ujar Hudson.***