Nasional

Lima Kematian SPPI Picu Evaluasi Total Latsarmil, Kemhan Tinjau Ulang Sistem Kesehatan Peserta

Lima Kematian SPPI Picu Evaluasi Total Latsarmil, Kemhan Tinjau Ulang Sistem Kesehatan Peserta
Ilustrasi: Lima kematian peserta SPPI dalam dua pekan memicu evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesehatan, pengawasan medis, dan desain latihan dasar kemiliteran bagi peserta berlatar sipil. Pemerintah meninjau ulang mekanisme latsarmil agar lebih adapti

Kemhan mengevaluasi seluruh skema latsarmil SPPI setelah lima peserta meninggal dalam dua pekan.

Kementerian Pertahanan mulai meninjau ulang pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) setelah jumlah korban meninggal bertambah menjadi lima orang dalam kurun kurang dari dua pekan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, mengatakan evaluasi dilakukan terhadap seluruh tahapan pendidikan, terutama aspek kesehatan dan pengawasan medis peserta.

Korban terbaru, Nola Dya Sari, meninggal pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul 21.03 WIB di RSUD Abdul Aziz Singkawang. Ia sebelumnya mengalami sesak napas dan demam saat mengikuti pendidikan di Dodik Bela Negara Kalimantan.

“Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan,” kata Ketut dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.

Evaluasi yang dilakukan mencakup pemeriksaan kesehatan awal, deteksi faktor risiko, pengawasan tenaga medis selama latihan, intensitas aktivitas fisik, hingga mekanisme rujukan ke rumah sakit.

Pemerintah menilai langkah itu diperlukan agar penyelenggaraan pendidikan berikutnya lebih menyesuaikan kondisi kesehatan masing-masing peserta.

Lima Korban dalam Dua Pekan

Sebelum Nola, empat peserta lain telah meninggal sejak pendidikan dibuka pada 17 Juni 2026.

Mereka ialah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.

Yonanda meninggal di Baturaja akibat henti jantung.

Anisa meninggal di Balikpapan dan disebut mengalami serangan panas.

Sementara Novia meninggal di Jakarta setelah pemeriksaan menunjukkan tuberkulosis paru aktif.

Adapun Rifki meninggal di RSAU dr. Esnawan Antariksa karena pneumonia yang disertai komplikasi medis.

Kemhan menyebut seluruh peserta sebelumnya telah mengikuti seleksi kesehatan berlapis sebelum memasuki pendidikan.

Pemeriksaan meliputi tes darah, urine, rontgen toraks, elektrokardiogram, ultrasonografi abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur tubuh, hingga kesehatan jiwa.

Sorotan Beralih ke Desain Pelatihan Sipil

Program SPPI disiapkan untuk mencetak calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta Kampung Nelayan Merah Putih.

Sebelum bertugas di lapangan, para peserta diwajibkan mengikuti latsarmil sebagai bagian dari pembentukan disiplin, kepemimpinan, dan kesiapan kerja.

Namun, bertambahnya jumlah korban mengubah fokus perhatian publik.

Pembahasan tidak lagi hanya berkisar pada kasus per kasus, melainkan juga menyangkut kesesuaian desain latihan kemiliteran bagi peserta yang berasal dari latar belakang sipil.

Hingga kini, pemerintah menyatakan belum menemukan indikasi kelalaian dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.

Meski demikian, evaluasi tetap dilakukan secara menyeluruh.

“Kami melakukan evaluasi menyeluruh agar pelaksanaan pendidikan berikutnya lebih adaptif terhadap kondisi kesehatan masing-masing peserta,” ujar Ketut.***