Politik

Terbuai Taktik Profesor Politik (1)

Terbuai Taktik Profesor Politik (1)

Siapa yang memandang Presiden Jokowi ‘plonga-plongo’, sebenarnya dialah yang ‘plonga-plongonya’ paling sempurna.

Kesan ‘plonga-plongo’ itu justru bukti kecerdasan Jokowi: pandai menyamar untuk mengecoh lawan-lawan politiknya.

Seorang tokoh nasional yang punya pengaruh dan massa sangat besar pun menyebut Jokowi sebagai “Profesor Politik”. Langkah-langkah politikanya hampir mustahil ditebak.

Ketika dia rangkul Prabowo masuk dalam kabinetnya, itu adalah langkah politik berani sekaligus cerdas. Bahkan belakangan, Prabowo yang sebelum-sebelumnya terkesan kontra-Jokowi jadi taklid dan memuji-muji suami Irina itu.

Banyak yang menilai Prabowo terlalu ‘ngarep’, berusaha merayu Jokowi yang punya pengaruh kuat, tetapi itu tak mungkin terwujud karena banyak yang mengira Jokowi benar-benar ‘petugas partai’ yang harus patuh pada PDIP yang telah menunjuk Ganjar Pranowo sebagai Capres.

Yakin? Kalau kami tidak. Sebenarnya bukan Jokowi yang perlu PDIP. Sebaliknya, Banteng lah yang perlu Jokowi. Kami yakin Jokowi—sang Profesor Politik—pun sadar itu.

Ketika Jokowi menunjuk Prabowo sebagai Menhan—yang posisinya sangat strategis untuk urusan dalam dan luar negeri, punya kans luas menggalang dukungan internasional—apa dia asal tunjuk? Kami rasa sih tidak. Itu adalah bagian dari ‘rencana jangka panjang’ Pakde.

Pakde Jokowi selalu punya rencana jangka panjang. Prabowo ketika wawancara dengan Najwa Shihab pun mengungkapkan itu.

Ingat: Pemilu di Indonesia tak hanya ditentukan oleh dukungan dari bilik suara, tetapi juga dari ‘bilik-bilik’ internasional. Lalu, siapa kandidat capres yang sering ‘piknik’ ke luar negeri?

Masih yakin dengan keyakinan banyak orang tentang siapa yang didukung Jokowi?

 

Oh iya, sekadar catatan: biasanya yang banyak ngiklan itu justru tidak laku.

 

#PerawatKedaulatanAkal