Mahatma Gandhi, dengan ajaran “ahimsa”-nya menasihati kita bahwa perilaku manusia mengalami evolusi. “Ahimsa”—yang dalam bahasa Sansekerta berarti “tanpa kekerasan”—menurut Gandhi adalah kemajuan proses evolusi peradaban manusia. Suatu fase di mana manusia telah berhasil melalui tahapan sebelumnya, ‘himsa’, yang berarti ‘keras’. Primitif.
Keras, atau “himsa” merupakan ciri manusia yang peradabannya belum maju. Hidupnya masih berpindah-pindah dan peralatannya masih terbuat dari batu dan kayu. Makanan mereka adalah daging binatang hasil buruan karena belum mengenal sistem bercocok tanam, apalagi perdagangan dan industri. Kehidupan manusia seperti ini sangat keras dan ngamukan. Itulah ciri “himsa”.
Semakin ke sini, menurut Gandhi, manusia semestinya semakin modern dan “ahimsa”. Peradaban manusia semakin tertata, semakin tertib, semakin damai karena manusia tidak lagi gampang ngamuk. Maka, menurut teori “ahimsa”, ketika masih ada orang yang suka kekerasan di zaman modern ini, pasti cara mikirnya masih primitif, meski secara fisik dia hidup di dunia yang jelas sudah jauh meninggalkan kebudayaan primitif.
Dan bila ada orang-orang yang gampang tersinggung dan marah, bisa jadi karena evolusinya belum sempurna. Makanya, kalau ada orang marah-marah kepada Anda, dan Anda yakin bahwa diri Anda adalah orang yang beradab, tidak usah diladeni. Cukup kepadanya Anda bilang saja, “Ya sudah, silakan selesaikan dulu evolusinya…”
Setelah itu #ngopi lah sebagai manusia yang beradab.
