JIKA ANDA TERHENYAK mendapati kabar adanya dana miliaran rupiah dari pemain tambang ilegal dan sogokan dari pengusaha jam tangan yang mengalir untuk Kabareskrim Komjen Agus Andrianto; marah ketika mendapati adanya dugaan dana sogokan untuk mantan Dirtipidum Bareskrim Polri Andi Rian; atau heran dengan adanya uang dalam jumlah sangat besar yang dititipkan Ferdy Sambo dalam rekening almarhum Brigadir J, berarti Anda adalah tipikal orang dengan ingatan yang gampang tereduksi. Anda gagal menjaga ingatan Anda tentang intrik narasi di dunia petinggi polisi. Kalau Anda istikamah mencermati fenomena penggemukan saldo para jenderal polisi sejak lama, dan ingatan Anda tidak gampang retas, tentu Anda mahfum bahwa isu ini adalah “lagu lama kaset kusut”.
Isu-isu seperti ini khas nuansa “perang bintang”. Ada kubu-kubu yang yang saling serang. Saling bongkar aib. Biasanya, kalau isu ini muncul, sedang ada agenda “kaderisasi”, di mana masing-masing kubu berupaya menyelusupkan “orang-orang kepercayaan” di lingkaran pejabat strategis Polri. Biasanya juga, sebagaimana pengalaman yang sudah-sudah, nantinya isu seperti ini hanyalah tinggal isu. Dia akan pergi dan berlalu seiring langkah waktu. Dan semuanya akan “kembali baik-baik saja”.
Ingat, kan, ketika di tahun 2015 Budi Gunawan—yang akrab dipanggil BG—hendak naik jadi Kapolri, tetapi gagal gegara terjerat kasus rekening gendut? Kasus itu sebenarnya perkara lama yang diungkit lagi ketika dia mencalonkan diri sebagai Kapolri. Geger rekening gendut itu sebenarnya sudah menjadi santapan media sejak tahun 2010, lima tahun sebelum pencalonan BG. Tetapi, selama lima tahun isu hanya menjadi isu. BG tak pernah disentuh oleh aparat. Narasi baru dipanaskan lagi ketika dia dicalonkan sebagai Kapolri. Gegara isu itu dia gagal menjabat.
BG sempat diproses oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2015, tetapi akhirnya mandek. Dia bahkan menggugat penetapannya sebagai tersangka di praperadilan. Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan memenangkan gugatannya. Pada tahun 2016—setahun setelah berurusan dengan KPK—BG kembali mencalonkan diri. Tetapi, dia gagal lagi karena skandal rekening gendutnya masih terikat erat dalam ingatan publik. Akan tetapi, bukannya ditarik mundur dari Korps Bhayangkara demi memulihkan citra institusi, BG malah naik pangkat dari bintang tiga ke empat. Lalu dia didaulat menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), jabatan yang dipangkunya hingga tulisan ini diunggah.
Perkara yang menjerat BG mulai diulik oleh laporan majalah Tempo pada bulan Juni 2010, ketika dia masih menjabat sebagai Kadiv Propam Polri. Majalah ini menulis laporan kekayaan BG yang mencapai Rp4,6 miliar pada 19 Agustus 2008—ketika ia masih menjabat sebagai Kapolda Jambi. Angka yang sangat fantastis jika mengacu pada kurs waktu itu. Mungkin 11-12 dengan angka-angka fantastis di rekening Ferdy Sambo di masa kini lah.
BG dituduh terlibat transaksi ilegal dalam jumlah besar yang tak sesuai dengan profil jabatannya. Tidak beda dengan isu aliran setoran tambang ilegal untuk Agus Andrianto maupun aliran dana 303 untuk Ferdy Sambo kan?
BG adalah ajudan kesayangan Megawati saat Bu Mega menjadi Presiden RI. Kendati gagal jadi Kapolri lantaran kasus rekening gendut, BG akhirnya tetap berhasil menyandang pangkat bintang 4 bersama Tito Karnavian pada tahun 2016.
BG memegang banyak peran penting. Dia adalah orang di balik layar yang mempertemukan Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Stasiun MRT Lebak Bulus, dalam gawe rekonsiliasi usai Pilpres 2019. Dalam pertemuan ini, peran BG menjadi sorotan, lantaran dia adalah Kepala BIN, yang tidak nyambung dengan agenda rekonsiliasi politik.
Selang beberapa minggu kemudian, dia kembali disebut berperan dalam pertemuan antara Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto—momentum yang terbilang langka. Kehadiran BG di rumah Megawati saat menyambut Prabowo juga menimbulkan tanda tanya, sebab dia bukan kader PDIP.
BG adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) liting 1983. Ketika berpangkat komisaris besar, dia pernah menjabat sebagai Ajudan Wakil Presiden pada 1999-2000. Ia dikenal dekat dengan Megawati lantaran pernah menjadi ajudan presiden kelima itu pada 2000-2004. Kabarnya kedekatan itu terus terawat sampai kini.
BG tercatat sebagai jenderal termuda di Polri saat dipromosikan naik pangkat bintang satu atau brigadir jenderal pada tahun 2004—ketika usianya baru 45 tahun—dengan jabatan sebagai Kepala Biro Pembinaan Karier (Karo Binkar) Polri. Karirnya di masa itu sangat melesat, sebagaimana karir Ferdy Sambo di masa kini. Sambo juga mendapatkan bintang satu di usia 45 pada tahun 2019. Setelahnya, BG menjabat sebagai Kepala Selapa Polri—lembaga yang menginduk pada Lemdikpol—selama dua tahun, kemudian dipromosikan menjadi Kapolda Jambi.
KPK menetapkan BG sebagai tersangka pada 13 Januari 2015—setelah isu rekening gendutnya yang misterius diulas oleh Tempo lima tahun sebelumnya. Komisi antirasuah menduga ada transaksi mencurigakan atau tidak wajar yang dilakukan BG. Dia diduga menerima hadiah atau janji sejak menjabat sebagai Karobinkar Deputi Sumber Daya Manusia Polri periode 2003-2006, dan kebiasaan itu diduga berlanjut dalam jabatan lainnya di kepolisian.
Momen pengusutan BG inilah yang kemudian memunculkan aroma perang bintang: kenapa baru diusut tahun 2015 padahal sudah diulas sejak lima tahun sebelumnya? Kenapa tidak langsung diurus pada tahun 2010? Kenapa BG baru disikat ketika maju sebagai calon Kapolri?
Begitu dijadikan tersangka, BG melawan. Dia mengajukan praperadilan dan hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan memutuskan penetapannya sebagai tersangka tidak sah.
Gagal di KPK, penanganan kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan Agung pada Maret 2015. Namun, kejaksaan justru melimpahkan kasus itu ke kepolisian, dengan alasan polisi pernah mengusut kasus tersebut. Dan sampai sekarang ini tak ada kabar kelanjutannya sama sekali. Publik pun sudah pada mulai lupa.
Setelah gagal di tahun 2015, nama BG kembali masuk bursa calon Kapolri menggantikan Badrodin Haiti yang segera purnatugas pada tahun 2016. Namun, Jokowi akhirnya memilih Tito Karnavian sebagai calon tunggal.
Akan tetapi, kali itu BG tidak dibiarkan gigit jari. Pada September 2016, Jokowi melantiknya sebagai Kepala BIN dan menaikkan pangkatnya menjadi bintang empat. Pelantikan tersebut menyisakan sejumlah pertanyaan hingga kini. Tak hanya prosesinya yang terkesan mendadak, kenaikan pangkat Budi dari komisaris jenderal menjadi jenderal juga menuai polemik. Kekhawatiran bakal adanya matahari kembar di tubuh Polri muncul ketika itu. Hanya di masa itulah dalam satu periode ada dua jenderal bintang empat Polri secara bersamaan.
Kekhawatiran itu sepertinya terbukti. Menurut catatan Forensik Narasi, kader-kader pemimpin yang muncul di tubuh Polri setelah itu tak lepas dari “aroma” BG. Tito Karnavian disebut-sebut sebagai “kader terbaik” BG. Dia dipilih Jokowi pun—kabarnya—demi “menghargai perasaan” BG yang gagal lagi menjadi Tribrata 1. Dan “kesaktian” BG sepertinya diwariskan kepada Tito ketika dia lolos dari jeratan skandal “buku merah” pada tahun 2019. (Soal buku ini, dan buku hitam Ferdy Sambo, mungkin akan dibahas lain waktu).
Kabarnya, penerus-penerus Tito, yaitu Idham Azis sampai Listyo Sigit, pun sebenarnya berasal dari “akar” yang sama: jalur BG. Kabareskrim Agus Andrianto kabarnya juga masuk melalui pintu BG. Akan tetapi, sepertinya telah terjadi “mutasi kader”, yang menyebabkan beberapa penerus memilih “buka cabang sendiri”. Kabarnya lagi, pasca-Tito Karnavian, Idham Azis berinisiatif membangun “bani”-nya sendiri—di mana Ferdy Sambo, mantan Kapolda Jatim Nico Afinta, Kapolda Metro Jaya Fadil Imran, dan Kapolda Sumatera Utara Panca Putra merupakan “adik-adik binaan” terbaiknya. Sedangkan Agus Andrianto sepertinya memilih “setia” kepada BG.
Lalu muncullah dua kubu baru. Pengaruh keduanya, kabarnya, sama-sama kuat. Itulah makanya kenapa penanganan perkara yang melibatkan orang-orang di lingkaran keduanya—mulai dari tragedi Duren Tiga dan Konsorsium 303 yang diduga melibatkan Ferdy Sambo; tragedi Kanjuruhan yang menjerat Nico Afinta; hingga skandal aliran dana tambang batubara ilegal yang menggigit Agus Andrianto—berjalan alot. Ini jelas “perang bintang”. Perang kubu-kubu yang sama-sama kuat dan saling kunci.
Tetapi, itu semua baru kabar yang masih perlu diverifikasi lagi. Jangan langsung diiyakan sebagai kebenaran mutlak.
Terlepas dari kabar-kabur itu, yang jelas apa yang terjadi dalam tubuh Polri saat ini adalah sebuah dejavu. Saling serang hari ini hampir sama dengan yang terjadi dengan BG di tahun 2015 dan buku merah Tito Karnavian pada tahun 2019. Dan sampai saat ini tidak ada aparat penegak hukum lain—semisal KPK atau Kejaksaan Agung—yang berani menyentuh laporan aliran dana ilegal untuk Agus Andrianto maupun rekening gendut Ferdy Sambo.
Mungkin orang KPK takut di-Abraham Samad-kan jika menyentuh mereka. Tentu masih ingat bagaimana Ketua KPK Abraham Samad terjungkal oleh skandal cinta segitiga, setelah dia berusaha mengusut rekening gendut BG kan? Setelah Samad tersingkir, PN Jakarta Selatan memutuskan penetapan BG sebagai tersangka tidak sah. Penerus Abraham tidak berani menguliknya lagi, tetapi melempar bola panas ke Kejagung. Kejaksaan pun ogah menggarapnya, lalu “memulangkan” kasus itu ke Mabes Polri. Dus, akhirnya kasus ini wassalam. Masa’ jeruk makan jeruk?
Apa yang terjadi kini adalah sejarah yang berulang: perang bintang, narasi-narasi tentang pendapatan ilegal, hingga institusi penegak hukum selain Polri yang masuk angin. Hanya saja, episode kali ini lebih update, karena meletup dari sebuah peristiwa kematian: pembunuhan Brigadir J. Peristiwa itulah kunci pembuka kotak pandora aib di tubuh Korps Cokelat yang sebelumnya selalu berhasil ditutup dan dimanipulasi selama bergenerasi-generasi dengan berbagai macam pengalihan isu. Perang bongkar aib kali ini lebih keruh dan rumit daripada periode-peride sebelumnya. Tetapi, tetap saja KPK dan Kejagung membisu.
Mungkin alam sedang berkirim pesan agar budaya geng-gengan dan kaderisasi kolutif -nepotis ala petinggi Polri diakhiri. Berpikir positif saja: mungkin rangkaian peristiwa pahit kali ini adalah ijabah dari harapan Kapolri Jenderal Listyo Sigit yang ingin memurnikan kembali institusi yang dia pimpin, semurni emas 24 karat.
Ngomong-ngomong, Pak Listyo sehat?*
