Pidato Prabowo tentang “tamu yang merampok” mengingatkan pada analisis Soekarno dalam Indonesia Menggugat: ancaman terbesar bukan semata orang asing, melainkan hubungan ekonomi yang membuat suatu bangsa kehilangan kendali atas kekayaannya.
Di hadapan ribuan peserta Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, Minggu, 12 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sebuah analogi yang segera menjadi perbincangan. Ia menggambarkan bangsa yang terlalu ramah menerima tamu. Mula-mula tamu itu datang untuk berdagang. Lama-kelamaan, kata Prabowo, tamu tersebut justru merampok rumah tuan rumah.
Analogi itu sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang jauh lebih tua daripada republik ini sendiri. Hampir satu abad lalu, Soekarno menguraikan mekanisme serupa dalam pidato pembelaannya yang kemudian dikenal sebagai Indonesia Menggugat. Bedanya, Soekarno tidak berhenti pada siapa tamunya. Ia membedah struktur ekonomi yang memungkinkan “perampokan” itu berlangsung.
Bukan Soal Siapa Tamunya
Dalam Indonesia Menggugat, Soekarno menolak anggapan bahwa kolonialisme lahir demi menyebarkan peradaban, pendidikan, ataupun agama. Menurutnya, semua itu mungkin saja hadir, tetapi hanya sebagai akibat sampingan. Motif utamanya tetap ekonomi: menguasai tanah, sumber daya alam, pasar, modal, dan tenaga kerja demi keuntungan negeri penjajah.
Ia bahkan merumuskan penjajahan sebagai usaha menguasai kekayaan alam beserta penduduk negeri jajahan untuk kepentingan ekonomi bangsa lain. Karena itu, bagi Soekarno, persoalan utamanya bukan identitas bangsa asing, melainkan hubungan ekonomi yang timpang.
Pandangan tersebut membuat Indonesia Menggugat terasa relevan dibaca pada abad ke-21. Sebab, imperialisme modern tidak selalu hadir bersama kapal perang atau pemerintahan kolonial. Ia dapat bekerja melalui investasi, perdagangan, pembiayaan, kontrak jangka panjang, penguasaan teknologi, hingga ketergantungan terhadap pasar luar negeri.
Ketika Modal Menjadi Instrumen Pengaruh
Soekarno menjelaskan bahwa modal yang menumpuk di negara industri selalu mencari dua hal: tempat baru untuk ditanamkan dengan keuntungan tinggi dan pasar baru bagi hasil industrinya.
Dalam konteks Indonesia sekarang, investasi asing memang menjadi salah satu penggerak industrialisasi. Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp900,9 triliun. Sebagian besar mengalir ke industri logam dasar, pertambangan, dan sektor pengolahan mineral.
Masuknya modal tersebut membawa manfaat nyata. Hilirisasi mineral mendorong pembangunan kawasan industri, smelter, pelabuhan, dan pembangkit listrik yang sebelumnya tidak tersedia.
Namun, sebagaimana diingatkan Soekarno, pembangunan fisik bukan satu-satunya ukuran. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang menguasai teknologi, siapa yang mengendalikan rantai pasok, siapa yang menikmati keuntungan terbesar, dan berapa besar nilai tambah yang benar-benar tinggal di Indonesia.
Perdebatan mengenai hilirisasi nikel menunjukkan dilema tersebut. Indonesia berhasil meningkatkan ekspor produk olahan dibanding era ekspor bijih mentah. Akan tetapi, sebagian besar teknologi utama, mesin industri, hingga kepemilikan modal pada sejumlah proyek strategis masih berasal dari luar negeri. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai seberapa jauh industrialisasi telah menghasilkan kemandirian industri nasional.
Dari Perdagangan Menjadi Ketergantungan
Bagi Soekarno, hubungan ekonomi mulai berubah menjadi imperialisme ketika kekuatan modal tidak lagi sekadar menjalankan usaha, melainkan memiliki kemampuan memengaruhi arah kebijakan.
Pengaruh itu tidak selalu tampak dalam bentuk tekanan politik terbuka. Ia dapat muncul melalui negosiasi konsesi, insentif fiskal, kebijakan perdagangan, standar industri, akses terhadap sumber daya alam, hingga posisi tawar dalam rantai pasok global.
Dalam kerangka ini, analogi Prabowo mengenai “tamu yang merampok” memperoleh makna baru. Persoalannya bukan sekadar adanya investor asing, melainkan apakah hubungan ekonomi tersebut membuat Indonesia semakin berdaulat atau justru semakin bergantung.
Soekarno juga mengingatkan bahwa hubungan semacam itu hampir tidak pernah bekerja sendirian. Imperialisme modern memerlukan aktor domestik yang menjaga agar kepentingan ekonomi tertentu tetap berjalan. Karena itu, persoalan yang ia soroti bukan semata pihak luar, tetapi juga struktur kekuasaan di dalam negeri yang memungkinkan hubungan timpang tersebut bertahan.
Ketika Kekayaan Mengalir Keluar
Tahap terakhir yang dikritik Soekarno adalah ketika negeri yang kaya sumber daya hanya memperoleh bagian kecil dari nilai ekonomi yang dihasilkannya.
Kondisi Indonesia saat ini tentu berbeda dengan Hindia Belanda. Indonesia memiliki pemerintahan sendiri, bank sentral, perusahaan nasional, dan kewenangan mengatur investasi.
Namun, kemerdekaan politik tidak otomatis menghapus seluruh bentuk ketergantungan ekonomi.
Sektor energi menjadi salah satu contohnya. Pemerintah berulang kali menyatakan Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah, bahan bakar, dan LPG. Sebagian pasokan tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah. Ketika konflik geopolitik mengganggu jalur pelayaran atau mendorong kenaikan harga minyak dunia, dampaknya segera terasa terhadap subsidi energi, biaya logistik, hingga inflasi domestik.
Di sisi lain, transformasi industri juga masih menghadapi tantangan. Sejumlah kajian menunjukkan kontribusi industri manufaktur terhadap penyerapan tenaga kerja belum meningkat secepat investasi yang masuk. Pada saat bersamaan, sektor ekstraktif yang padat modal masih mendominasi sebagian investasi strategis nasional.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari besarnya investasi atau nilai ekspor. Yang lebih menentukan adalah seberapa besar teknologi berpindah ke dalam negeri, berapa banyak pekerjaan berkualitas tercipta, serta seberapa besar keuntungan ekonomi tetap beredar di Indonesia.
Nasionalisme Ekonomi Bukan Anti-Asing
Di sinilah letak perbedaan penting antara nasionalisme ekonomi dan sentimen anti-asing.
Soekarno tidak pernah menyatakan bahwa setiap modal asing identik dengan penjajahan. Dalam Indonesia Menggugat, ia justru banyak mengutip pemikir dan ekonom Eropa untuk menjelaskan kritiknya terhadap imperialisme.
Yang ia persoalkan adalah struktur hubungan ekonomi yang membuat satu pihak menguasai modal, teknologi, dan pasar, sementara pihak lain hanya menjadi pemasok bahan mentah serta tenaga kerja murah.
Karena itu, ukuran yang lebih relevan bukan berasal dari negara mana investornya, melainkan apakah kerja sama tersebut memperbesar kapasitas nasional atau justru memperdalam ketergantungan.
Investasi dapat menjadi mesin pembangunan apabila memperkuat industri lokal, mendorong transfer teknologi, memperluas kesempatan kerja berkualitas, dan menciptakan nilai tambah yang dinikmati masyarakat Indonesia. Sebaliknya, hubungan ekonomi akan menyerupai kritik Soekarno ketika keuntungan utama mengalir keluar, sementara biaya sosial, lingkungan, dan ekonomi lebih banyak ditanggung di dalam negeri.
Cermin bagi Indonesia Hari Ini
Pidato Prabowo mengenai “tamu yang merampok” menjadi menarik ketika dibaca berdampingan dengan Indonesia Menggugat. Analogi tersebut tidak sekadar berbicara tentang orang asing, tetapi membuka ruang untuk menilai kembali posisi Indonesia dalam perekonomian global.
Hampir satu abad setelah Soekarno menyampaikan pidato pembelaannya di Landraad Bandung, tantangan yang ia uraikan memang berubah bentuk. Kapal perang berganti arus modal. Pemerintahan penjajah berganti rantai pasok global. Namun pertanyaan yang diajukan Soekarno tetap sama: siapa yang menguasai kekayaan, siapa yang menentukan arah pembangunan, dan siapa yang menikmati hasil akhirnya.
Dalam pengertian itu, “tamu yang merampok” bukan pertama-tama soal siapa yang datang dari luar. Ia adalah metafora tentang hubungan ekonomi yang membuat sebuah bangsa perlahan kehilangan kendali atas rumahnya sendiri. Ketika kendali atas modal, teknologi, pasar, dan sumber daya berpindah ke tangan lain, perampokan tidak lagi memerlukan senjata. Ia cukup berlangsung melalui hubungan ekonomi yang tampak biasa, tetapi menghasilkan ketergantungan yang semakin dalam.***