Daerah

BMKG Ungkap Penyebab Kualitas Udara Jakarta Menurun Saat Kemarau

BMKG Ungkap Penyebab Kualitas Udara Jakarta Menurun Saat Kemarau

Kualitas udara Jakarta diperkirakan memburuk selama musim kemarau 2026. BMKG menjelaskan kondisi tersebut bukan karena peningkatan polutan, melainkan berkurangnya hujan yang biasanya membantu membersihkan atmosfer.

Kualitas udara Jakarta dan wilayah sekitarnya berpotensi mengalami penurunan selama musim kemarau tahun ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi tersebut berkaitan erat dengan berkurangnya curah hujan yang terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

Yang menarik, penurunan kualitas udara tidak selalu berarti jumlah polutan meningkat secara signifikan.

Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, sumber polutan di kawasan perkotaan memang selalu ada setiap hari.

Polutan berasal dari berbagai aktivitas manusia, mulai dari transportasi hingga kegiatan industri.

Namun, dalam kondisi normal, hujan membantu mengurangi konsentrasi polutan yang berada di atmosfer.

Sebenarnya dengan tidak adanya hujan ini, bukan kualitas udaranya polutannya naik, tetapi polutannya tidak tercuci,” kata Ardhasena dalam konferensi pers perkembangan musim kemarau 2026.

Ia menjelaskan bahwa hujan memiliki fungsi alami untuk membersihkan udara dari partikel yang menumpuk.

Karena itu, saat intensitas hujan menurun, proses pembersihan atmosfer juga ikut berkurang.

Akibatnya, polutan yang terus dihasilkan dari berbagai aktivitas lebih lama bertahan di udara.

Musim Kemarau dan El Nino Jadi Faktor Utama

Dalam konteks tersebut, BMKG juga memantau perkembangan fenomena El Nino yang diperkirakan segera aktif.

Fenomena iklim tersebut diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027.

Menurut BMKG, peluang El Nino mencapai kategori moderat berada pada angka 98 persen.

Sementara itu, peluang mencapai kategori kuat tercatat sebesar 62 persen.

Secara faktual, El Nino merupakan fenomena iklim global yang dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai negara.

Dampaknya berbeda-beda pada setiap wilayah.

Untuk kawasan tropis seperti Indonesia, El Nino umumnya menyebabkan penurunan curah hujan.

Akibatnya, musim kemarau cenderung berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Menurut BMKG, periode kering tersebut diperkirakan berlangsung mulai Juni hingga Januari mendatang.

Karena itu, sejumlah daerah berpotensi mengalami kondisi atmosfer yang lebih kering dalam jangka waktu lebih panjang.

Udara Kering Dominasi Juli hingga Agustus

Selain kualitas udara yang menurun, masyarakat juga diperkirakan merasakan perubahan kondisi cuaca selama puncak kemarau.

Ardhasena menjelaskan bahwa bulan Juli dan Agustus memiliki karakteristik udara yang lebih kering.

Kondisi tersebut muncul akibat minimnya curah hujan serta menurunnya tingkat kelembapan udara.

Menurutnya, fenomena itu merupakan karakter khas yang sering terjadi di Pulau Jawa saat musim kemarau mencapai puncaknya.

Udara kering yang timbul akibat curah hujan yang minim ini juga disertai dengan berkurangnya kelembapan,” ujarnya.

Ardhasena Sopaheluwakan
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan

Di sisi lain, kondisi tersebut dapat membuat udara terasa berbeda dibandingkan musim penghujan.

Meski begitu, suhu udara belum mencapai titik tertinggi pada periode tersebut.

Suhu Jakarta Diperkirakan Lebih Sumuk pada September

BMKG memperkirakan perubahan suhu yang lebih terasa akan terjadi menjelang akhir September hingga Oktober.

Pada periode itu, posisi Matahari berada di atas Pulau Jawa.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan suhu udara di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta.

Yang perlu digarisbawahi, peningkatan suhu akan membuat cuaca terasa lebih panas dan sumuk dibandingkan bulan sebelumnya.

Temperaturnya akan naik di sekitar bulan September dan Oktober,” kata Ardhasena.

Dengan kombinasi udara kering, minim hujan, dan peningkatan suhu, kualitas udara Jakarta diperkirakan tetap menjadi perhatian selama berlangsungnya musim kemarau 2026.***