Internasional

Mantan Dubes Iran: Laporan Iran International soal Selat Malaka Tak Logis

Mantan Dubes Iran: Laporan Iran International soal Selat Malaka Tak Logis
Ilustrasi dibuat dengan AI, diolah dari video YouTube Forum Keadilan TV

Media berbasis London menyebut Garda Revolusi Iran mengincar Selat Malaka hingga Tanjung Priok. Mantan Dubes RI untuk Iran Dian Wirengjurit menilai laporan itu tak masuk akal.

Laporan media berbasis London, Iran International, yang menyebut Iran mengincar jalur perairan Asia termasuk Selat Malaka dinilai tidak logis oleh mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit.

Penilaian itu disampaikan Dian dalam podcast Madilog, seperti diunggah kanal Forum Keadilan TV di YouTube pada 3 Oktober 2026. Pemandunya adalah jurnalis senior Darmawan Sepriyossa.

Menurut pemandu, Iran International mengklaim intelijen Garda Revolusi Iran (IRGC) merancang operasi terhadap jalur perairan Asia. Pulau Bangka dan Tanjung Priok disebut secara eksplisit.

Doktrin bertahan, bukan menyerang

Dian menilai Iran kini sibuk mempertahankan diri sebagai negara yang terkucil akibat sanksi Barat. Menurut dia, doktrin pertahanannya defensif. "Tidak satu butir peluru pun dilontarkan ke tetangganya," katanya.

Ia juga menyebut kekuatan angkatan laut Iran hanya menjaga wilayah teritorial di Teluk Persia dan Laut Kaspia. Karena itu, kata Dian, gagasan kapal perang Iran sampai ke Batam atau Priok terlalu jauh.

Ia menambahkan, kapal Iran selama ini menyusuri perairan teritorialnya hingga ke India dan Tiongkok, pembeli utama minyaknya. Di laut lepas, menurut dia, Amerika Serikat sudah menunggu dengan kapal induk.

Perang informasi dan kasus di Bali

Dian menyebut Iran International sebagai kelompok oposisi yang, menurut dia, dibiayai Amerika Serikat dan Arab Saudi. Ia menilai media itu bagian dari perang informasi, dan mengingatkan klaim senjata pemusnah massal Irak yang kemudian tak terbukti.

Ia lalu menyinggung penangkapan seorang warga Iran di Bali menjelang Indonesia memegang presidensi G20. Dian mengaku menulis bahwa orang itu bukan intelijen, melainkan turis yang menunggak biaya kos.

Setelah tulisan itu, kata Dian, seorang petinggi menelepon dan menyebut orang tersebut intelijen bayaran Israel untuk menggagalkan KTT G20. "Sakit jiwa ini, informasi seperti ini diterima bulat-bulat," ujarnya.

Dari kejadian itu ia menyimpulkan elite Indonesia kurang memahami intelijen. Menurutnya, agen sejati seperti Eli Cohen dari Israel atau Takeo Yoshikawa dari Jepang ditanam bertahun-tahun dan menguasai bahasa setempat.

Soal minyak dan posisi Indonesia

Dian juga mengkritik sikap Indonesia. Ia menyebut Pertamina pernah membeli LPG dari Iran, tetapi pengiriman terhenti setelah ditegur Amerika Serikat. Menurutnya, India dan Singapura tetap menemukan celah.

Ia berpendapat kerawanan domestik membuat Indonesia mudah disasar propaganda. Isu ancaman luar negeri, katanya, dapat mengalihkan perhatian dari masalah dalam negeri.

Pada penutup, pemandu mengingatkan bahwa tidak setiap tuduhan terhadap Iran adalah propaganda, dan tidak setiap berita tentang Iran adalah kebenaran. "Jangan mudah takut, jangan mudah percaya, dan jangan pernah berhenti berpikir," ujarnya.***