Dana penanganan Ebola Kongo terus bertambah setelah pemerintah dan mitra internasional menyiapkan pendanaan miliaran dolar AS. Namun, peningkatan kasus, gangguan keamanan, dan penolakan masyarakat masih menghambat respons wabah.
Dana penanganan Ebola Kongo menjadi sorotan di tengah meningkatnya penyebaran penyakit yang telah menginfeksi 1.406 orang dan menewaskan 438 pasien. Pemerintah Republik Demokratik Kongo kini memperkuat langkah penanganan dengan dukungan anggaran nasional serta bantuan internasional.
Presiden Félix Tshisekedi mengumumkan rencana penanganan wabah senilai 319 juta dolar AS atau sekitar Rp5,65 triliun. Selain itu, negara-negara donor bersama sejumlah mitra internasional menjanjikan bantuan sebesar 910 juta dolar AS atau sekitar Rp16,11 triliun.
Langkah tersebut muncul ketika wabah terus meluas ke 34 zona kesehatan di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Sementara itu, Lolwa di Provinsi Ituri masih menjadi wilayah dengan penyebaran kasus paling tinggi.
Gangguan Keamanan Hambat Respons Penanganan Ebola
Meski dukungan pendanaan meningkat, penanganan wabah belum berjalan tanpa hambatan. Otoritas kesehatan menyebut kondisi keamanan yang tidak stabil, perpindahan penduduk, serta penolakan sebagian warga masih menjadi tantangan utama dalam mengendalikan penyebaran strain Ebola Bundibugyo.
Yang menjadi sorotan, ketegangan di lapangan sempat memicu aksi kekerasan. Pada Selasa, dua orang, termasuk seorang petugas polisi, dilaporkan meninggal dunia. Dalam insiden tersebut, sebuah pusat perawatan juga terbakar setelah kerusuhan terkait jenazah pria yang diduga meninggal akibat Ebola di Provinsi Ituri.
Selain itu, laporan media setempat menyebut insiden serupa terjadi di zona kesehatan Nia-Nia, wilayah Mambasa. Sejumlah warga menolak menyerahkan jenazah yang diduga terpapar Ebola kepada tim pemakaman sesuai protokol kesehatan.
Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan angka korban meninggal kemungkinan masih lebih tinggi. Menurut WHO, sejumlah kematian diduga terjadi sebelum wabah diumumkan dan hingga kini masih dalam proses penyelidikan.
Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika juga melaporkan Uganda telah mengonfirmasi 20 kasus Ebola. Kondisi tersebut membuat penanganan wabah tidak hanya menjadi perhatian Kongo, tetapi juga kawasan Afrika Timur dan Tengah.***