Nasional

Eks Aktivis HTI Bongkar Peran Tarekat Shiddiqiyyah Jombang Tangkal Radikalisme

Eks Aktivis HTI Bongkar Peran Tarekat Shiddiqiyyah Jombang Tangkal Radikalisme
Ilustrasi Tarekat Shiddiqiyyah Jombang menjadi garda terdepan membendung ideologi khilafah, radikalisme, dan menjaga NKRI. – AI Generate

Mantan aktivis HTI membongkar kiprah Tarekat Shiddiqiyyah Jombang. Meski silsilahnya pernah divonis tidak sah, tarekat ini sukses menjadi garda terdepan membendung ideologi khilafah dan menjaga NKRI. Bagaimana paradoks ini terjadi?

Dr. Ainur Rofiq Al-Amin menelusuri sebuah keganjilan sosiologis di utara Sungai Brantas, Jombang. Sebuah tarekat yang pernah divonis tidak sah pada tahun 1971, kini justru memosisikan diri sebagai benteng utama dalam melawan ideologi khilafah di Indonesia.

Penelusuran ini membongkar dinamika Tarekat Shiddiqiyyah di bawah pimpinan Kyai Muchammad Muchtar bin Hajji Abdul Mu’thi. Ajaran ini mewajibkan pengikutnya memiliki delapan kesanggupan, termasuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Doktrin "Hubbul Wathon Minal Iman" ditanamkan secara masif. Doktrin ini diwujudkan melalui pembangunan ratusan rumah layak huni dan pendirian Monumen Hubbul Wathon di berbagai daerah.

Namun, sebuah kejanggalan patut disorot dari kacamata pergerakan massa. Bagaimana sebuah organisasi yang silsilah keagamaannya dipersoalkan justru mengambil alih peran negara dalam membendung radikalisme?

Anomali Silsilah dan Bukti Pola Historis

Pihak JATMI pernah menjatuhkan status ghoiru mu’tabaroh (tidak sah) kepada Shiddiqiyyah pada tahun 1971. Alasan utamanya didasarkan pada silsilah kemursyidan yang dinilai memutus rantai transmisi historis.

Kiai Muchtar Mu’thi merespons tuduhan tersebut dengan mempertahankan argumen bahwa silsilah ajarannya diturunkan langsung melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun, validasi independen terhadap klaim silsilah ini masih ditunggu dan belum disepakati oleh seluruh federasi persatuan tarekat.

Status yang dipersoalkan ini tidak menghentikan laju pengaruh Shiddiqiyyah. Fenomena ini memperlihatkan pola sistemik di mana gerakan sufi Nusantara kerap mentransformasikan diri melampaui sekat-sekat ritual.

Perbandingan historis dapat ditarik ke era kesultanan Banten. Tarekat saat itu dimobilisasi oleh Syeikh Yusuf al-Maqassary untuk melawan penjajahan kolonial, membuktikan bahwa otoritas spiritual selalu menyimpan potensi politik kebangsaan.

Paradoks Deradikalisasi di Ranah Abangan

Strategi dakwah Shiddiqiyyah menyasar masyarakat abangan di utara Sungai Brantas secara presisi. Mereka tidak langsung mengajarkan syariat Islam yang rumit pada tahap awal.

Pendekatan difokuskan pada praktik dzikir untuk menyembuhkan penyakit dan merehabilitasi pemuda dari jerat narkotika. Strategi ini sukses mengintegrasikan masyarakat pinggiran ke dalam narasi nasionalisme.

Ainur Rofiq Al-Amin menyoroti efektivitas metode ini. Ia menilai pendekatan tarekat lokal ini lebih berhasil membentengi masyarakat dari propaganda Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) jika disandingkan dengan program deradikalisasi formal yang dirancang pemerintah.

Ideologi khilafah diposisikan sebagai ancaman mematikan yang diyakini akan menghapuskan Pancasila. Ainur Rofiq menggunakan dalil rasional dan agama untuk mematahkan argumen HTI melalui publikasi seperti Proyek Khilafah HTI Perspektif Kritis (2017).

Narasi radikalisme memang dipatahkan oleh doktrin cinta tanah air yang digaungkan dari pelosok Jombang. Namun, ketika sebuah tarekat mengambil alih tugas ideologis negara di tengah status kemursyidannya yang masih diperdebatkan, apakah instrumen deradikalisasi pemerintah selama ini sudah ditumpulkan taringnya? ***